Cerita Wanita Terkena Kanker Limfoma, Awalnya Dikira Asam Lambung

CNN Indonesia
Kamis, 27 Agu 2026 17:45 WIB
Ilustrasi. Gejala kanker kelenjar getah bening bisa menyerupai keluhan asam lambung. (iStock/torwai)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mulanya, Naya Nika Mulyani (30) hanya mengira dirinya terkena asam lambung. Tapi siapa sangka, rangkaian gejala yang dialaminya ternyata mengarah ke diagnosis kanker kelenjar getah bening atau limfoma stadium 4.

"Ketahuan kanker karena benjolan? Yup, itu cerita aku. Hai, aku Naya Nika. Cancer Survivor Lymphoma Stadium 4 yang sudah metastase ke otak," katanya seperti yang dikutip dari unggahan akun Instagram milik pribadinya, Rabu (26/8). CNNIndonesia.com telah meminta izin untuk mengutip unggahan tersebut.

Keluhan benjolan yang muncul itu disertai oleh gejala lain seperti nyeri punggung hingga ulu hati serta kesulitan bernapas.

"Jadi waktu itu, gejala itu [benjolan] disertai nyeri punggung sampai ulu hati, dan susah napas, yang aku waktu itu pikir itu adalah asam lambung," tuturnya.

Selain itu, Naya mengaku sering berkeringat pada malam hari dan lebih mudah merasa lelah.

"Nah, ketika malam, aku tuh sering keringetan. Dan, aku juga gampang kecapekan. Jujur, aku tuh enggak pernah berpikir kalau itu kanker," katanya.

Diagnosis tersebut menjadi pukulan besar bagi Naya. Ia merasa sudah menjalani gaya hidup yang cukup sehat sehingga tidak pernah menyangka akan terkena kanker.

"Karena, lifestyle aku tuh cukup baik. Aku olahraga, makan aku juga terjaga, aku enggak ngerokok, aku enggak minum, aku juga jarang begadang. Jadi, ketika aku di-diagnose kanker, jujur, dunia aku hancur," ujarnya.

Naya sendiri merupakan seorang penyintas limfoma. Naya didiagnosis limfoma pada 2024 lalu.

Kini, pada 2026, kondisinya sudah membaik. Ia berbagi cerita mengenai perjuangannya sebagai penyintas limfoma.

Apa itu limfoma?

Limfoma merupakan kanker yang berasal dari limfosit, salah satu jenis sel darah putih yang menjadi bagian dari sistem kekebalan tubuh. Mengutip National Cancer Institute (NCI), limfoma secara umum terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin.

Kanker ini tidak hanya dapat muncul di kelenjar getah bening. Limfoma juga bisa berkembang di jaringan atau organ lain di luar kelenjar getah bening, termasuk saluran pencernaan.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa gejala limfoma bisa sangat beragam. Keluhannya juga tidak selalu langsung mengarah pada kanker.

Benarkah limfoma bisa dikira asam lambung?

Kondisi ini dikenal sebagai primary gastric lymphoma, yakni limfoma yang terutama berkembang di lambung. Sejumlah kajian mengenai kondisi tersebut menunjukkan bahwa gejala awalnya cenderung tidak spesifik dan dapat menyerupai berbagai gangguan pencernaan.

Ulasan mengenai gastric MALT lymphoma juga mencatat sejumlah keluhan seperti dispepsia, nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati, kembung, serta heartburn atau rasa panas di dada dan ulu hati. Keluhan-keluhan tersebut memang memiliki kemiripan dengan apa yang sehari-hari kerap disebut sebagai asam lambung.

Karena itu, seseorang yang mengalami nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati belum tentu mengalami limfoma. Sebaliknya, keluhan tersebut juga tidak bisa langsung dianggap sebagai masalah asam lambung tanpa melihat kondisi secara keseluruhan.

Ketika limfoma tumbuh di jaringan lambung, perubahan yang terjadi pada dinding atau lapisan lambung dapat menimbulkan berbagai keluhan saluran pencernaan. Akibatnya, gejalanya bisa terasa seperti gangguan lambung yang lebih umum.

Kisah Naya tidak berarti setiap orang yang mengalami nyeri ulu hati atau gangguan pencernaan harus mencurigai kanker. Keluhan seperti nyeri ulu hati, mual, kembung, atau rasa panas di dada sangat umum dan dapat disebabkan berbagai kondisi.

Yang perlu diperhatikan adalah keluhan yang menetap, semakin berat, muncul bersama gejala lain yang tidak biasa, atau tidak kunjung membaik. Terlebih jika terdapat benjolan yang tidak biasa, keringat malam, mudah lelah, atau penurunan berat badan yang tidak direncanakan. Pada kondisi seperti itu, pemeriksaan medis penting dilakukan agar penyebabnya dapat diketahui dengan tepat.

(anm/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK