Sayuran Kena Abu Vulkanik, Masih Aman Dimakan? Simak Penjelasannya
Sayuran yang baru dipanen biasanya langsung masuk keranjang belanja atau dapur. Tapi bagaimana jika permukaannya tertutup abu vulkanik setelah erupsi gunung api? Apakah cukup dicuci, atau sebaiknya langsung dibuang?
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebaran hujan abu yang cukup luas. Sejumlah luas terkena paparan hujan abu vulkanik, seperti Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Dengan demikian, embusan angin membuat paparan abu vulkanik bisa mengenai apa pun yang ada, termasuk sayuran.
Sayuran yang terkena abu vulkanik tidak otomatis menjadi tidak aman dimakan. Tingkat keamanannya bergantung pada seberapa banyak abu yang menempel, jenis tanaman, karakter abu, hingga kemungkinan adanya zat tertentu yang terserap tanaman.
Melansir US Geological Survey (USGS), sayuran dari kebun yang terkena abu masih dapat dikonsumsi setelah dicuci terlebih dahulu.
Pada kondisi ketika abu hanya menempel di permukaan sayuran, langkah paling sederhana adalah membersihkannya dengan air bersih.
USGS secara khusus menyarankan sayuran dari kebun yang terkena abu untuk dicuci sebelum dimakan. Dampak abu terhadap tanaman sendiri dapat berbeda-beda, tergantung ketebalan abu, jenis tanaman, kondisi pertumbuhan, hingga kandungan fluorida yang dapat larut dari abu.
Jadi, sayuran yang terkena lapisan abu tipis tidak serta-merta harus masuk tempat sampah.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan langsung menganggap mencuci selalu menyelesaikan semua persoalan.
Jenis sayuran juga berpengaruh
Mengutip penelitian dari Geosciences & Environment, respons tanaman terhadap abu vulkanik dapat berbeda.
Dalam studi tersebut, peneliti menguji selada, kubis, bawang, dan wortel dengan paparan abu vulkanik buatan sebanyak 5-40 kilogram per meter persegi. Hasilnya, semakin banyak abu yang menumpuk, semakin besar pula kehilangan produksi tanaman. Selada dan kubis juga mengalami dampak lebih besar dibandingkan bawang dan wortel.
Salah satu alasannya berkaitan dengan bentuk tanaman. Daun selada dan kubis memiliki permukaan yang lebih banyak untuk menangkap dan menahan abu.
Artinya, sayuran berdaun dan sayuran yang bagian makannya berada di permukaan tanah bisa menghadapi paparan abu dengan cara yang berbeda dari tanaman umbi.
Bukan cuma soal abu yang terlihat
Persoalan lain muncul jika abu vulkanik membawa unsur kimia tertentu. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), abu dan gas dari erupsi gunung api dapat mengandung zat yang berpotensi berbahaya, termasuk fluorida, logam berat, dan senyawa sulfur.
Karena itu, kontaminasi makanan dan tanaman menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah bencana vulkanik.
Dengan kata lain, ada perbedaan antara abu yang sekadar menempel di permukaan dan unsur yang sudah masuk ke lingkungan tempat tanaman tumbuh.
Jika hanya menempel di permukaan, pencucian dapat membantu menghilangkannya. Sementara jika tanah atau tanaman sudah terpapar unsur tertentu dalam jumlah tinggi, mencuci permukaan sayuran tentu tidak otomatis menghilangkan zat yang sudah terserap.
Jadi, kalau sayuran di rumah terkena abu, bagaimana?
Jika abu hanya menempel tipis pada sayuran, jangan langsung dibuang. Sayuran dapat dipisahkan, bagian yang rusak atau sangat kotor dibuang, kemudian dicuci menggunakan air bersih sebelum dikonsumsi.
USGS juga menyatakan, sayuran dari kebun yang terkena abu dapat dimakan setelah dicuci. Hindari menggunakan sabun atau deterjen untuk mencuci sayuran. Yang perlu dilakukan adalah menghilangkan partikel abu dari permukaan dengan air bersih.
Tetapi, jika sayuran tertutup abu dalam jumlah sangat banyak, berada sangat dekat dengan sumber erupsi, atau ada informasi dari otoritas setempat mengenai kontaminasi bahan pangan, sebaiknya jangan hanya mengandalkan pencucian.
Sebab, yang menentukan keamanan bukan sekadar apakah sayuran masih terlihat segar atau sudah bersih, tetapi juga apa yang terkandung dalam abu dan seberapa jauh paparan tersebut memengaruhi tanaman.
(anm/asr)