Berat Badan Berlebih Bikin Lutut Lebih Cepat Aus

CNN Indonesia
Sabtu, 29 Agu 2026 20:48 WIB
Closeup shot of an unrecognizable man holding his knee in pain while exercising outdoors
Ilustrasi. Obesitas juga bisa bikin masalah pada lutut dan persendian. (iStockphoto/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia --

Obesitas bukan hanya berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik. Berat badan berlebih juga dapat membuat lutut bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko osteoartritis (OA) lutut, kondisi kronis yang dapat mengganggu mobilitas hingga aktivitas sehari-hari.

Setiap kali seseorang berdiri, berjalan, atau bergerak, lutut menopang beban tubuh. Pada orang dengan obesitas, tekanan yang diterima sendi tentu menjadi lebih besar. Namun, persoalannya tak berhenti pada beban mekanis. Jaringan lemak juga dapat menghasilkan berbagai faktor proinflamasi yang turut memengaruhi kesehatan sendi.

Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi Ihsan Oesman mengatakan OA lutut merupakan kondisi kronis yang berkembang secara bertahap. Pada orang dengan obesitas, risiko terjadinya hingga perburukan OA lutut dapat dipengaruhi oleh kombinasi beban mekanis yang lebih besar pada sendi dan faktor biologis yang berkaitan dengan jaringan lemak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pengelolaan berat badan yang tepat dan komprehensif merupakan bagian penting dalam membantu mengurangi beban pada sendi lutut," ujar Ihsan dalam keterangannya, saat diskusi media yang digelar Novo Nordisk Indonesia bersama sejumlah pakar kesehatan.

Ihsan menjelaskan, perubahan pola makan, latihan fisik yang sesuai, dan perubahan perilaku menjadi fondasi penting dalam pengelolaan berat badan. Namun, upaya tersebut tidak selalu mudah dilakukan oleh orang dengan obesitas.

Nyeri lutut dan keterbatasan gerak, misalnya, dapat membuat seseorang kesulitan untuk tetap aktif. Di sisi lain, rasa lapar atau dorongan untuk makan yang terus berulang juga dapat menjadi tantangan saat seseorang berusaha mengubah pola makan.

"Karena obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks, pada sebagian individu dengan obesitas, perubahan gaya hidup saja mungkin belum memberikan hasil yang memadai," katanya.

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan dukungan medis, termasuk farmakoterapi untuk manajemen berat badan, dengan mempertimbangkan indikasi, kondisi klinis, dan kebutuhan masing-masing pasien.

Turun 10 persen bisa bantu redakan gejala

Pengelolaan berat badan dapat menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan komprehensif untuk membantu mengurangi gejala OA lutut. Penurunan berat badan sekitar 10 persen disebut dapat memberikan perbaikan gejala yang bermakna pada sebagian orang dengan obesitas dan OA lutut.

Salah satu temuan tersebut terlihat dalam studi selama 16 minggu yang melibatkan 175 perempuan lanjut usia dengan obesitas dan OA lutut. Mayoritas peserta berhasil menurunkan berat badan lebih dari 10 persen. Sebanyak 64 persen peserta mengalami perbaikan gejala yang bermakna, termasuk pada nyeri dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Bukti lainnya datang dari uji klinis STEP OA yang menunjukkan penanganan obesitas berbasis terapi GLP-1 menghasilkan penurunan signifikan pada skor nyeri lutut berdasarkan WOMAC pain score, serta perbaikan fungsi fisik sehari-hari dibandingkan plasebo.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan berat badan dapat menjadi salah satu bagian dari upaya membantu mengurangi gejala dan meningkatkan fungsi fisik pada orang dengan obesitas dan OA lutut.

Meski demikian, penanganan OA tetap perlu dilakukan secara menyeluruh dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien berdasarkan rekomendasi dokter. Sejumlah pedoman klinis internasional juga menempatkan edukasi, pengelolaan berat badan, dan latihan fisik sebagai bagian penting dalam penanganan OA lutut.

Dokter spesialis kedokteran olahraga, Andhika Raspati mengingatkan bahwa keberhasilan pengelolaan berat badan tidak seharusnya hanya dilihat dari turunnya angka di timbangan. Fokus juga perlu diberikan pada upaya menurunkan massa lemak sambil mempertahankan massa otot.

Penurunan berat badan yang hanya mengandalkan pembatasan makanan tanpa diimbangi latihan fisik berisiko menyebabkan massa otot ikut berkurang. Kondisi ini dapat menurunkan kebugaran dan meningkatkan risiko berat badan kembali naik atau efek yo-yo.

"Karena itu, kombinasi latihan kardio untuk membantu meningkatkan pembakaran kalori dan latihan kekuatan untuk mempertahankan massa otot menjadi bagian penting dalam program pengelolaan berat badan," kata dia.

Bagi orang dengan obesitas dan OA lutut, aktivitas fisik sebaiknya dimulai dari latihan berdampak rendah atau low-impact dengan intensitas ringan. Intensitas latihan kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap dengan prinsip start low, go slow.

Latihan aerobik secara umum dapat dilakukan sekitar 30 menit per hari selama lima hari dalam seminggu atau total 150 menit per minggu. Durasi aktivitas dapat ditingkatkan secara bertahap hingga sekitar 250-300 menit per minggu untuk mendukung penurunan berat badan.

"Sementara itu, latihan kekuatan dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu dengan peningkatan beban secara bertahap sesuai kemampuan," kata dia.

(tis/tis)
placeholder