CNN INDEPTH

Bahaya Tak Bernama, Grooming Datang sebagai Kepercayaan

Roni Satria | CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 10:00 WIB
Ilustrasi child grooming. (Istockphoto/Markgoddard)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dua tahun lalu, ketika Bunga (bukan nama sebenarnya) masih berusia 16 tahun, niatnya cuma satu saat bermain media sosial: mencari teman. Tapi siapa sangka, upaya mencari teman itu berujung nestapa.

Di sebuah aplikasi ia berkenalan dengan seorang laki-laki dewasa. Mereka bertukar nama, umur dan hal-hal kecil yang biasa ditukar dalam perkenalan. Bunga tidak memberikan alamatnya. Ia merasa sudah cukup berhati-hati. Percakapannya sendiri terasa biasa saja.

"Ngobrol apa aja, nyambung," kata Bunga. "Enggak ada yang jahat atau aneh."

Lihat Juga :

Percakapan lalu berpindah ke WhatsApp. Di sana bahasannya berubah pelan-pelan. Mula-mula nada yang membuat tidak nyaman hingga permintaan foto bagian dada dan leher. Bunga menolak. Laki-laki itu terus mendesak, lalu mengancam akan memviralkan percakapan mereka.

Ancaman itu berlangsung tiga sampai empat hari.

"Takut. Enggak bisa ngapa-ngapain juga. Rasanya pengin nangis," kata Bunga beberapa waktu lalu.

Kini Bunga 18 tahun. Ketika mengulang cerita itu dalam wawancara, ia duduk bersama psikolog yang mendampinginya sejak kejadian.

Dua tahun sudah berlalu. Tetapi di satu bagian percakapan, air matanya kembali jatuh.

Tubuhnya sudah lama keluar dari situasi itu. Tapi, ingatannya belum sepenuhnya pergi.

Yang paling sulit dipahami bukan perbuatan pelaku. Orang tua Bunga mengaku sebenarnya telah mengajarkan anaknya untuk berhati-hati terhadap perilaku seksual. Mereka mengira bekal itu akan membuatnya mengenali bahaya.

Bekal itu ada. Namun, bahayanya datang tidak seperti yang mereka bayangkan. Ia datang sebagai teman bicara.

Dan, di situlah asumsi paling dasar dalam perlindungan anak mulai retak. Beban untuk tahu kapan sebuah hubungan berubah menjadi ancaman masih terlalu sering diletakkan pada anak.

Bahaya yang terasa aman

Sani Budiantini tahu mengapa awal cerita Bunga terdengar begitu biasa. Psikolog anak, remaja dan keluarga yang mendampingi Bunga itu mengatakan, anak sering membaca orang lain dengan ukuran dirinya sendiri.

"Anak itu, kan, seringkali memang jujur apa adanya," ujarnya.

Maka seseorang yang berbicara sopan, mendengarkan keluh kesah, memberi pujian dan terus hadir bisa terlihat tulus. Anak merasa didengar. Dihargai. Aman.

Rasa aman itulah pintunya.

Pendiri ECPAT Indonesia Ahmad Sofian menemukan pola serupa dalam kasus-kasus yang ditangani lembaganya. Menurutnya pelaku tidak selalu mencari anak yang tampak rentan. Kesepian saja bisa cukup. Konflik dengan orang tua bisa menjadi celah.

Begitu pula kebutuhan mendapat pengakuan, masalah di sekolah, keinginan punya teman, atau sekadar kesenangan karena ada seseorang yang selalu membalas pesan.

Setelah kepercayaan terbentuk, batas digeser sedikit demi sedikit. Percakapan mulai menyentuh tubuh, pacaran, seksualitas. Rahasia dibuat. Hubungan diberi kesan istimewa. Tidak selalu ada ancaman di awal.

Ahmad menyebut, kasih sayang yang sudah dimanipulasi kadang menjadi alat kontrol yang lebih kuat daripada ancaman.

"Grooming bukan terutama sebagai urutan pesan, tetapi sebagai proses membangun kekuasaan atas anak melalui sebuah relasi," katanya.

Gambaran tentang predator yang mengintai di internet, kata Ahmad, terlalu sederhana untuk menjelaskan itu. Pelaku yang efektif tidak selalu membuat anak merasa dipaksa. Ia membuat anak merasa memilih.

