Tak Disadari, 5 Kebiasaan Orang Tua Ini Bikin Anak Cemas Menurut Ahli

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 20:00 WIB
Ilustrasi. Beberapa kebiasaan yang dilakukan orang tua tanpa disadari bisa menimbulkan kecemasan pada anak. (Istockphoto/ Fizkes)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kecemasan bukan cuma masalah orang dewasa, tapi juga anak. Masalahnya, beberapa kebiasaan yang dilakukan orang tua secara tidak langsung justru berkontribusi menimbulkan kecemasan pada anak.

Sebuah studi terbaru menunjukkan, jutaan atau sekitar 20,5 persen anak dan remaja di dunia mengalami kecemasan.

"Terkadang kecemasan sulit untuk diidentifikasi karena anak-anak dapat menunjukkan kecemasan dengan berbagai cara," ujar psikolog di Clay Center for Young Healthy Minds, Amerika Serikat (AS). Khadijah Booth Watkins, melansir HuffPost.

Beberapa anak mengalami gejala fisik seperti sakit perut, detak jantung yang lebih cepat, hingga sakit kepala. Beberapa lainnya menunjukkan respons emosional seperti sikap tantrum dan manja. Ada juga yang menjadi pendiam dan ogah berinteraksi dengan teman sebaya.

Sayangnya, beberapa kebiasaan atau perilaku orang tua justru bisa membuat anak merasa cemas. Apa saja?

1. Menjauhkan anak dari hal-hal yang ditakuti

Psikolog anak Laura Linn Knight mengatakan, banyak orang tua tanpa sengaja melanggengkan siklus kecemasan dengan membantu si kecil menghindari hal-hal yang ditakutinya.

Misalnya, seorang anak merasa takut untuk pergi sekolah. Ia kemudian merasa jika ada orang tua yang mengantarnya hingga ke pintu kelas, rasa takut itu akan menghilang. Lantas, orang tua mengikuti keinginan anak dengan mengantar sampai pintu kelas. Padahal, rasa takut yang sama akan tetap ada meski orang tua mengantar sampai kelas lalu meninggalkannya.

"Sebagian besar orang tua tidak sengaja melakukan ini. Tapi, karena kecemasan sering kali menuntut untuk didengar, orang tua ingin menghindari anak dari hal-hal yang menyulitkan," ujar Knight.

Sebaliknya, orang tua harus fokus menumbuhkan ketahanan dan membiarkan si kecil menghadapi ketakutannya. Buat anak percaya bahwa Anda, sebagai orang tua, akan selalu mendukung mereka.

2. Membiarkan rasa cemas dalam diri

Anak akan sangat peka akan apa yang dialami orang tua. Anak akan mendengarkan dan memperhatikan bahasa tubuh orang tua. Jika Anda belum selesai melawan rasa cemas di dalam diri, maka bukan tak mungkin anak juga merasa cemas.

Sama seperti saat Anda meminta si kecil mengenakan masker. Anda perlu mengenakannya terlebih dahulu untuk memberi contoh. Lalu, biarkan si kecil mengikuti apa yang Anda lakukan.

"Kita [orang tua] harus mampu mengelola stres, mencontohkan kemampuan diri dalam mengatasi masalah dengan cara yang sehat. Ini akan jadi kunci dalam membantu anak mengelola kecemasannya," ujar Watkins.

Ketika kecemasan orang tua tidak dikelola dengan baik, lanjut Watkins, maka anak akan sering terpapar kecemasan. Dengan demikian, orang tua tanpa sengaja 'mengajari' anak untuk merasa takut.

3. Menghindari obrolan tentang perasaan

Membicarakan perasaan memang bisa jadi tidak nyaman. Utamanya, saat emosi yang muncul cenderung negatif. Namun, penting bagi orang tua untuk mendorong percakapan semacam ini.

"Berikan ruang bagi anak untuk merasa khawatir, cemas, atau gugup," ujar psikolog anak Ann-Louise Lockhart.

Biarkan juga si kecil menyampaikan perasaannya. Lalu, validasi emosi yang muncul dari anak dengan mencoba memahaminya.

4. Terlalu sering mengingatkan

Ilustrasi. Terlalu sering mengingatkan si kecil perlahan bisa menimbulkan rasa cemas pada anak. (Istockphoto/ Fizkes)

Mengingatkan anak untuk berhati-hati boleh, tapi jangan berlebihan. Kebiasaan ini justru akan membuat anak merasa selalu berada dalam ancaman bahaya.

Alih-alih mengingatkan anak lebih sering, orang tua disarankan untuk fokus membantu si kecil agar memahami mengapa sesuatu bisa jadi berbahaya.

"Sebagai contoh, jangan melompat dari meja, karena meja bukan untuk melompat, dan ini bukan taman bermain. Kedua, lantainya sangat keras. Jika kamu terluka, maka kamu harus dibawa ke rumah sakit," ujar psikolog klinis Jenny Yip.

Momen-momen penjelasan ini dapat mendorong dialog terbuka antara anak dan orang tua.

5. Memuji hasil, bukan usaha

Banyak orang tua memberi puja-puji setinggi langit saat si kecil menorehkan prestasi. Tapi, sering kali mereka lupa mengapresiasi upaya yang dilakukan anak.

Kebiasaan tersebut membuat anak jadi berpikir bahwa mereka harus selalu menjadi yang terbaik jika ingin membanggakan orang tua. Akibatnya, rasa cemas muncul jika anak merasa gagal.

Kebiasaan di atas harus dihindari. Alih-alih memuji prestasi baik, orang tua disarankan jangan lupa memberikan apresiasi terhadap apa yang telah diupayakan anak.

(asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK