Dark Tourism, Kala Lokasi Tragedi Berubah Jadi Destinasi Turis
Ada pula tur yang mengikuti jejak tokoh kriminal terkenal, seperti tur Pablo Escobar di Medellin, Kolombia. Meski sama-sama berkaitan dengan kejahatan atau kekerasan, setiap destinasi memiliki konteks yang berbeda.
Mengunjungi kamp konsentrasi Auschwitz, misalnya, tentu tidak bisa disamakan dengan tur jalan kaki di London yang menelusuri lokasi yang diyakini pernah dilewati Jack the Ripper, bahkan tur semacam itu memungkinkan wisatawan membawa hewan peliharaan.
Pertumbuhan pariwisata massal membuat industri perjalanan terus mencari pengalaman baru dan unik untuk memenuhi permintaan wisatawan. Termasuk pengalaman yang sebelumnya tidak dianggap sebagai aktivitas wisata. Popularitas dark tourism juga tidak terlepas dari semakin besarnya pengaruh kriminologi dalam budaya populer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dark tourism kerap dipromosikan sebagai cara untuk meningkatkan perekonomian suatu destinasi. Fenomena ini sekaligus menunjukkan kemampuan industri pariwisata menciptakan berbagai bentuk pengalaman baru.
Bagi situs yang berkaitan dengan sejarah dan memori kolektif, pariwisata juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat nilai edukasinya.
Namun, dark tourism membawa sejumlah persoalan serius.
Banyak situs tersebut pada awalnya dibangun sebagai ruang untuk mengenang, berduka, dan memulihkan diri. Melayani kebutuhan wisatawan bukanlah tujuan utamanya. Karena itu, salah satu risiko terbesar dark tourism adalah menghilangkan makna asli sebuah situs tragedi.
Perilaku tidak menghormati, seperti mengambil swafoto di Auschwitz dan lokasi-lokasi peringatan lainnya, menjadi salah satu contohnya. Selain itu, situs-situs tersebut kerap menyimpan warisan sejarah yang kontroversial dan membutuhkan proses interpretasi yang rumit.
Salah satu contohnya adalah Valle de los Caídos atau Valley of the Fallen di Spanyol, sebuah kompleks mausoleum besar yang sebelumnya menjadi tempat penyimpanan jenazah Francisco Franco, mantan diktator Spanyol.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menghormati ingatan para korban dan mempertimbangkan dampak pariwisata terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan yang berkaitan dengan kejahatan atau kekerasan.
Pemasaran produk atau pengalaman yang berpotensi membenarkan, mengagungkan, atau menjadikan pelaku kejahatan sebagai sosok yang heroik menjadi persoalan serius dalam konteks ini.
Karena itu, dark tourism harus dilakukan secara etis. Wisatawan perlu mendapatkan konteks yang memadai mengenai peristiwa yang terjadi, sementara penghormatan terhadap para korban harus menjadi prioritas.
Jika dikelola dengan tepat, dark tourism justru dapat menjadi sarana untuk belajar dan merefleksikan tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat.
Seperti dikatakan kriminolog Prancis Alexandre Lacassagne, "setiap masyarakat mendapatkan kriminal yang layak diterimanya." Jika mengikuti logika tersebut, setiap masyarakat juga akan menghasilkan bentuk dark tourism yang mencerminkan nilai dan prioritas mereka.
(wiw)[Gambas:Video CNN]
Dark tourism atau wisata gelap merupakan fenomena sosial sekaligus label komersial yang lahir dari kebutuhan industri pariwisata menghadirkan pengalaman baru.
Musim panas tahun ini, Laureano Oubiña, salah satu gembong narkoba ternama di Galicia, Spanyol, meluncurkan tur bertema perdagangan narkoba di kawasan muara Arousa.
Dalam tur tersebut, wisatawan diajak naik kapal menyusuri lokasi-lokasi yang menjadi saksi sebuah era kelam. Oubiña bahkan menawarkan pengalaman mendengar kisah tersebut langsung darinya, lengkap dengan makan siang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pemerintah regional Galicia kemudian melarang tur tersebut karena dianggap melanggar aturan pariwisata.
Fenomena itu merupakan salah satu bentuk dark tourism, yakni aktivitas mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan kematian, kekerasan, tragedi, atau kejahatan. Popularitasnya yang terus meningkat memunculkan pertanyaan: sejauh mana wisata semacam ini bisa diterima?
Istilah dark tourism sendiri memiliki cakupan luas. Di satu sisi, istilah ini merupakan label komersial yang muncul dari kebutuhan industri pariwisata untuk terus menawarkan pengalaman baru.
Di sisi lain, dark tourism juga merupakan fenomena sosial yang menarik perhatian akademisi, khususnya dalam bidang kriminologi budaya. Bidang ini mempelajari bagaimana masyarakat memahami kejahatan dan memandang kekerasan.
Seperti dilansir Independent, kriminologi budaya juga mengkaji popularitas genre true crime, berupa serial, podcast, buku, hingga film yang membahas kasus-kasus kriminal serius.
Baik true crime maupun dark tourism mengikuti perkembangan tren di masyarakat. Keduanya memberikan gambaran tentang bagaimana manusia memahami kejahatan dan kekerasan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa respons masyarakat terhadap kejahatan dan kekerasan tidak sederhana. Rasa ingin tahu bercampur dengan kebutuhan untuk mengenang, merefleksikan peristiwa, memahami penyebabnya, dan mencari makna di balik tragedi.
Dark tourism yang menjadi perhatian para kriminolog terutama berkaitan dengan kejahatan, kekerasan, dan keadilan. Bentuknya pun beragam.
Sebagian besar berupa kunjungan ke lokasi yang berkaitan dengan tragedi atau pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, seperti kamp konsentrasi dan monumen peringatan.
Lokasi yang berkaitan dengan konflik bersenjata, mulai dari Perang Vietnam hingga Perang Dunia II, juga masuk dalam kategori ini. Begitu pula kunjungan ke penjara bersejarah seperti Alcatraz. Namun, dark tourism tidak selalu berkaitan dengan situs tragedi masa lalu.
Tur juga dapat membawa wisatawan ke kawasan perkotaan yang dikenal memiliki tingkat kriminalitas tinggi dan berada di luar rute wisata konvensional. Contohnya kawasan berbahaya di New York atau favela di Rio de Janeiro, Brasil.
Beberapa tur bahkan sengaja dibuat untuk menghilangkan stigma terhadap kawasan yang identik dengan kriminalitas.
Di Mexico City, misalnya, pemerintah setempat menggelar Tepitour, yang menawarkan sudut pandang berbeda mengenai Tepito, kawasan yang dikenal sebagai basis kartel Unión Tepito.
Kontroversi Dark Tourism hingga Hormati Ingatan Para Korban
Kota Medellin di Kolombia yang jadi asal gembong narkoba terbesar Pablo Escobar. (JOAQUIN SARMIENTO / AFP)
Ada pula tur yang mengikuti jejak tokoh kriminal terkenal, seperti tur Pablo Escobar di Medellin, Kolombia. Meski sama-sama berkaitan dengan kejahatan atau kekerasan, setiap destinasi memiliki konteks yang berbeda.
Mengunjungi kamp konsentrasi Auschwitz, misalnya, tentu tidak bisa disamakan dengan tur jalan kaki di London yang menelusuri lokasi yang diyakini pernah dilewati Jack the Ripper, bahkan tur semacam itu memungkinkan wisatawan membawa hewan peliharaan.
Pertumbuhan pariwisata massal membuat industri perjalanan terus mencari pengalaman baru dan unik untuk memenuhi permintaan wisatawan. Termasuk pengalaman yang sebelumnya tidak dianggap sebagai aktivitas wisata. Popularitas dark tourism juga tidak terlepas dari semakin besarnya pengaruh kriminologi dalam budaya populer.
Dark tourism kerap dipromosikan sebagai cara untuk meningkatkan perekonomian suatu destinasi. Fenomena ini sekaligus menunjukkan kemampuan industri pariwisata menciptakan berbagai bentuk pengalaman baru.
Bagi situs yang berkaitan dengan sejarah dan memori kolektif, pariwisata juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat nilai edukasinya.
Namun, dark tourism membawa sejumlah persoalan serius.
Banyak situs tersebut pada awalnya dibangun sebagai ruang untuk mengenang, berduka, dan memulihkan diri. Melayani kebutuhan wisatawan bukanlah tujuan utamanya. Karena itu, salah satu risiko terbesar dark tourism adalah menghilangkan makna asli sebuah situs tragedi.
Perilaku tidak menghormati, seperti mengambil swafoto di Auschwitz dan lokasi-lokasi peringatan lainnya, menjadi salah satu contohnya. Selain itu, situs-situs tersebut kerap menyimpan warisan sejarah yang kontroversial dan membutuhkan proses interpretasi yang rumit.
Salah satu contohnya adalah Valle de los Caídos atau Valley of the Fallen di Spanyol, sebuah kompleks mausoleum besar yang sebelumnya menjadi tempat penyimpanan jenazah Francisco Franco, mantan diktator Spanyol.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menghormati ingatan para korban dan mempertimbangkan dampak pariwisata terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan yang berkaitan dengan kejahatan atau kekerasan.
Pemasaran produk atau pengalaman yang berpotensi membenarkan, mengagungkan, atau menjadikan pelaku kejahatan sebagai sosok yang heroik menjadi persoalan serius dalam konteks ini.
Karena itu, dark tourism harus dilakukan secara etis. Wisatawan perlu mendapatkan konteks yang memadai mengenai peristiwa yang terjadi, sementara penghormatan terhadap para korban harus menjadi prioritas.
Jika dikelola dengan tepat, dark tourism justru dapat menjadi sarana untuk belajar dan merefleksikan tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat.
Seperti dikatakan kriminolog Prancis Alexandre Lacassagne, "setiap masyarakat mendapatkan kriminal yang layak diterimanya." Jika mengikuti logika tersebut, setiap masyarakat juga akan menghasilkan bentuk dark tourism yang mencerminkan nilai dan prioritas mereka.