Ini Alasan Kenapa Kamar Mandi Hotel Tidak Ada Gayung

CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Ketiadaan gayung di kamar mandi hotel bukan sekadar alasan gaya modern. Lantas kenapa kamar mandi hotel tidak ada gayung? (Foto: iStockphoto/Eko_Sasmito)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mengapa sebagian besar kamar mandi hotel tidak menyediakan gayung? Ternyata, alasan kenapa kamar mandi hotel tidak ada gayung berkaitan dengan banyak aspek.

Mulai dari desain kamar mandi, keselamatan tamu, kebersihan, hingga upaya menghemat penggunaan air.

Sebagai gantinya, hotel biasanya menyediakan shower dan bidet sprayer yang menggunakan sistem air langsung dari saluran pipa.

Sebenarnya, ketiadaan gayung bukan sekadar persoalan kebiasaan atau gaya kamar mandi modern.

Penggunaan air yang lebih terkontrol dan lantai yang tidak mudah tergenang menjadi beberapa pertimbangan penting bagi pengelola hotel.


Alasan kenapa kamar mandi hotel tidak ada gayung

Lantas, apa saja alasan di balik ketiadaan gayung di kamar mandi hotel?

1. Desain pemisahan area kering dan basah

Melansir dari buku arsitektur perhotelan Hotel Design, Planning and Development karya Richard H. Penner, dkk konsep tata ruang modern menerapkan pemisahan ketat antara area kering dan basah (wet and dry zoning).

Area basah meliputi shower enclosure atau bathtub, sedangkan area kering yaitu toilet dan vanity area.

Gayung berpotensi menghasilkan percikan air tak terkendali ke seluruh penjuru ruangan. Cipratan tersebut membasahi lantai area kering, merusak perabot kayu, serta memicu pertumbuhan jamur (mold and mildew).


2. Standar keselamatan tamu

Berdasarkan panduan manajemen risiko kamar mandi oleh American Hotel & Lodging Educational Institute (AHLEI), insiden terpeleset dan jatuh (slip and fall) merupakan salah satu klaim liabilitas hukum terbesar bagi pengelola hotel.

Material lantai kamar mandi umumnya memakai ubin keramik atau marmer yang sangat licin bila terkena air.

Mengeliminasi gayung dan bak penampung otomatis menghentikan terbentuknya genangan air di jalur lalu lintas utama tamu sehingga risiko cedera fatal dapat ditekan seminimal mungkin.


3. Kontrol sanitasi dan pencegahan kontaminasi bakteri

World Health Organization (WHO) melalui Guidelines for Drinking-water Quality menegaskan tingginya risiko kontaminasi pada wadah air terbuka di fasilitas publik.

Air tergenang di dalam ember atau sisa basah pada permukaan gayung menjadi sarang ideal bagi mikroorganisme, lumut, hingga jentik nyamuk.

Oleh sebab itu, hotel mengadopsi sistem plumbing tertutup dengan direct pressure shower dan bidet sprayer agar air mengalir higienis langsung dari pipa tanpa kontak tangan perantara.


4. Efisiensi air

Kriteria sertifikasi bangunan hijau USGBC LEED untuk sektor Hospitality mewajibkan hotel memasang pembatas debit air terukur, seperti low-flow aerated shower heads dan dual-flush toilets.

Penggunaan gayung tidak memiliki mekanisme pembatas debit (flow restrictor), sehingga konsumsi air sulit terkontrol.

Hal itu pun sejalan dengan laporan dari Green Pearls menunjukkan bahwa kebutuhan air harian di hotel tergolong sangat tinggi, yakni mencapai 1.500 liter per kamar tiap harinya.

Angka tersebut jauh melampaui penggunaan air masyarakat setempat, bahkan di beberapa wilayah konsumsi air sektor pariwisata tercatat delapan kali lipat lebih boros dibanding warga lokal.

(gas/fef)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK