Lipedema vs Lemak Biasa, Kenali Perbedaannya

CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 05:00 WIB
Lipedema kerap disangka lemak biasa. Kenali ciri yang membedakannya agar kondisi ini tidak terlambat ditangani.
Ilustrasi. Lipedema kerap disangka lemak biasa. Kenali ciri yang membedakannya agar kondisi ini tidak terlambat ditangani. (istockphoto/Vitalina Nakonechna)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Sudah rutin berolahraga dan mengatur pola makan, tetapi ukuran paha atau betis tak kunjung banyak berubah? Kondisi ini mungkin membuat seseorang merasa usaha menurunkan berat badan tidak membuahkan hasil.

Namun, pembesaran pada bagian tubuh tertentu tidak selalu disebabkan oleh penumpukan lemak biasa. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan lipedema.

Lipedema merupakan kondisi kronis yang ditandai penumpukan jaringan lemak secara tidak normal, terutama pada bagian tubuh seperti bokong, paha, tungkai, dan terkadang lengan. Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada perempuan dan kerap berkaitan dengan perubahan hormonal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena bentuk tubuh pada lipedema sekilas menyerupai kelebihan berat badan, kondisi ini sering tidak dikenali sejak awal.

Apa itu lipedema?

Lipedema adalah gangguan distribusi lemak yang menyebabkan jaringan lemak menumpuk secara tidak proporsional dan umumnya terjadi pada kedua sisi tubuh secara simetris. Kondisi ini dapat muncul atau memburuk ketika terjadi perubahan hormonal, misalnya saat pubertas, kehamilan, atau menopause.

Faktor genetik juga diduga memiliki peran karena lipedema dapat ditemukan pada lebih dari satu anggota keluarga. Berbeda dengan lemak tubuh pada umumnya, jaringan lemak pada lipedema tidak selalu mengalami perubahan yang sama ketika seseorang menurunkan berat badan melalui pola makan dan aktivitas fisik.

Perbedaan lipedema dan lemak biasa

Sekilas, lipedema memang sulit dibedakan dari penumpukan lemak biasa. Namun, ada sejumlah karakteristik yang dapat menjadi petunjuk, yakni sebagai berikut:

1. Penumpukan lemak terjadi secara simetris

Salah satu ciri yang sering ditemukan pada lipedema adalah penumpukan jaringan lemak pada kedua sisi tubuh secara relatif simetris. Bagian bawah tubuh, misalnya paha dan tungkai, dapat terlihat jauh lebih besar dibandingkan tubuh bagian atas.

Pada sebagian orang, perbedaan ukuran tersebut terlihat cukup jelas. Kaki juga biasanya tidak ikut mengalami pembesaran seperti bagian tungkai. Akibatnya, dapat terlihat batas yang cukup tegas antara tungkai yang membesar dan telapak kaki yang relatif normal.

2. Sulit berubah meski berat badan turun

Pada penumpukan lemak biasa, ukuran tubuh umumnya ikut berkurang ketika berat badan turun secara keseluruhan. Sementara itu, jaringan yang terdampak lipedema dapat tetap terlihat besar meskipun seseorang telah menurunkan berat badan.

Kondisi inilah yang terkadang membuat penderitanya merasa frustrasi karena perubahan pada bagian tubuh tertentu tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan. Meski demikian, bukan berarti pola makan sehat dan olahraga tidak bermanfaat. Keduanya tetap penting untuk menjaga kesehatan dan mengelola berat badan secara keseluruhan.

3. Bisa disertai nyeri dan mudah memar

Lipedema bukan sekadar persoalan bentuk tubuh. Pada sebagian orang, jaringan yang terdampak juga dapat menimbulkan keluhan fisik. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

• kaki terasa berat;

• mudah mengalami memar meski tidak mengingat adanya benturan;

• jaringan terasa nyeri atau sensitif ketika disentuh;

• rasa tidak nyaman setelah berdiri dalam waktu lama; dan

• pembengkakan atau rasa berat yang lebih terasa menjelang akhir hari.

Keluhan tersebut menjadi salah satu hal yang membedakan lipedema dari penumpukan lemak biasa.

Mengapa lipedema sering disangka obesitas?

Kemiripan bentuk tubuh membuat lipedema kerap disalahartikan sebagai obesitas. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

Seseorang dengan lipedema juga tetap dapat mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Karena itu, keberadaan jaringan lemak yang sulit berkurang pada paha atau tungkai saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami lipedema.

Selain itu, pembengkakan pada kaki dan tungkai juga bisa disebabkan oleh kondisi lain, termasuk gangguan sistem limfatik atau masalah pembuluh darah. Itulah sebabnya diagnosis lipedema tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan bentuk tubuh atau hasil membandingkan foto di internet.

Lipedema bisa berkembang

Pada tahap awal, perubahan mungkin hanya terlihat sebagai penumpukan lemak yang tidak proporsional. Namun, pada sebagian orang, kondisi dapat berkembang dan jaringan lemak menjadi semakin menonjol.

Dalam kondisi yang lebih lanjut, tungkai dapat terlihat membesar dengan bentuk yang khas dan jaringan lemak terasa lebih berbenjol. Nyeri, rasa berat, serta mudah memar juga dapat semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Lipedema juga dapat berkaitan dengan gangguan sistem limfatik. Ketika sistem limfatik tidak mampu mengalirkan cairan secara optimal, cairan dapat menumpuk dan menyebabkan limfedema.

Apa penyebab lipedema?

Penyebab pasti lipedema hingga kini belum diketahui. Namun, perubahan hormonal diduga memiliki kaitan dengan munculnya atau memburuknya kondisi tersebut.

Lipedema sering kali pertama kali muncul atau menjadi lebih berat ketika terjadi perubahan hormon, seperti saat pubertas, kehamilan, atau menopause. Riwayat keluarga juga diduga menjadi salah satu faktor yang berperan.

Bagaimana lipedema ditangani?

Penanganan lipedema disesuaikan dengan kondisi dan gejala masing-masing orang. Dokter dapat merekomendasikan sejumlah pendekatan untuk membantu mengurangi keluhan dan mempertahankan fungsi tubuh.

Salah satunya adalah terapi dekongestif lengkap yang dapat mencakup beberapa metode, seperti kompresi, latihan fisik, perawatan kulit, dan drainase limfatik manual. Drainase limfatik manual merupakan teknik pijat dengan gerakan lembut dan terarah yang bertujuan membantu pergerakan cairan limfa.

Terapi kompresi juga dapat digunakan untuk membantu mengendalikan pembengkakan. Bentuknya bisa berupa pakaian atau perangkat kompresi khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dalam penanganan. Latihan dapat membantu menjaga mobilitas, fungsi tungkai, serta kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan tindakan operasi seperti sedot lemak khusus untuk mengurangi jaringan lemak yang terdampak lipedema. Namun, tindakan ini bukan pilihan yang diperlukan atau sesuai untuk semua pasien.

Kapan perlu memeriksakan diri?

Paha atau betis yang besar tidak otomatis berarti seseorang mengalami lipedema. Begitu pula dengan lemak yang sulit berkurang setelah diet.

Namun, bila perubahan bentuk tubuh disertai penumpukan lemak yang simetris, kaki terasa berat atau nyeri, mudah memar, serta keluhan tidak banyak berubah meski berat badan turun, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter.

Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk mengetahui penyebabnya. Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari distribusi lemak, berat badan, kondisi pembuluh darah dan sistem limfatik hingga gejala yang dialami.

Dengan diagnosis yang tepat, seseorang dapat memperoleh penanganan yang lebih sesuai dan tidak terus-menerus menyalahkan pola makan atau kurang olahraga ketika perubahan pada bagian tubuh tertentu sulit berkurang.

(tis/tis)