Pada kisah Bunga, pergeseran itu terjadi dalam satu hubungan. Dalam kasus lain, mekanisme yang sama bisa tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Seorang guru di Lampung Tengah menyamar sebagai remaja untuk bisa masuk ke grup chat murid-muridnya sendiri. Yang membuatnya curiga bukan sebuah laporan, tapi cara anak-anak di kelasnya mulai berbicara.

Di dalam grup itu, percakapan seksual sudah menjadi semacam bahasa bersama. Anak-anak membicarakannya satu sama lain, sementara satu orang dewasa mengarahkan dan merespons.

Kasus eksploitasi seksual terhadap 36 anak sekolah tersebut terbongkar pada 2023 lalu.

Ilustrasi. Pelecehan seksual terhadap anak. (iStock/nicoletaionescu)

Ada satu hal dalam kasus itu yang lebih sulit dicerna daripada jumlah korbannya. Pelaku tidak perlu meyakinkan setiap anak bahwa yang terjadi itu wajar. Ia cukup masuk ke tempat anak-anak merasa sedang bermain bersama teman, lalu membuat percakapan seksual terasa biasa di antara mereka.

Teknologi kemudian memberi kemampuan baru pada proses yang sebenarnya tua ini. Direktur Eksekutif ICT Watch Indriyatno Banyumurti mengatakan, platform memungkinkan seseorang membaca minat anak, lingkungan sosialnya, rutinitas, sekolah, bahkan kondisi emosional yang terbaca dari jejak digital. Perkenalan bisa dimulai di sebuah gim lalu bergeser ke pesan pribadi. Identitas bisa disusun agar terasa dekat dengan dunia anak.

Jika sudah begitu, apalah arti nasihat 'jangan bicara dengan orang asing' dalam kondisi yang sedemikian rupa?

Setelah anak bicara

Pada kejadian Bunga, titik baliknya datang ketika ancaman terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Ia mencari psikolog seperti Sani, bukan orang tuanya.

"Takut dimarahi," kata Bunga.

Dua kata itu adalah pintu masuk ke persoalan yang jauh lebih besar daripada satu keluarga. Sani meminta orang tua Bunga berjanji tidak memarahinya. Mereka mendengarkan cerita anaknya, lalu mengatakan akan berdiri di pihaknya.

"Kami berusaha tidak menyalahkan dan langsung bilang kami ada di posisi anak," kata orang tua Bunga.

Nomor telepon diganti. Akun ditutup. Kontak diputus.

Respons pertama yang diterima anak bisa menentukan apakah ceritanya berlanjut atau berhenti. Jika ia merasa dipercaya, ia mungkin akan terus bercerita. Jika merasa dihakimi, bagian lain dari pengalamannya bisa tetap terkunci, kadang bertahun-tahun.

Ahmad menyebut, anak bisa diam karena malu, merasa ikut bersalah, takut teleponnya disita, khawatir mengecewakan keluarga, bahkan takut kehilangan hubungan dengan pelaku.

"Pertanyaan pertama kepada anak seharusnya bukan 'Kenapa kamu melakukan itu?'," ujar dia.

Menurutnya, respons pertama sebaiknya berfokus pada apa yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan agar anak merasa lebih aman.

Ilustrasi child grooming. (istockphoto/HRAUN)

Persoalannya, banyak anak tidak pernah sampai ke percakapan itu.

Studi Disrupting Harm di Indonesia, yang menggunakan data 2020 hingga 2021, menemukan bahwa angka anak yang tidak bercerita kepada siapa pun berkisar antara 17-56 persen, bergantung pada bentuk pengalaman yang ditanyakan. Mereka cenderung memilih teman atau saudara kandung daripada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya.

Survei Thorn terhadap 1.003 anak usia 9-17 tahun di Amerika Serikat pada 2025 memberi gambaran pembanding, bukan ukuran bagi Indonesia. Anak yang mengalami interaksi seksual daring jauh lebih banyak menggunakan perangkat keselamatan online daripada mencari dukungan offline.

Pada saat paling rentan, anak kadang lebih mudah menekan block atau report daripada mencari bantuan dari orang lain. Tapi, block dan report juga tak jadi jaminan aman.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

Sebelum Bahaya Punya Nama, Grooming Datang sebagai Kepercayaan


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :