Mengapa Perempuan Perlu Lebih Peka pada Sinyal Tubuh

CNN Indonesia
Jumat, 21 Agu 2026 01:06 WIB
Ilustrasi perempuan jogging
Ilustrasi. Perempuan penting peduli pada kesehatan fisik dan mental mereka. (iStock/gradyreese)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, perempuan menjalani peran yang semakin beragam. Bekerja, mengurus keluarga, bersosialisasi, hingga mengejar minat dan hobi menjadi bagian dari keseharian yang harus dijalani secara bersamaan.

Berbagai tuntutan tersebut dapat membuat perempuan lebih rentan mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Karena itu, menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi tubuh, tetapi juga perlu diimbangi dengan upaya merawat kesehatan mental.

Kesadaran terhadap gaya hidup sehat secara menyeluruh atau wellness pun semakin berkembang. Perempuan mulai didorong untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh, termasuk ketika mengalami stres, kelelahan, nyeri, atau membutuhkan waktu untuk beristirahat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tren wellness secara global menunjukkan bahwa perhatian masyarakat terhadap kesehatan semakin luas. Laporan 2024 Global Wellness Economy Monitor dari Global Wellness Institute (GWI) mencatat ekonomi wellness global mencapai US$6,3 triliun pada 2023 dan diproyeksikan mendekati US$9 triliun pada 2028.

Sementara itu, Worldwide Survey of Fitness Trends 2026 dari American College of Sports Medicine (ACSM) menempatkan Exercise for Mental Health atau olahraga untuk kesehatan mental di peringkat keenam.

Hal tersebut menunjukkan bahwa olahraga kini tidak hanya dipandang sebagai cara untuk menjaga kebugaran atau penampilan fisik. Aktivitas fisik juga semakin dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam mengelola stres dan menjaga kesehatan mental.

Bagi perempuan yang memiliki aktivitas padat, olahraga dapat menjadi salah satu cara untuk tetap aktif sekaligus memberikan ruang bagi diri sendiri. Namun, aktivitas fisik juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan dilakukan secara seimbang agar tidak justru menambah beban fisik.

Selain olahraga, kegiatan yang bersifat kreatif dan menyenangkan juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan diri. Melakukan aktivitas seni, misalnya, dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan mengalihkan perhatian dari tekanan sehari-hari.

Penelitian dari Drexel University yang dikutip dalam kegiatan Patchtastic Day 2026 menunjukkan aktivitas seni selama 45 menit berkaitan dengan penurunan kadar kortisol pada sebagian besar peserta. Kortisol merupakan hormon yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres.

Meski demikian, aktivitas kreatif bukan pengganti penanganan profesional ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental. Kegiatan tersebut lebih tepat dipandang sebagai salah satu bentuk rekreasi dan perawatan diri.

Jangan abaikan sinyal tubuh

Kesibukan sering membuat seseorang terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. Kondisi ini juga dapat dialami perempuan yang menjalankan banyak peran dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, merawat diri bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi justru dapat membantu seseorang kembali menjalani aktivitas dengan kondisi yang lebih baik.

Perawatan diri dapat dilakukan dengan berbagai cara sederhana, mulai dari tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, rutin bergerak, melakukan aktivitas yang disukai, hingga menyediakan waktu untuk bersosialisasi.

Hal yang tidak kalah penting adalah mengenali batas kemampuan tubuh. Rasa lelah yang terus-menerus, gangguan tidur, perubahan suasana hati, atau nyeri yang menetap sebaiknya tidak diabaikan.

Jika keluhan mengganggu aktivitas sehari-hari atau berlangsung terus-menerus, pemeriksaan kepada tenaga kesehatan dapat dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.

Merawat diri lewat aktivitas yang menyenangkan

Kesadaran mengenai pentingnya keseimbangan kesehatan fisik dan mental juga menjadi perhatian dalam kegiatan Patchtastic Day 2026 yang digelar Salonpas Pain Relief Patch melalui gerakan sosial #ShareTheComfort.

Mengusung tema "Bringing Comfort Closer to You", kegiatan tersebut mengajak perempuan menyediakan ruang untuk merawat diri sekaligus berbagi kenyamanan dengan orang-orang di sekitarnya.

Ira Guci, Product Manager Salonpas Pain Relief Patch, menyebut perempuan sering kali menjadi sumber kenyamanan bagi orang lain, tetapi lupa menyediakan waktu untuk merawat dirinya sendiri.

"Kami percaya bahwa kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Kami ingin menghadirkan ruang nyaman bagi perempuan untuk melepaskan penat, memulihkan energi, dan kembali terhubung dengan komunitasnya. Kami ingin kenyamanan ini berkembang menjadi rantai kebaikan yang saling menguatkan," kata dia dalam keterangannya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Patchtastic Day menghadirkan perpaduan aktivitas olahraga dan kegiatan kreatif. Peserta dapat mengikuti sejumlah kelas olahraga seperti Pound Fit, Zumba, dan yoga, sebelum melanjutkan dengan berbagai kegiatan seni.

Pilihan kegiatan kreatif yang tersedia antara lain membuat gelang manik-manik, menghias gantungan tas, membuat gantungan kunci tumbler, membuat boneka kain, hingga membuat gantungan kunci akrilik.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman wellness yang tidak hanya berfokus pada aktivitas fisik, tetapi juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk berkreasi dan bersosialisasi. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan tersebut menargetkan partisipasi sekitar 1.800 hingga 2.000 peserta.

Bagi perempuan yang menjalani banyak peran, menjaga kesehatan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak aktivitas yang dapat dilakukan. Kemampuan mengenali kebutuhan tubuh, mengelola tekanan, menyediakan waktu untuk beristirahat, dan melakukan aktivitas yang menyenangkan juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup.

(tis/tis)
placeholder