'Aku', 'Saya', dan 'Gue', Apa yang Diungkap dari Pilihan Kata Kita?

anm | CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 18:30 WIB
Ilustrasi berbicara dengan Orang Asing
Ilustrasi. Orang berbincang-bincang. (ambroochizafer/Pixabay)

Bagaimana jika menyebut nama sendiri?

Ada pula orang yang tidak terbiasa mengatakan 'aku', 'saya', atau 'gue'. Mereka justru menyebut nama sendiri ketika berbicara.

Pada anak-anak, kebiasaan tersebut bisa berkaitan dengan perkembangan bahasa. Anak biasanya mengenali dan menggunakan namanya sendiri sebelum sepenuhnya memahami konsep diri yang ditunjukkan melalui kata seperti 'aku' atau 'saya'.

Pada orang dewasa, menyebut nama sendiri juga tidak otomatis berarti kekanak-kanakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menyebut nama sendiri juga bisa menciptakan jarak emosional ringan dari diri sendiri. Dalam riset tentang distance self-talk, penggunaan nama sendiri sebagai kata ganti orang pertama saat berbicara dengan diri sendiri (self-talk) bisa membantu mengambil jarak psikologis dan mengelola emosi dalam situasi menekan (stressful)," kata Arnold.

Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang menyebut namanya sendiri sedang berusaha mengatur emosinya. Kebiasaan tersebut juga bisa muncul karena faktor lain, termasuk lingkungan dan kebiasaan berbahasa.

Mengapa bisa berbeda tergantung lawan bicara?

Di sinilah fenomena code switching atau pergantian gaya bahasa menjadi menarik. Seseorang bisa mengatakan 'saya' ketika berbicara dengan atasan, berubah menjadi 'aku' saat berbicara dengan pasangan, lalu menggunakan 'gue' ketika bertemu teman.

Menurut Arnold, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dalam komunikasi sehari-hari. Dalam psikologi komunikasi, salah satu konsep yang dapat menjelaskannya adalah Communication Accommodation Theory.

Teori tersebut menjelaskan kecenderungan seseorang menyesuaikan cara berbicara untuk mendekatkan, mempertahankan, atau menjauhkan jarak sosial dengan lawan bicara.

"Orang sering mengubah gaya bahasa untuk mengelola kedekatan, identitas, dan posisi sosial dalam interaksi," kata Arnold.

Dengan demikian, berganti-ganti kata ganti tidak berarti seseorang sedang berpura-pura menjadi orang lain.

"Pakai 'saya' saat berbicara dengan atasan, 'aku' dengan pasangan, dan 'gue' dengan teman tongkrongan. Itu bukan berarti ia palsu atau tidak jujur, justru menunjukkan kemampuan membaca situasi sosial," ujarnya.

Perubahan kecil seperti ini juga bisa memiliki makna. Arnold menyebut pergantian dari 'aku' ke 'saya', misalnya, dapat menunjukkan seseorang sedang mengubah posisi dirinya dari suasana santai menjadi lebih serius, dari personal menjadi formal, atau dari emosional menjadi lebih terkontrol.

Perubahan tersebut juga bisa menjadi cara seseorang mengambil jarak emosional dari topik yang sedang dibicarakan. Meski begitu, seseorang tidak perlu buru-buru membaca perubahan satu kata sebagai tanda adanya masalah psikologis.

"Bisa saja itu hanya kebiasaan, refleks, atau respons terhadap suasana percakapan," tutupnya.

(tis)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2