Otak Menua Seiring Usia, Bisakah Prosesnya Diperlambat?

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 16:00 WIB
Ilustrasi. Usia bertambah, tapi bukan berarti otak harus ikut menua dengan kecepatan yang sama. Sebenarnya bisakah penuaan otak diperlambat? (Foto: iStock/Nicola Katie)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seiring bertambahnya usia, otak juga mengalami perubahan yang dapat menurunkan fungsi kognitif. Meski begitu, usia bertambah, tapi bukan berarti otak harus ikut menua dengan kecepatan yang sama.

Sebenarnya bisakah penuaan otak diperlambat?

Ilmuwan kini mulai memanfaatkan teknologi untuk mengetahui seberapa cepat otak seseorang menua dan mencari cara memperlambat proses tersebut.

Salah satunya melalui pemindaian otak dan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkirakan biological brain age atau usia biologis otak.

Hasilnya bisa berbeda dari usia seseorang sebenarnya dan berpotensi membantu mendeteksi perubahan otak lebih awal, termasuk yang berkaitan dengan demensia.


Belajar dari orang yang hidup panjang

Salah satu tempat yang banyak diteliti terkait penuaan sehat adalah Loma Linda, California, Amerika Serikat. Kota ini dikenal sebagai salah satu Blue Zone, wilayah dengan banyak penduduk berumur panjang.

Komunitas Seventh-day Adventist di sana menjadi perhatian peneliti karena pola hidupnya. Banyak anggotanya tidak mengonsumsi alkohol dan kafein, menerapkan pola makan vegetarian atau vegan, rutin beraktivitas fisik, serta aktif dalam komunitas.

Anggota komunitas tersebut memiliki healthspan, atau periode hidup dalam kondisi sehat, yang lebih panjang. Perempuan rata-rata memiliki tambahan healthspan sekitar empat hingga lima tahun, sementara laki-laki sekitar tujuh tahun.

Interaksi sosial juga menjadi bagian penting. Ada kelas olahraga, kegiatan musik, hingga berbagai pertemuan dan diskusi.

Judy, salah satu penghuni fasilitas lansia di sana, mengatakan bersosialisasi sangat penting bagi otak. "Yang tidak saya sadari adalah betapa pentingnya bersosialisasi bagi otak. Tanpanya, otak seperti menyusut dan menghilang," kata Judy, seperti dilansir BBC.

Penelitian juga telah mengaitkan kesepian dan minimnya interaksi sosial dengan kesehatan otak yang lebih buruk.


AI bisa menghitung usia otak

Profesor Gerontologi dan Biologi Komputasional University of Southern California, Andrei Irimia mengembangkan model komputer menggunakan MRI dan data dari sekitar 15 ribu otak.

Dengan bantuan AI, model tersebut mempelajari pola otak yang menua secara sehat maupun yang mengalami proses penyakit, termasuk demensia. Teknologi ini kemudian dapat memperkirakan apakah usia biologis otak seseorang lebih tua atau lebih muda dari usia sebenarnya.

Saat menjalani pemeriksaan MRI, usia biologis otak jurnalis BBC Lara Lewington diperkirakan delapan bulan lebih tua dari usia kronologisnya. Hasil tersebut masih memiliki margin kesalahan sekitar dua tahun.

Di luar teknologi, tidur tetap menjadi salah satu faktor penting. Profesor Ilmu Saraf dan Psikologi University of California, Berkeley Matthew Walker mengatakan tidur merupakan salah satu hal paling efektif yang bisa dilakukan setiap hari untuk menjaga kesehatan otak dan tubuh.

Saat tidur, otak menjalankan proses pembersihan yang membantu membuang sejumlah produk sisa metabolisme, termasuk protein beta-amiloid dan tau yang berkaitan dengan Alzheimer.

Perubahan pola tidur yang berkaitan dengan risiko demensia bahkan dapat mulai terlihat sejak usia 30-an. Sehingga, pemantauan tidur berpotensi membantu mengenali perubahan kesehatan otak lebih awal.

Kesehatan mental juga berkaitan dengan penuaan otak. Salah satu penelitian di Stanford University mengembangkan metode menggunakan MRI untuk melihat pola tertentu pada otak yang berkaitan dengan beberapa bentuk depresi.

Metode ini berpotensi membantu memahami kondisi pasien sekaligus melihat respons terhadap pengobatan. Hal tersebut penting karena depresi yang tidak ditangani dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.

Jadi, bisakah penuaan otak diperlambat?

Belum ada satu metode yang terbukti bisa menghentikan atau membalikkan penuaan otak secara menyeluruh. Para ilmuwan melihat proses tersebut dipengaruhi banyak faktor.

Karena itu, menjaga kesehatan otak tetap membutuhkan kombinasi pola makan sehat, aktivitas fisik, stimulasi mental, tidur cukup, dan kehidupan sosial yang aktif. AI dan MRI dapat membantu memberikan gambaran lebih personal tentang perubahan otak sehingga risiko bisa dikenali lebih awal.

(anm/fef)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK