Studi Baru pada Manusia Tunjukkan BPA Ubah Sensitivitas Insulin
Kamu mungkin sering mendengar banyak produk yang mengeklaim kemasannya non-BPA, seperti misalnya dalam botol atau wadah plastik. Bahan kimia industri ini selalu diawasi penggunaannya, bahkan dalam penelitian terbaru terbukti bisa mengubah sensitivitas insulin.
BPA atau bisphenol A ditemukan dalam plastik polikarbonat dan resin epoksi. Mengutip Mayo Clinic, plastik polikarbonat itu sendiri sering digunakan dalam pembuatan wadah penyimpanan makanan hingga botol minum.
Adapun resin epoksi digunakan untuk melapisi bagian dalam produk logam, seperti kaleng makanan, tutup botol, saluran air, hingga bahan tambalan gigi.
Di sejumlah negara Eropa, seperti Perancis, Belgia, Denmark, dan Swedia, penggunaan BPA sudah dilarang, sedangkan di beberapa negara lain dibatasi.
Indonesia sendiri, melalui Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 11 Tahun 2026 tentang Kemasan Pangan, menetapkan batas maksimal migrasi BPA sebesar 0,05 mg/kg.
Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada manusia menemukan bahwa BPA dalam dosis rendah sekalipun dapat mengurangi sensitivitas insulin dalam jangka pendek.
"Kami terkejut melihat bahwa mengurangi paparan BPA, seperti menggunakan botol stainless steel at au kaca dan kaleng bebas BPA, dapat menurunkan risiko diabetes," ujar salah satu peneliti Todd A. Hagobian saat mempresentasikan hasil pendahuluan pada 2024 lalu, dilansir ScienceAlert.
Kini, penelitian tersebut sudah dipublikasi di The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism pada September 2026.
Sensitivitas insulin meningkat 9 persen
Penelitian terbaru ini melibatkan 40 peserta dewasa. Satu kelompok terpapar BPA dalam dosis aman, alias sesuai dengan ambang batas paparan yang ditetapkan US Environmental Protection Agency (EPA), yakni 50 mikrogram/kg berat badan. Kelompok lain mendapat plasebo.
Setelah lima hari, kelompok BPA mengalami penurunan sensitivitas insulin perifer sebesar 9 persen, sedangkan pada kelompok plasebo jumlahnya sedikit meningkat.
"[Hasil ini] membawa implikasi klinis dan kesehatan masyarakat yang penting, menunjukkan bahwa paparan BPA, bahkan pada dosis yang saat ini dianggap 'aman' dapat berkontribusi pada perkembangan resistensi insulin," demikian kesimpulan para peneliti di California Polytechnic State University (CPSU) dan Rutgers University tersebut.
Para peneliti berpendapat, perlu ada uji coba yang lebih besar lagi untuk melihat bagaimana temuan ini dapat digeneralisasikan ke seluruh populasi. Namun perubahan jangka pendek ini cukup mengkhawatirkan.
"Temuan saat ini menambah bukti yang makin banyak bahwa badan regulator harus secara kritis mengevaluasi kembali dosis referensi yang telah ditetapkan untuk BPA," demikian pendapat para peneliti.
Tak cuma berdampak pada sensitivitas insulin
Sejak lama, studi terkait paparan BPA sudah dilakukan, baik terhadap hewan maupun manusia. Pada 1990-an, para peneliti pertama kali menemukan BPA bisa larut dari wadah atau kemasan polikarbonat saat kita memanaskan makanan dan minuman.
Eksperimen lebih lanjut menunjukkan, BPA memiliki kemampuan menghasilkan aktivitas estrogen dalam sel manusia.
Kemudian pada 1997, studi pertama pada hewan menemukan pemberian dosis rendah BPA kepada tikus hamil bisa berefek negatif pada keturunan berkelamin jantan. Efek negatif pun ditemukan dalam sejumlah studi terhadap hewan lainnya.
Adapun studi pada populasi manusia, ditemukan tingkat paparan BPA yang lebih tinggi erat kaitannya dengan masalah kesuburan dan reproduksi, perubahan perkembangan saraf, masalah kardiovaskular, diabetes tipe 2, hingga resistensi insulin.
Studi ini tak berarti BPA pasti menyebabkan semua masalah kesehatan ini. Namun secara bertahap mengurangi paparan BPA tetap perlu jadi perhatian.
(rti)