CNN INDEPTH

Bahaya Tak Bernama, Grooming Datang sebagai Kepercayaan

Roni Satria | CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 10:00 WIB
A woman's hands in front of her face.
Ilustrasi child grooming. (Istockphoto/Markgoddard)

Ketika kendali berpindah lagi

Didengar saja belum cukup. Setelah itu, anak masih harus melewati proses yang panjang. Ahmad menggambarkan 24 hingga 72 jam pertama setelah kasus terungkap sebagai waktu ketika terlalu banyak hal harus berjalan bersamaan.

Anak harus dibuat aman. Kontak dengan pelaku dihentikan. Bukti digital dijaga. Dukungan psikologis mungkin dibutuhkan. Sekolah tetap harus berjalan. Keluarga perlu memahami konsekuensi jika perkara dilaporkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu datang pertanyaan yang terdengar administratif tetapi menentukan hidup seorang korban: siapa mengerjakan apa?

Indonesia sebenarnya punya banyak pintu layanan. Masalah, kata Ahmad, muncul ketika seorang anak berpindah dari pintu pertama ke pintu berikutnya.

"Siapa yang memastikan anak tidak hilang setelah melewati pintu pertama?" kata dia.

Sebuah laporan pidana bisa terus berjalan ketika terapi sudah berhenti. Konten bisa dihapus sebelum bukti diamankan. Anak mendapat asesmen awal, lalu beberapa bulan kemudian tidak ada lagi yang tahu bagaimana ia tidur, sekolah, berteman, atau menghadapi ketakutan. 

Ahmad merujuk evaluasi program penanganan eksploitasi seksual anak daring di Indonesia. Penanganan, lanjut dia, menjadi lebih terhubung ketika layanan memakai asesmen dan jalur rujukan yang sama, disertai konferensi kasus dan kordinator kasus. Waktu respons menjadi lebih pendek dan risiko anak terlepas dari sistem perlindungan ikut berkurang.

Tetapi, evaluasi yang sama menemukan batasnya. Kanal pelaporan masih tidak selalu diingat, kapasitas layanan berbeda-beda, sementara sumber daya dan keberlanjutan anggaran di tingkat lokal tetap menjadi persoalan.

Artinya, bantuan bisa bekerja pada satu tahap, tetapi anak masih bisa tersendat di tahap berikutnya. 

Sebagai akibatnya, Wakil Ketua LPSK Sri Nurherwati melihat pemulihan menjadi sangat inidivual.

Dalam praktiknya, korban atau keluarga bisa lelah, takut, atau kehilangan kepercayaan pada proses. Ada yang mencabut laporan, berdamai, atau berhenti menerima layanan. Kondisinya semakin berat ketika pelaku adalah orang dekat atau punya kuasa terhadap keluarga.

Setelah kasus diketahui, orang-orang yang ingin menyelamatkannya kerap mengambil seluruh kendali itu sekaligus.

Telepon disita. Sekolah dipindahkan. Pertemanan dibatasi. Anak ditanya lagi, lalu ditanya lagi oleh orang berikutnya.

Semuanya dilakukan karena orang dewasa ingin membuatnya aman. Tetapi bagi anak, kata Ahmad, pengalaman itu bisa terasa seperti dirinya yang sedang dihukum.

Ada satu hal lagi yang sering mengejutkan keluarga. Anak bisa merindukan, bahkan membela, orang yang telah menyakitinya. Itu jadi ukuran seberapa jauh grooming sudah bekerja.

Keluar dari grooming tidak selalu berarti keluar dari keterikatan yang dibangun grooming. Yang harus dipulihkan bukan cuma jarak dari pelaku. Tapi juga waktu, yang jadi tolok ukur keberhasilan.

"Kalau enam bulan kemudian tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana kondisi anak," katanya, "maka secara substansial sistem belum dapat mengatakan bahwa pemulihan telah selesai."

Sebelum anak harus mengenalinya sendiri

Selama bertahun-tahun, pesan keselamatan digital bertumpu pada satu aktor utama: anak.

Hati-hati. Jangan bicara dengan orang asing. Jangan kirim foto. Block. Report. Beri tahu orang tua.

Semua itu tetap penting. Tetapi Indriyatno memperingatkan bahwa menjadikan literasi sebagai pertahanan utama dapat secara halus memindahkan tanggung jawab dari sistem kepada anak dan keluarganya.

"Literasi digital adalah salah satu lapisan pertahanan," katanya, "bukan mekanisme untuk memindahkan tanggung jawab platform kepada anak dan orang tua."

Age restriction bukan benteng. Parental control bisa membantu, tetapi pengawasan diam-diam juga bisa menggerus kepercayaan yang justru dibutuhkan anak untuk bicara. Block menghentikan satu akun, bukan seseorang yang bisa membuat akun baru dalam dua menit.

Maka, perlindungan harus bergerak lebih awal.

Yang menarik, pemikiran serupa kini datang dari arah yang tidak terduga.

Dalam respons tertulis kepada CNNIndonesia, Roblox mengakui satu asumsi yang sedang mereka tinggalkan. Perilaku berbahaya tidak selalu bisa dikenali dari satu pesan. Sebuah percakapan dapat bermula biasa saja dan berubah perlahan.

Karena itu, perusahaan mengembangkan Sentinel, sistem AI yang membaca pola perilaku dalam rentang waktu lebih panjang, bukan potongan konten. Roblox juga menggunakan kombinasi AI dan peninjau manusia untuk moderasi, serta menyebut sinyal tertentu dapat diteruskan ke tim investigasi.

Hal di atas menjadi bukti bahwa platform besar melihat persoalan yang sama lewat logika sistem.

Pemerintah ingin kemampuan semacam itu bergerak lebih jauh. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, platform perlu semakin mampu mengenali kontak yang tidak wajar, upaya memindahkan percakapan ke ruang privat, dan pola lain yang menunjukkan risiko sedang meningkat.

"Kecanggihan algoritma jangan hanya digunakan untuk mengetahui apa yang membuat anak semakin lama berada di platform, tetapi juga untuk mengenali ketika seorang anak sedang berada dalam risiko," katanya.

ilustrasi anak main HP, Dampak AI ke anak, Kecerdasan buatan dan anak.Ilustrasi child grooming. (iStockphoto)

Tetapi mengenali pola bukan hal yang sama dengan mencegah kerugian. Roblox memaparkan performa teknis model estimasi usia mereka, termasuk evaluasi konsistensi prediksi dan pembanding dari peninjau manusia.

Angka-angka itu menunjukkan sebuah sistem bekerja sebagaimana dirancang. Belum menunjukkan lebih sedikit anak mengalami grooming.

Indriyatno menilai pertanyaannya harus bergerak ke hasil. Jumlah fitur keselamatan bukan ukuran keselamatan.

Indonesia kini punya PP TUNAS dan aturan turunannya yang mewajibkan platform menilai risiko produk dan layanannya terhadap anak. Ahmad menyebut ini perkembangan penting. Ia juga melihat pekerjaan yang jauh lebih sulit baru saja dimulai.

"Sekarang tantangannya bergeser dari 'apakah kita mempunyai regulasi?' menjadi 'apakah kita mampu menguji apakah regulasi itu benar-benar bekerja?'," ujarnya.

Pemerintah mengatakan, PP TUNAS memang tidak berhenti pada penilaian mandiri platform. Meutya menjelaskan, Komdigi akan memverifikasi profil risiko yang diserahkan perusahaan, dan hasilnya dapat berbeda dari penilaian awal platform.

Pengawasan itu, kata dia, harus berorientasi pada praktik, bukan berhenti pada dokumen.

Tetapi, bahkan verifikasi bukan ukuran akhirnya.

"Ukuran akhirnya adalah apakah risiko yang dihadapi anak di ruang digital benar-benar berkurang," kata Meutya.

Setelah itu, barulah angka yang lebih sulit ditanyakan. Apakah semakin sedikit anak berhasil dihubungi akun dewasa yang tidak dikenal. Apakah laporan lebih cepat ditindaklanjuti. Apakah kasus eksploitasi seksual anak daring turun.

Karena kalau yang dihitung hanya akun yang dibatasi, laporan yang masuk dan fitur baru yang diluncurkan, sistem masih sedang menghitung pekerjaannya sendiri. Belum keselamatan anak.

Pengujian itu juga punya batas yang lain. Sistem yang mencoba membaca risiko tidak boleh berubah menjadi pengawasan massal terhadap anak. Indriyatno menilai, data yang dikumpulkan harus seminimal mungkin, keputusan penting tetap melibatkan peninjauan manusia dan anak harus punya jalan untuk menggugat ketika sistem salah membaca dirinya.

Perlindungan yang mengambil seluruh privasi dan pilihan anak akan menciptakan ironi baru dari masalah yang sejak awal adalah tentang hilangnya kendali.

Yang tidak masuk ke dasbor

Ilustrasi anak sendirianIlustrasi child grooming. (Pixabay/buerserberg)

Sani meyakinkan Bunga bahwa ia adalah korban. Orang tuanya tidak memarahinya. Ia menulis di buku harian, belajar menenangkan diri, dan perlahan mulai bicara lebih terbuka.

Dua tahun kemudian, setelah air matanya jatuh lagi saat mengingat kejadian itu, Bunga menggambarkan kondisinya sekarang dengan sederhana.

"Jauh lebih baik. Lebih lega."

Pengalaman Bunga tentu tidak bisa menjadi ukuran bagi semua anak. Yang jelas, pulih di sini bukan sekedar berhenti berhubungan dengan pelaku.

"Grooming bekerja dengan mengambil alih kepercayaan dan kendali anak, maka pemulihan harus bekerja dengan mengembalikan keduanya," ujar Ahmad.

Selama ini, yang paling mudah diukur adalah apa yang dilakukan sistem. Tapi, pemulihan pada anak jauh lebih sulit diukur.

Apakah hidup anak terasa kembali menjadi miliknya sendiri? Tak ada yang bisa mengukurnya.

(asr/asr)

HALAMAN:
1 2