Jakarta, CNN Indonesia -- Pernah memperhatikan cara seseorang menyebut dirinya sendiri saat berbicara? Ada yang terbiasa mengatakan 'saya', sementara yang lain lebih nyaman menggunakan 'aku' atau 'gue'.
Menariknya, seseorang juga bisa berganti-ganti kata ganti, tergantung dengan siapa ia berbicara. 'Saya' digunakan ketika berbicara dengan atasan, 'aku' saat bersama pasangan, dan 'gue' ketika berkumpul dengan teman.
Sekilas, pilihan kata tersebut mungkin hanya terlihat sebagai kebiasaan berbicara. Namun, menurut psikolog, cara seseorang menyebut dirinya dapat memberikan sedikit gambaran mengenai konteks dan posisi sosialnya dalam sebuah percakapan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Psikolog Arnold Lukito mengatakan pilihan kata seperti 'saya', 'aku', 'gue', atau bahkan nama sendiri dapat menjadi petunjuk mengenai posisi seseorang dalam situasi tertentu.
"Kata ganti diri lebih tepat dilihat sebagai sinyal konteks, dengan siapa seseorang bicara, seberapa dekat relasinya, seberapa formal situasinya, dan identitas sosial apa yang sedang ia tampilkan," kata Arnold kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/9).
Lantas, apa perbedaan 'saya', 'aku', dan 'gue' secara psikologis?
'Saya' lebih formal dan terkontrol
Kata 'saya' biasanya muncul ketika seseorang berada dalam situasi yang lebih formal. Misalnya, saat berbicara dengan atasan, orang yang baru dikenal, atau dalam lingkungan profesional.
Menurut Arnold, 'saya' sering membawa kesan lebih rapi, aman, formal, dan terkontrol.
"'Saya' sering dipakai dalam konteks yang lebih formal, sopan, profesional, atau saat seseorang ingin menjaga jarak yang aman," ujarnya.
Meski demikian, bukan berarti orang yang terbiasa menggunakan 'saya' otomatis lebih kaku atau selalu ingin menjaga jarak dengan orang lain.
Pilihan kata tetap dipengaruhi lingkungan dan budaya. Dalam situasi tertentu, seseorang bisa menggunakan 'saya' karena sudah terbiasa sejak kecil, bukan karena sedang berusaha terlihat formal.
'Aku' lebih personal dan dekat
Berbeda dengan 'saya', kata 'aku' cenderung terasa lebih personal. Kata ini kerap digunakan dalam hubungan yang lebih dekat, misalnya dengan pasangan, keluarga, atau teman dekat.
"'Aku' biasanya terasa lebih dekat, personal, dan emosional," kata Arnold.
Karena itu, ketika seseorang yang biasanya menggunakan 'saya' tiba-tiba mengatakan 'aku', perubahan kecil tersebut dapat membuat percakapan terasa lebih intim.
Namun, 'aku' tidak selalu berarti seseorang sedang berada dalam hubungan yang sangat dekat. Arnold mengingatkan bahwa makna kata ganti juga dipengaruhi oleh budaya.
"Di beberapa daerah, 'aku' bisa terasa sangat biasa dan netral. Di lingkungan lain, 'aku' bisa terasa lebih intim," jelasnya.
ilustrasi. Orang ngobrol. (Foto: istockphoto/knape) |
'Gue' santai dan menunjukkan kedekatan kelompok
Jika 'saya' terdengar formal dan 'aku' terasa lebih personal, 'gue' biasanya membawa suasana yang lebih santai. Arnold mengatakan 'gue' umumnya memberikan kesan akrab dan kasual, sekaligus dapat menunjukkan kedekatan dengan kelompok tertentu.
Dalam konteks tertentu, kata tersebut juga dapat membawa identitas sosial, seperti gaya urban, anak muda, atau kultur pergaulan Jakarta. Penggunaan 'gue' dalam konteks tersebut bisa menjadi tanda bahwa seseorang merasa berada dalam kelompok yang cukup dekat dan setara.
