Dark Tourism, Kala Lokasi Tragedi Berubah Jadi Destinasi Turis

CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 09:00 WIB
Penjara Alcatraz di San Francisco, California, AS, pernah jadi destinasi dark tourism. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dark tourism atau wisata gelap merupakan fenomena sosial sekaligus label komersial yang lahir dari kebutuhan industri pariwisata menghadirkan pengalaman baru.

Musim panas tahun ini, Laureano Oubiña, salah satu gembong narkoba ternama di Galicia, Spanyol, meluncurkan tur bertema perdagangan narkoba di kawasan muara Arousa.

Dalam tur tersebut, wisatawan diajak naik kapal menyusuri lokasi-lokasi yang menjadi saksi sebuah era kelam. Oubiña bahkan menawarkan pengalaman mendengar kisah tersebut langsung darinya, lengkap dengan makan siang.

Namun, pemerintah regional Galicia kemudian melarang tur tersebut karena dianggap melanggar aturan pariwisata.

Fenomena itu merupakan salah satu bentuk dark tourism, yakni aktivitas mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan kematian, kekerasan, tragedi, atau kejahatan. Popularitasnya yang terus meningkat memunculkan pertanyaan: sejauh mana wisata semacam ini bisa diterima?

Istilah dark tourism sendiri memiliki cakupan luas. Di satu sisi, istilah ini merupakan label komersial yang muncul dari kebutuhan industri pariwisata untuk terus menawarkan pengalaman baru.

Di sisi lain, dark tourism juga merupakan fenomena sosial yang menarik perhatian akademisi, khususnya dalam bidang kriminologi budaya. Bidang ini mempelajari bagaimana masyarakat memahami kejahatan dan memandang kekerasan.

Seperti dilansir Independent, kriminologi budaya juga mengkaji popularitas genre true crime, berupa serial, podcast, buku, hingga film yang membahas kasus-kasus kriminal serius.

Baik true crime maupun dark tourism mengikuti perkembangan tren di masyarakat. Keduanya memberikan gambaran tentang bagaimana manusia memahami kejahatan dan kekerasan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa respons masyarakat terhadap kejahatan dan kekerasan tidak sederhana. Rasa ingin tahu bercampur dengan kebutuhan untuk mengenang, merefleksikan peristiwa, memahami penyebabnya, dan mencari makna di balik tragedi.

Dark tourism yang menjadi perhatian para kriminolog terutama berkaitan dengan kejahatan, kekerasan, dan keadilan. Bentuknya pun beragam.

Sebagian besar berupa kunjungan ke lokasi yang berkaitan dengan tragedi atau pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, seperti kamp konsentrasi dan monumen peringatan.

Lokasi yang berkaitan dengan konflik bersenjata, mulai dari Perang Vietnam hingga Perang Dunia II, juga masuk dalam kategori ini. Begitu pula kunjungan ke penjara bersejarah seperti Alcatraz. Namun, dark tourism tidak selalu berkaitan dengan situs tragedi masa lalu.

Tur juga dapat membawa wisatawan ke kawasan perkotaan yang dikenal memiliki tingkat kriminalitas tinggi dan berada di luar rute wisata konvensional. Contohnya kawasan berbahaya di New York atau favela di Rio de Janeiro, Brasil.

Beberapa tur bahkan sengaja dibuat untuk menghilangkan stigma terhadap kawasan yang identik dengan kriminalitas.

Di Mexico City, misalnya, pemerintah setempat menggelar Tepitour, yang menawarkan sudut pandang berbeda mengenai Tepito, kawasan yang dikenal sebagai basis kartel Unión Tepito.

Kontroversi Dark Tourism hingga Hormati Ingatan Para Korban


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :