Perempuan Ini Kesulitan Berjalan Gegara Diet Air Putih Selama 2 Minggu

CNN Indonesia
Rabu, 26 Agu 2026 12:00 WIB
Ilustrasi. Seorang perempuan di China alami kesulitan berjalan setelah 15 hari hanya minum air putih. Tren 'bigu' di China jadi salah satu pemicunya. (iStockphoto/fizkes)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang perempuan berusia 31 tahun asal China, tepatnya di Provinsi Henan, mengalami kesulitan berjalan dan penurunan daya ingat setelah melakukan diet air putih selama 15 hari berturut-turut.

Diet ekstrem perempuan dengan tinggi badan 160 cm ini memang berhasil menurunkan berat badan hingga 20 kg dari sebelumnya 70 kg. Namun ada hal yang harus dibayar atas 'keberhasilan' ini.

Kondisinya kini dikaitkan dengan kerusakan otak serius yang mungkin tidak sepenuhnya pulih. Kasus ini pun menjadi sorotan karena tren diet air putih makin populer di media sosial China.

Didiagnosis alami Wernicke's encephalopathy

Menurut ahli neurologi Sun Guifang dari The First Affiliated Hospital of Zhengzhou University, perempuan tersebut didiagnosis mengalami Wernicke's encephalopathy.

Seperti diberitakan South China Morning Post (SCMP), Ini merupakan kondisi gangguan otak berat akibat kekurangan vitamin penting dan asam folat.

Penyakit ini dapat memicu kebingungan, gangguan keseimbangan saat berjalan, kelainan gerak mata, hingga penurunan daya ingat. Sun bahkan menyebut cara berjalan pasien itu mirip penguin, dan gejala tersebut bisa saja menetap dalam jangka panjang.

Sun menegaskan, tubuh manusia membutuhkan asupan makanan teratur untuk mendapatkan nutrisi yang diperlukan. Oleh karena itu, diet ekstrem dan puasa berlebihan sama-sama berbahaya bagi kesehatan.

Adapun menurut Medical News Today, diet air putih atau water fasting sebaiknya tidak berlangsung lebih dari 24 jam. Adapun rekomendasi jumlah air yang dikonsumsi, yakni sekitar 2-3 liter, terutama yang mengandung mineral.

Kepada dokter, sang perempuan yang melakukan diet ekstrem ini mengaku sedang mempraktikkan bigu. Ini merupakan metode puasa Taoisme yang diyakini dapat membawa pencerahan spiritual dengan hanya mengandalkan qi atau energi vital.

Secara harfiah, bigu berarti "menghindari biji-bijian" dan dipercaya sudah ada sejak sebelum Dinasti Qin (221-206 SM). Meski begitu, praktik ini sering disalahartikan sebagai metode penurunan berat badan cepat.

Di sisi lain, pakar gizi modern menganjurkan pola makan lebih sehat untuk menurunkan berat badan, seperti makanan minim olahan, rendah gula dan lemak, serta tinggi protein.

Gara-gara tren 'bigu' di media sosial

Diet ekstrem oleh perempuan yang tak mau disebutkan namanya itu, tak lepas dari popularitas bigu di media sosial China. Pada salah satu platform populer, tagar #bigu disebut sudah ditonton 360 juta kali dan memunculkan 2,4 juta percakapan.

Banyak pengguna membagikan pengalaman berat badannya turun lebih dari 10 kg setelah sebulan hanya minum air dan mengonsumsi suplemen vitamin.

Ada pula konten yang mendorong praktisi bigu untuk 'mengisi qi' lewat meditasi di tempat yang memiliki sirkulasi udara baik. Sayangnya, di balik klaim-klaim tersebut, banyak laporan menunjukkan dampak kesehatan yang jauh lebih berbahaya.

SCMP mencatat, pada 2020 pernah terjadi kasus fatal. Seorang pria 26 tahun di Heilongjiang China meninggal setelah 52 hari hanya minum air putih. Ia mengalami gejala mirip demensia dua hari sebelum wafat.

Adapun pada 2025, seorang perempuan di Zhejiang memang turun 5 kilogram dalam sepekan dengan hanya minum air dan mengonsumsi pil energi. Namun ususnya rusak parah hingga terkena infeksi aliran darah dan hipokalemia atau kondisi kekurangan kalium.

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK