Kenali Bradiaritmia yang Bikin Jantung Berdetak Lebih Lambat

CNN Indonesia
Kamis, 03 Sep 2026 17:45 WIB
Ilustrasi. Ternyata jantung yang berdetak terlalu lambat juga harus diwaspadai. (iStock/Nopphon Pattanasri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jantung berdetak lebih lambat dari biasanya mungkin terdengar sepele. Namun, kondisi yang dikenal sebagai bradiaritmia ini dapat membuat pasokan darah ke organ tubuh, termasuk otak, tidak terpenuhi dengan baik.

Dokter Spesialis Jantung Siloam Hospitals TB Simatupang Budi Ario Tejo mengatakan sekitar 6,1 persen penduduk Indonesia mengalami penyakit kardiovaskular. Di antara berbagai gangguan jantung tersebut, bradiaritmia menjadi salah satu kondisi yang sering kali tidak disadari.

Bradiaritmia merupakan gangguan irama jantung ketika detak jantung menjadi lebih lambat dari normal, umumnya kurang dari 60 kali per menit. Kondisi ini dapat terjadi akibat adanya gangguan pada sistem kelistrikan jantung.

"Irama yang terlalu lambat ini tentu menyebabkan kebutuhan tubuhnya tidak tercukupi. Jadi, kita tahu bahwa fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Jadi, untuk mencukupi kebutuhan tubuh itu tentu diperlukan laju jantung yang cukup," kata Budi dalam diskusi media secara daring, Rabu (2/9).

Ketika detak jantung terlalu lambat, jumlah darah yang dipompa ke seluruh tubuh juga dapat berkurang. Akibatnya, seseorang dapat mengalami berbagai keluhan, seperti mudah lelah, pusing, lemas, sesak napas, hingga pingsan.

Namun, tidak semua orang dengan detak jantung di bawah 60 kali per menit mengalami bradiaritmia yang membutuhkan penanganan. Pada kondisi tertentu, misalnya saat tidur atau pada orang yang rutin berolahraga, denyut jantung yang lebih rendah dapat terjadi secara normal.

Karena itu, diagnosis perlu dilakukan oleh dokter dengan melihat kondisi dan gejala yang dialami pasien serta melakukan pemeriksaan yang diperlukan.

Pada bradiaritmia tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan alat pacu jantung atau pacemaker. Perangkat ini berfungsi membantu menjaga detak jantung agar tetap berada pada laju yang dibutuhkan tubuh.

Salah satu jenisnya adalah leadless pacemaker, yakni alat pacu jantung yang tidak menggunakan kabel atau lead yang menghubungkan perangkat dengan jantung.

Perangkat tersebut berukuran kecil, sekitar 3 hingga 4 sentimeter atau 1 hingga 1,5 inci. Bentuknya menyerupai silinder logam kecil dan ukurannya bahkan lebih kecil dibandingkan baterai AAA.

Berbeda dengan pacemaker konvensional yang memiliki generator dan kabel, leadless pacemaker merupakan perangkat satu bagian yang ditempatkan langsung di dalam jantung.

Alat ini dapat mendeteksi sinyal listrik alami dari jantung. Ketika impuls listrik alami tidak cukup sering untuk mempertahankan detak jantung yang sesuai, perangkat dapat memberikan impuls listrik tambahan.

Tujuan pemasangan alat tersebut pada dasarnya adalah membantu pasien mendapatkan irama jantung yang memadai sehingga dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Penggunaan alat pacu jantung tidak berarti pasien harus membatasi seluruh aktivitasnya. Menurut Budi, pasien tetap dapat melakukan berbagai aktivitas, tetapi perlu memperhatikan kegiatan yang melibatkan medan magnet.

"Catatannya adalah medan magnet. Jadi, pacemaker ini sensitif terhadap medan magnet. Jadi, disarankan untuk menjaga jarak pacemaker dengan medan magnet kurang lebih 30 sentimeter," ujarnya.

Sementara itu, pemeriksaan menggunakan MRI tetap dapat dilakukan pada pasien dengan pacemaker tertentu. Namun, pemeriksaan tidak bisa dilakukan begitu saja.

"Pada pasien yang memerlukan pemeriksaan yang menggunakan medan magnet, katakanlah MRI, itu bisa dilakukan. Namun, ada prosedur yang harus dijalani dulu. Jadi, kita perlu setting dulu alatnya, sehingga aman untuk dilakukan MRI," kata Budi.

Artinya, pasien yang menggunakan pacemaker dan akan menjalani MRI perlu memberi tahu dokter atau petugas radiologi mengenai perangkat yang terpasang. Tim medis kemudian dapat melakukan pengaturan sesuai prosedur agar pemeriksaan berlangsung dengan aman.

Bagi pasien dengan bradiaritmia, penanganan pun tidak selalu sama. Dokter akan mempertimbangkan penyebab, gejala, kondisi jantung, serta kebutuhan masing-masing pasien sebelum menentukan apakah diperlukan alat pacu jantung.

Karena itu, detak jantung yang lambat sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kondisi normal ataupun penyakit. Jika disertai keluhan seperti pusing, mudah lelah, sesak, atau pingsan, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK