Bumil Jadi Pelupa Gara-gara 'Momnesia', Ini Kata Studi Baru

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 22:00 WIB
Ilustrasi. Ibu hamil sering kali jadi pelupa selama masa kehamilan, ternyata disebabkan oleh tingginya hormon estrogen yang memengaruhi ingatan. (Istockphoto/Shironosov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak pengalaman empiris mengungkap, ibu hamil sering jadi pelupa selama masa kehamilannya. Tak sedikit yang menganggapnya mitos, tetapi sebuah studi terbaru menguatkan kalau ini merupakan kondisi biologis.

Lupa saat sedang hamil ini, dikenal sebagai kondisi 'momnesia' atau pregnancy brain. Daya ingat yang menurun ini sering kali terjadi untuk hal-hal kecil yang tampak remeh dan tidak mengkhawatirkan.

"Contoh umum yang dilaporkan pasien saya adalah salah menaruh kunci, kehilangan konsentrasi, atau kesulitan mengingat janji temu," kata dokter kandungan dan profesor klinis UCLA, Aparna Sridhar, MD, seperti dilansir laman Parents.

Menurut studi dari Baylor College of Medicine yang diterbitkan dalam jurnal Science Bulletin (September 2026), perubahan daya ingat ini berkaitan dengan meningkatnya hormon estrogen selama masa kehamilan.

Bumil Jadi Pelupa Merupakan Kondisi Biologis

Para peneliti dari Baylor College of Medicine menemukan kemungkinan penjelasan biologis di balik momnesia. Mereka mengidentifikasi sirkuit otak tertentu yang terganggu ketika kadar estrogen terus berada pada tingkat tinggi, seperti selama masa kehamilan.

Dalam eksperimen pada tikus, peningkatan estrogen menyebabkan gangguan ingatan sementara tanpa perubahan suasana hati.

Dampaknya melibatkan jalur saraf antara hipotalamus, yang berperan sebagai pusat pengaturan tubuh, dan hipokampus, bagian otak yang penting untuk pembentukan ingatan.

Adapun tingkat estrogen yang tinggi meningkatkan aktivitas neuron hipotalamus. Aktivitas tersebut kemudian menekan hipokampus sehingga kemampuan mengingat terganggu.

Momnesia itu sendiri paling terlihat pada akhir kehamilan dan dapat berlanjut setelah persalinan, tetapi biasanya mereda setelah ibu hamil melahirkan.

Dampaknya bisa mencakup ingatan jangka pendek maupun panjang, termasuk kesulitan mengingat nama, kata, lokasi, atau informasi yang sudah dikenal.

"Kondisi ini tidak serius atau melumpuhkan secara medis, meskipun memengaruhi fungsi sehari-hari dan kepercayaan diri," kata Zheng Sun, profesor kedokteran Baylor College of Medicine yang menjadi salah satu pemimpin penelitian, dilansir Reuters.

"Kondisi ini tersebar luas. Sekitar 80 persen perempuan hamil menyadari perubahan tersebut, tetapi angka itu sebagian besar mencerminkan laporan pribadi dan pengalaman subjektif, bukan pengujian objektif," ujar Sun.

Namun perlu dicatat, keluhan lupa tidak serta-merta menunjukkan penurunan kemampuan berpikir atau kecerdasan secara menyeluruh.

"Poin pentingnya adalah kehamilan tidak begitu saja membuat seseorang 'kurang cerdas'. Efeknya tampak lebih halus dan spesifik pada tugas kognitif tertentu," kata Yanlin He, peneliti lainnya dari Pennington Biomedical Research Center, Louisiana State University.

Pengaruh Hormon Estrogen

Hormon estrogen berfungsi membantu mengatur pubertas, siklus menstruasi, hingga perubahan tubuh untuk mendukung perkembangan janin dan mempersiapkan persalinan. Pada masa kehamilan, kadarnya bisa meningkat dan mencapai puncak pada trimester ketiga.

Para peneliti menemukan, protein bernama reseptor estrogen alfa (estrogen receptor alpha) meneruskan sinyal hormon tersebut ke sel hipotalamus. Wilayah ini memiliki neuron GABAergik yang mengirimkan sinyal penghambatan ke bagian otak lainnya.

Pada tikus, estrogen tinggi mengaktifkan sinyal penghambatan secara berlebihan dan memengaruhi hipokampus. Tikus yang diberikan estrogen tinggi, menunjukkan gangguan ingatan dibandingkan tikus yang mendapat estrogen rendah.

"Ketika kami secara genetik menghilangkan reseptor estrogen dari neuron hipotalamus ini, gangguan ingatan akibat estrogen dan kehamilan pada tikus juga berbalik pulih. Kami menduga sirkuit serupa mungkin berperan serupa pada manusia, meskipun penelitian invasif seperti ini tidak dapat dilakukan langsung pada manusia," tutur Sun.

Untuk mendukung hipotesis, penelitian ini juga menguji ingatan 70 perempuan, baik peserta hamil maupun yang tidak.

Pengujian ingatan jangka panjang, jangka pendek, serta memori kerja menunjukkan gangguan pada akhir kehamilan yang berkorelasi dengan tingginya estrogen.

"Namun, kami perlu menekankan bahwa kami tidak secara langsung memanipulasi atau mengukur sirkuit saraf spesifik ini pada perempuan hamil. Oleh karena itu, temuan pada manusia mendukung hipotesis tersebut, tetapi tidak menetapkan tingkat hubungan sebab-akibat yang sama seperti eksperimen pada tikus," tutur He.

Jadi, momnesia bukan sekadar mitos, melainkan memiliki kemungkinan penjelasan biologis. Namun mekanisme yang ditemukan pada tikus belum terbukti secara langsung pada manusia.

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK