Jejak Pergeseran Pusat Ekonomi Batavia dari Kota Tua ke Pasar Baru
Kota Tua kerap menjadi tempat pertama yang terlintas saat membicarakan pusat ekonomi Jakarta di masa lampau. Sejarah kawasan ini berakar sejak 1526 ketika Fatahillah merebut Sunda Kelapa dan mengubah namanya menjadi Jayakarta, sebelum VOC mendirikan Batavia di atas reruntuhannya pada 1619-1620.
Namun, pusat kehidupan dan roda perekonomian pada era kolonial tersebut perlahan bergeser ke arah selatan, hingga melahirkan kawasan niaga baru yang kini dikenal sebagai Pasar Baru.
Melansir laman resmi Dispusip Jakarta, perubahan besar melanda Batavia pada awal abad ke-19. Kawasan utara mulai terpuruk akibat krisis lingkungan dan sanitasi buruk yang memicu berbagai ancaman kesehatan. Pemerintah kolonial kemudian menilai wilayah selatan jauh lebih sehat dan ideal untuk dikembangkan.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, pusat pemerintahan resmi dipindahkan ke kawasan Weltevreden-yang saat ini mencakup wilayah Gambir, Lapangan Banteng, dan sekitarnya.
Kepindahan ini tak hanya mengubah peta administrasi dan militer, tetapi juga menarik aktivitas perdagangan dan pemukiman warga ke wilayah selatan.
Seiring pesatnya pertumbuhan Weltevreden sebagai kawasan pemukiman elite, Pasar Baru didirikan pada 1820 untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat setempat.
Penamaan "Pasar Baru" atau Passer Baroe merujuk pada keberadaannya yang dibangun setelah pasar-pasar pendahulunya, seperti Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang.
Berada di lokasi yang sangat strategis, Pasar Baru berkembang pesat menjadi pusat perbelanjaan bergengsi pada abad ke-19, khususnya bagi warga Eropa yang bermukim di sekitar Weltevreden dan Rijswijk.
Pertumbuhan komersial di kawasan ini turut diwarnai akulturasi pedagang lintas etnis, mulai dari pedagang pribumi, Tionghoa, hingga India.
Memasuki tahun 1930, Pasar Baru makin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu denyut utama perekonomian Batavia. Aktivitas transaksi di kawasan ini kian sibuk karena letaknya yang berdekatan dengan hunian kelas atas.
Kini, meski wajah Pasar Baru telah beradaptasi dengan modernisasi Jakarta, deretan bangunan tua dan pertokoannya tetap berdiri kokoh.
Kawasan ini bukan sekadar destinasi berbelanja, melainkan saksi bisu sejarah pergeseran denyut ekonomi Batavia dari pesisir utara menuju Weltevreden hingga menjelma menjadi Jakarta modern seperti sekarang.
(dsd/wiw)