Minum Urine saat Terjebak di Laut, Apa yang Terjadi pada Tubuh?

CNN Indonesia
Kamis, 27 Agu 2026 18:30 WIB
Minum air urine jadi salah satu cara nelayan asal Ternate, Esau Sidemo, bertahan hidup saat terjebak di tengah laut selama 26 hari.
Ilustrasi. Minum air urine jadi salah satu cara nelayan asal Ternate, Esau Sidemo, bertahan hidup saat terjebak di tengah laut selama 26 hari. (iStockphoto/bluecinema)

Kenapa air laut juga bukan pilihan?

Dalam kondisi terdampar di laut, seseorang bisa saja berpikir bahwa air laut dan urine sama-sama cairan sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan rasa haus. Padahal, keduanya justru dapat memperburuk keadaan.

Peneliti bahkan membandingkan kondisi tersebut dengan meminum cairan yang sangat tinggi kandungan zat terlarutnya. Ketika seseorang mengalami dehidrasi, urine menjadi semakin pekat. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Air laut juga memiliki kadar garam yang sangat tinggi sehingga ginjal tidak dapat membuang seluruh garam tersebut tanpa kehilangan air dalam prosesnya. Karenanya, meminum air laut untuk mengatasi rasa haus justru dapat memperparah dehidrasi.

Meminum sedikit urine sendiri secara tidak sengaja tidak serta-merta berarti seseorang akan mengalami keracunan atau kerusakan ginjal.

Konsumsi urine dalam jumlah kecil secara tidak sengaja umumnya tidak menyebabkan masalah serius. Meski begitu, urine tetap tidak dianjurkan untuk diminum karena mengandung produk sisa metabolisme dan dapat mengandung bakteri. 

Risiko menjadi lebih serius ketika seseorang sengaja meminum urine berulang kali, terutama dalam kondisi sudah mengalami dehidrasi dan tidak memiliki sumber air lain. Dalam kondisi tersebut, tubuh membutuhkan air bebas, bukan sekadar cairan yang juga membawa kembali zat-zat yang sedang berusaha dikeluarkan oleh ginjal.

Kalau ditanya, berapa hari orang bertahan dengan minum urine? Tidak ada angka pasti yang bisa digunakan untuk mengatakan seseorang dapat bertahan hidup selama sekian hari hanya dengan meminum urine.

Kemampuan seseorang bertahan hidup sangat bergantung pada kondisi tubuh, suhu lingkungan, aktivitas fisik, jumlah cairan yang hilang, akses terhadap air hujan atau sumber cairan lain, serta kondisi medisnya.

(anm/asr)

HALAMAN:
1 2