Dokter Jelaskan Mitos Kucing Bikin Keguguran, Ini Faktanya

CNN Indonesia
Selasa, 18 Agu 2026 16:00 WIB
Ilustrasi. Dokter jelaskan soal mitos kucing bisa bikin keguguran. (istockphoto/undefined undefined)
Jakarta, CNN Indonesia --

Memelihara kucing kerap dikaitkan dengan sulit hamil hingga keguguran. Anggapan ini membuat sebagian orang, terutama perempuan yang sedang merencanakan kehamilan, memilih menjauh dari hewan peliharaan tersebut.

Namun, benarkah kucing bisa menyebabkan keguguran?

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Eka Hospital MT Haryono Sita Ayu Arumi mengatakan kucing bukan penyebab langsung keguguran maupun sulit memiliki anak.

Menurutnya, toksoplasmosis memang perlu diwaspadai selama kehamilan. Namun, risiko tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan sekadar karena seseorang memelihara atau menyentuh kucing.

"Kalau terinfeksi tokso, nanti saat hamil bisa terkena itu. Efeknya bisa kecacatan janin dan keguguran, tapi angkanya kecil. Kalau sulit hamil, enggak," kata Sita dalam keterangannya saat temu media di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (18/8).

Ia menjelaskan, dalam kasus keguguran, terdapat berbagai faktor yang lebih perlu dicurigai. Salah satunya adalah kondisi atau kualitas janin, termasuk faktor genetik. Selain itu, kualitas sperma dan sel telur, infeksi, serta kelainan bawaan juga dapat berperan.

Karena itu, keberadaan kucing di rumah tidak seharusnya langsung dianggap sebagai penyebab keguguran.

Bukan bulu kucing yang menyebabkan keguguran

Salah satu mitos yang masih banyak dipercaya adalah bulu kucing dapat menyebabkan perempuan mandul atau mengalami keguguran.

Faktanya, bulu kucing tidak menyebabkan keguguran maupun kemandulan. Bulu kucing memang dapat memicu alergi atau memperburuk gejala asma pada orang tertentu, tetapi hal tersebut berbeda dengan infeksi toksoplasmosis.

Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Kucing dapat menjadi salah satu inang parasit tersebut dan mengeluarkannya melalui kotoran.

Namun, bukan berarti setiap kucing pasti membawa toksoplasma. Risiko lebih berkaitan dengan kucing yang terinfeksi, terutama yang memiliki akses ke luar rumah dan berpotensi memakan daging mentah atau hewan buruan seperti tikus.

Toksoplasma tidak hanya berasal dari kucing

Penularan toksoplasmosis juga tidak selalu terjadi karena kontak dengan kucing. Seseorang dapat terpapar parasit melalui makanan atau lingkungan yang telah tercemar.

Daging yang tidak dimasak hingga matang, misalnya, dapat menjadi salah satu sumber paparan. Tanah yang terkontaminasi kotoran hewan juga perlu diwaspadai.

Karena itu, menjaga kebersihan dan keamanan makanan menjadi bagian penting dalam mencegah toksoplasmosis, terutama bagi perempuan yang sedang hamil atau merencanakan kehamilan.

Perempuan yang sedang hamil tidak harus memberikan atau menjauhkan kucing peliharaannya. Yang terpenting adalah memastikan hewan dirawat dengan baik dan menjaga kebersihan.

Sita mengatakan, kucing yang sehat dan dirawat dengan baik pada dasarnya tidak perlu menjadi sumber kekhawatiran berlebihan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko toksoplasmosis antara lain:

• Hindari membersihkan kotoran atau pasir kucing selama hamil. Jika memungkinkan, minta bantuan orang lain.

• Gunakan sarung tangan saat berkebun atau menyentuh tanah.

• Cuci tangan dengan sabun setelah memegang hewan dan sebelum makan.

• Hindari memberikan daging mentah kepada kucing.

• Pastikan daging yang dikonsumsi dimasak hingga benar-benar matang.

• Jaga kebersihan area tempat kucing makan, tidur, dan bermain.

"Selain menjaga kebersihan, pemeriksaan kesehatan sebelum dan selama kehamilan juga penting. Dengan demikian, berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi kehamilan dapat diketahui dan ditangani lebih awal," kata dia.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK