Psikolog: Anak 8 Tahun Sudah Akses Layanan Kesehatan Mental

CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 18:30 WIB
Layanan kesehatan mental gratis diakses anak-anak
Ilustrasi. Psikolog menuturkan kini anak usia 8 tahun sudah mengakses layanan kesehatan mental gratis. (Stockphoto/photocheaper)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kini layanan kesehatan mental ada beragam dan mudah diakses. Namun yang mengejutkan, data menunjukkan anak usia 8 tahun sudah mengakses layanan kesehatan mental. Kok bisa?

Usia berapa kamu mulai merasa perlu berkonsultasi perihal kesehatan mental? Urusan kesehatan mental memang tak kenal usia. Psikolog klinis Annelia Sari Sani mengungkap layanan kesehatan mental gratis Healing119.id mulai diakses pengguna usia anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang mengakses Healing 119 itu mulai dari umur 8-10 tahun," kata Annelia seperti dilaporkan detikHealth.

Dia berkata umumnya mereka mengakses layanan dengan keluhan kesepian. Puncak keluhan terkait kesepian terjadi di usia 12-14 tahun atau masa remaja awal.

"Biasanya saat ditanya kamu ada sama siapa? Enggak ada. Dia sendirian," imbuhnya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyebut kasus bunuh diri di Indonesia banyak dilakukan oleh mereka yang berusia muda.

Tren ini berbeda dengan tren global. Secara global, prevalensi bunuh diri lebih tinggi pada kelompok lansia.

Menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi, beberapa faktor bisa meningkatkan kerentanan orang terhadap masalah kesehatan jiwa. Salah satu faktornya adalah kesepian.

"Loneliness itu juga kills. Dan ini sekarang jadi kalau saya bilang wabah, karena banyak sekali orang-orang yang merasa sendirian, terasing," tuturnya.

Sebagai langkah pencegahan bunuh diri, Kemenkes menginisiasi layanan hotline kesehatan mental berbasis daring Healing119.id. Layanan ini dapat diakses selama 24 jam.

Selama ini, lanjut Imran, pengakses didominasi perempuan yakni sekitar 70 persen. Namun kasus bunuh diri paling banyak terjadi pada laki-laki.

Hal ini pun sejalan dengan kecenderungan global. Laki-laki lebih berisiko bunuh diri ketimbang perempuan.

Lantas, apa yang memicu bunuh diri?

Berdasar temuan kasus, Imran menyebut penyebab bunuh diri atau percobaan bunuh diri akibat kurang dukungan keluarga atau support system, lalu masalah pertemanan termasuk bullying, dan masalah ekonomi.

"Kalau kita pikirkan penyebab mereka mau bunuh diri itu karena ekonomi ternyata enggak. Justru malah yang keluarga. Jadi ekonomi itu alasan nomor tiga masalahnya, atau nomor dua. Jadi bukan nomor satu," katanya.

Disclaimer Kesehatan Mental

(els/els)
placeholder