7 Tanda Anak Butuh Validasi Emosi dari Orang Tua, Jangan Abaikan!

CNN Indonesia
Minggu, 27 Sep 2026 17:48 WIB
Ilustrasi. Ada sejumlah tanda anak butuh validasi emosi dari orang tuanya, salah satunya ketika ia sulit mengungkapkan perasaannya. (iStockphoto/ridvan_celik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika mendidik anak, sebagian orang tua fokus dengan hasil akhir. Misalnya, anak bisa membaca, berhitung, hingga berprestasi di sekolah. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang abai terhadap perkembangan emosional anak.

Terkadang, anak butuh validasi emosinya dari orang tua. Hal ini penting karena validasi merupakan bentuk pengakuan terhadap pikiran dan perasaan yang dialami anak.

Validasi bukan berarti orang tua harus selalu setuju dengan perilaku yang diperlihatkan anak, tetapi setidaknya anak memahami perasaan yang muncul pada diri mereka merupakan hal wajar.

Walau tampak sepele, memenuhi kebutuhan validasi anak dapat membuat mereka merasa diterima dan dilihat, khususnya oleh orang tua.

Masalahnya, tanda anak butuh validasi emosi dari orang tua jarang disadari karena terkadang emosi anak tidak dapat diungkapkan dengan jelas. Nah, berikut ini beberapa tandanya, seperti dirangkum dari berbagai sumber.

1. Anak kesulitan mengungkapkan perasaannya

Anak yang tidak terbiasa membicarakan perasaannya mungkin kesulitan mengenali atau menyampaikan apa yang sedang dirasakan. Kondisi ini dapat terjadi ketika emosi anak sebelumnya kerap diabaikan, dianggap sepele, atau tidak mendapat respons yang sesuai.

2. Anak sering mencari perhatian dan ingin didengarkan

Ketika anak kerap mencari perhatian, ini juga jadi salah satu tanda ia butuh validasi emosi dari orang tua. Anak mencari perhatian orang tua untuk memahami apa yang sedang dialaminya.

Keinginan untuk didengarkan bukan berarti anak ingin menjadi pusat perhatian, tetapi bisa menjadi cara untuk mendapatkan rasa aman atau perasaannya dianggap penting.

3. Anak merasa orang tua tidak memahami emosinya

Ketika anak bercerita atau menunjukkan emosi, tetapi langsung disalahkan, diabaikan, hingga bahkan diberi solusi tanpa didengarkan terlebih dahulu, mereka dapat merasa tidak dipahami.

Padahal, validasi membantu anak mengetahui apakah orang tua memahami pengalaman emosionalnya atau tidak, walau tidak selalu menyetujui perilakunya.

4. Anak kesulitan mengelola emosi

Validasi dari orang tua membantu anak mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami pemicunya, serta belajar mengekspresikan emosi secara tepat.

Itulah mengapa, anak yang tampak kesulitan mengendalikan atau memahami emosinya membutuhkan pendampingan emosional lebih banyak.

Ketika anak memperlihatkan ciri demikian, orang tua idealnya mencoba mendekati dan berusaha memberikan validasi yang tepat.

5. Anak mudah merasa dirinya tidak berharga

Ketika perasaan anak terus-menerus dianggap salah atau tidak penting, mereka dapat mulai menganggap kebutuhan dan emosinya memang tidak layak diperhatikan. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.

6. Anak takut ditolak atau tidak diterima

Anak yang kebutuhan emosionalnya kurang terpenuhi dapat merasa khawatir akan ditolak, ditinggalkan, atau tidak dicintai. Rasa takut itu sangat mungkin membuat anak lebih sensitif terhadap respons orang tua dan terus mencari pengakuan dirinya diterima.

7. Anak yang cenderung menekan emosinya

Anak yang berulang kali mendapat respons "Jangan menangis," atau, "Kamu tidak apa-apa," cenderung belajar menyembunyikan emosinya.

Dampaknya, anak mungkin memilih menahan tangis, kemarahan, atau kesedihan ketimbang mengungkapkannya.

Jadi, orang tua sebaiknya tak meminta anak menahan emosinya. Biarkan anak mengekspresikan emosinya, tugas orang tua adalah memahaminya.

Itulah beberapa tanda anak butuh validasi emosi dari orang tua. Jadi, selain prestasi akademik di sekolah, penting pula untuk memperhatikan perkembangan emosional anak.

(san/rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK