Dark Tourism, Kala Lokasi Tragedi Berubah Jadi Destinasi Turis

CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 09:00 WIB
Dark Tourism, Kala Lokasi Tragedi Berubah Jadi Destinasi Turis
Penjara Alcatraz di San Francisco, California, AS, pernah jadi destinasi dark tourism. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)

Ada pula tur yang mengikuti jejak tokoh kriminal terkenal, seperti tur Pablo Escobar di Medellin, Kolombia. Meski sama-sama berkaitan dengan kejahatan atau kekerasan, setiap destinasi memiliki konteks yang berbeda.

Mengunjungi kamp konsentrasi Auschwitz, misalnya, tentu tidak bisa disamakan dengan tur jalan kaki di London yang menelusuri lokasi yang diyakini pernah dilewati Jack the Ripper, bahkan tur semacam itu memungkinkan wisatawan membawa hewan peliharaan.

Pertumbuhan pariwisata massal membuat industri perjalanan terus mencari pengalaman baru dan unik untuk memenuhi permintaan wisatawan. Termasuk pengalaman yang sebelumnya tidak dianggap sebagai aktivitas wisata. Popularitas dark tourism juga tidak terlepas dari semakin besarnya pengaruh kriminologi dalam budaya populer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dark tourism kerap dipromosikan sebagai cara untuk meningkatkan perekonomian suatu destinasi. Fenomena ini sekaligus menunjukkan kemampuan industri pariwisata menciptakan berbagai bentuk pengalaman baru.

Bagi situs yang berkaitan dengan sejarah dan memori kolektif, pariwisata juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat nilai edukasinya.
Namun, dark tourism membawa sejumlah persoalan serius.

Banyak situs tersebut pada awalnya dibangun sebagai ruang untuk mengenang, berduka, dan memulihkan diri. Melayani kebutuhan wisatawan bukanlah tujuan utamanya. Karena itu, salah satu risiko terbesar dark tourism adalah menghilangkan makna asli sebuah situs tragedi.

Perilaku tidak menghormati, seperti mengambil swafoto di Auschwitz dan lokasi-lokasi peringatan lainnya, menjadi salah satu contohnya. Selain itu, situs-situs tersebut kerap menyimpan warisan sejarah yang kontroversial dan membutuhkan proses interpretasi yang rumit.

Salah satu contohnya adalah Valle de los Caídos atau Valley of the Fallen di Spanyol, sebuah kompleks mausoleum besar yang sebelumnya menjadi tempat penyimpanan jenazah Francisco Franco, mantan diktator Spanyol.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menghormati ingatan para korban dan mempertimbangkan dampak pariwisata terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan yang berkaitan dengan kejahatan atau kekerasan.

Pemasaran produk atau pengalaman yang berpotensi membenarkan, mengagungkan, atau menjadikan pelaku kejahatan sebagai sosok yang heroik menjadi persoalan serius dalam konteks ini.

Karena itu, dark tourism harus dilakukan secara etis. Wisatawan perlu mendapatkan konteks yang memadai mengenai peristiwa yang terjadi, sementara penghormatan terhadap para korban harus menjadi prioritas.

Jika dikelola dengan tepat, dark tourism justru dapat menjadi sarana untuk belajar dan merefleksikan tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat.

Seperti dikatakan kriminolog Prancis Alexandre Lacassagne, "setiap masyarakat mendapatkan kriminal yang layak diterimanya." Jika mengikuti logika tersebut, setiap masyarakat juga akan menghasilkan bentuk dark tourism yang mencerminkan nilai dan prioritas mereka.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2