Namun, bukan berarti orang yang menggunakan 'gue' selalu lebih santai atau kurang sopan.
"Jadi kita juga tidak bisa langsung menyimpulkan orang yang memakai 'saya' pasti kaku atau yang memakai 'gue' pasti kurang sopan," ujar Arnold.
Kata ‘Saya’, ‘Aku’, ‘Gue’ Bisa Ungkap Apa dari Diri Kita?
Ilustrasi. Kata aku, kamu, dan gue kerap muncul dalam pembicaraan sehari-hari. (Getty Images/yongyuan)
Bagaimana jika menyebut nama sendiri?
Ada pula orang yang tidak terbiasa mengatakan 'aku', 'saya', atau 'gue'. Mereka justru menyebut nama sendiri ketika berbicara.
Pada anak-anak, kebiasaan tersebut bisa berkaitan dengan perkembangan bahasa. Anak biasanya mengenali dan menggunakan namanya sendiri sebelum sepenuhnya memahami konsep diri yang ditunjukkan melalui kata seperti 'aku' atau 'saya'.
Pada orang dewasa, menyebut nama sendiri juga tidak otomatis berarti kekanak-kanakan.
"Menyebut nama sendiri juga bisa menciptakan jarak emosional ringan dari diri sendiri. Dalam riset tentang distance self-talk, penggunaan nama sendiri sebagai kata ganti orang pertama saat berbicara dengan diri sendiri (self-talk) bisa membantu mengambil jarak psikologis dan mengelola emosi dalam situasi menekan (stressful)," kata Arnold.
Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang menyebut namanya sendiri sedang berusaha mengatur emosinya. Kebiasaan tersebut juga bisa muncul karena faktor lain, termasuk lingkungan dan kebiasaan berbahasa.
Mengapa bisa berbeda tergantung lawan bicara?
Di sinilah fenomena code switching atau pergantian gaya bahasa menjadi menarik. Seseorang bisa mengatakan 'saya' ketika berbicara dengan atasan, berubah menjadi 'aku' saat berbicara dengan pasangan, lalu menggunakan 'gue' ketika bertemu teman.
Menurut Arnold, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dalam komunikasi sehari-hari. Dalam psikologi komunikasi, salah satu konsep yang dapat menjelaskannya adalah Communication Accommodation Theory.
Teori tersebut menjelaskan kecenderungan seseorang menyesuaikan cara berbicara untuk mendekatkan, mempertahankan, atau menjauhkan jarak sosial dengan lawan bicara.
"Orang sering mengubah gaya bahasa untuk mengelola kedekatan, identitas, dan posisi sosial dalam interaksi," kata Arnold.
Dengan demikian, berganti-ganti kata ganti tidak berarti seseorang sedang berpura-pura menjadi orang lain.
"Pakai 'saya' saat berbicara dengan atasan, 'aku' dengan pasangan, dan 'gue' dengan teman tongkrongan. Itu bukan berarti ia palsu atau tidak jujur, justru menunjukkan kemampuan membaca situasi sosial," ujarnya.
Perubahan kecil seperti ini juga bisa memiliki makna. Arnold menyebut pergantian dari 'aku' ke 'saya', misalnya, dapat menunjukkan seseorang sedang mengubah posisi dirinya dari suasana santai menjadi lebih serius, dari personal menjadi formal, atau dari emosional menjadi lebih terkontrol.
Perubahan tersebut juga bisa menjadi cara seseorang mengambil jarak emosional dari topik yang sedang dibicarakan. Meski begitu, seseorang tidak perlu buru-buru membaca perubahan satu kata sebagai tanda adanya masalah psikologis.
"Bisa saja itu hanya kebiasaan, refleks, atau respons terhadap suasana percakapan," tutupnya.