Sering Dianggap Cuek, Ini 7 Ciri Orang yang Minim Empati

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Biasanya orang minim empati menunjukkan beberapa ciri sebagai berikut. (Dewi Maharani Astutik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam berinteraksi, kamu mungkin menemukan orang yang lumayan cuek. Namun ada pula yang menganggap dia adalah orang yang minim empati. Sebelum ambil kesimpulan, sebaiknya cek lagi seperti apa ciri orang yang minim empati.

Ada orang yang ketika mendengar temannya sedang kesusahan langsung menunjukkan kepedulian. Ada juga yang malah merespons datar atau membuat orang lain merasa terlalu sensitif.

Perbedaan respons seperti ini bisa berkaitan dengan empati yaitu, kemampuan memahami pengalaman, perasaan, dan sudut pandang orang lain. 

Ciri orang minim empati

Dalam psikologi, empati tidak cuma soal bisa memahami apa yang dirasakan orang lain, tetapi juga bagaimana seseorang meresponsnya secara emosional.

Lantas, seperti apa orang yang cenderung minim empati? 

1. Sulit melihat dari sudut pandang orang lain

Salah satu bagian penting dalam empati adalah kemampuan melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Orang yang cenderung minim empati bisa kesulitan melakukan hal tersebut. Ketika seseorang bercerita bahwa dirinya terluka, misalnya, respons yang muncul justru kembali pada pengalaman dirinya sendiri.

Masalahnya bukan sekadar punya pendapat berbeda, melainkan sulit memahami mengapa situasi yang sama bisa terasa berbeda bagi orang lain.

Mengutip American Psychological Association (APA), empati berkaitan dengan kemampuan memahami orang lain dari kerangka acuan mereka, termasuk memahami perasaan, persepsi, dan pikiran orang tersebut.

2. Cenderung mengecilkan atau mengabaikan perasaan orang lain

Pernah curhat, tetapi malah dibuat merasa berlebihan? Orang dengan empati rendah bisa saja tahu bahwa seseorang sedang sedih, tetapi tidak benar-benar merespons perasaan tersebut. Mereka mungkin menganggap orang lain terlalu sensitif, berlebihan, atau seharusnya tidak perlu merasa seperti itu.

APA menjelaskan bahwa memahami sudut pandang orang lain berbeda dengan sekadar mengetahui apa yang sedang mereka rasakan. Empati juga berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons pengalaman tersebut.

3. Respons emosionalnya minim ketika orang lain sedang kesulitan

Empati bukan cuma soal memahami. Ada juga sisi emosional ketika seseorang melihat orang lain sedang mengalami kesulitan. 

Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Clinical Psychology Review menyebut karakteristik callous-affective yang berkaitan dengan sikap tidak peduli atau kurang peka terhadap orang lain memiliki hubungan dengan rendahnya affective empathy, atau kemampuan merespons secara emosional terhadap pengalaman orang lain.

Artinya, pada pola tertentu, seseorang bisa menunjukkan respons emosional yang lebih rendah ketika melihat orang lain mengalami penderitaan.

4. Lebih cepat memberi solusi daripada memahami perasaan

Tidak semua orang yang sedang bercerita membutuhkan solusi. Kadang, seseorang cuma ingin didengarkan dulu. Orang yang cenderung minim empati bisa kurang peka terhadap dukungan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan orang lain pada saat itu.

5. Bertindak tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain

Empati juga bisa terlihat dari apa yang dilakukan setelah seseorang mengetahui perasaan orang lain. Seseorang mungkin tetap melakukan sesuatu yang sudah diketahui membuat orang lain tidak nyaman karena kepentingannya sendiri dianggap lebih penting.

6. Mengulangi perilaku yang sudah diketahui menyakiti orang lain

Pola lainnya bisa terlihat ketika seseorang tetap melakukan sesuatu yang sudah diberi tahu membuat orang lain tidak nyaman. Dalam kondisi ini, masalahnya bukan lagi sekadar tidak tahu perasaan orang lain. Informasinya sudah diberikan, tetapi tidak terlihat dalam perilaku berikutnya.

Empati tidak berhenti pada kemampuan mengatakan "Gue paham". Dalam hubungan sosial, pemahaman terhadap kondisi orang lain juga dapat terlihat dari bagaimana seseorang menyesuaikan perilakunya.

7. Paham perasaan orang lain secara logis

Ini bagian yang sering disalahpahami. Orang yang minim empati tidak selalu berarti tidak mampu memahami emosi orang lain. Dalam psikologi, cognitive empathy berkaitan dengan kemampuan memahami apa yang mungkin dipikirkan atau dirasakan orang lain. Sementara affective empathy berkaitan dengan respons emosional terhadap kondisi orang tersebut.

Empati juga tidak selalu muncul dengan cara yang sama. APA menjelaskan bahwa kemampuan ini dapat dipengaruhi konteks, motivasi, dan seberapa besar seseorang bersedia memahami pengalaman orang lain.

Kalau ingin melihat apakah seseorang memang cenderung minim empati, jangan hanya melihat satu respons atau satu kejadian.

Perhatikan polanya, apakah ia terus-menerus sulit memahami sudut pandang orang lain, mengecilkan perasaan, mengabaikan dampak tindakannya, atau tetap melakukan sesuatu meski sudah tahu hal tersebut menyakiti orang lain?

(anm/els)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK