Kemenpar Buka Suara soal Ratusan Hotel dan Vila di Bali Dijual

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 12:00 WIB
Kemenpar Buka Suara soal Ratusan Hotel dan Vila di Bali Dijual
Ilustrasi wisata Bali. (Getty Images/Agung Parameswara)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia turut buka suara mengenai fenomena ratusan hotel dan vila di Bali yang ditawarkan untuk dijual lewat platform properti daring.

Penawaran penjualan hotel dan vila di Bali tersebut tersebar di sejumlah kawasan wisata, seperti Kuta, Ubud, Nusa Dua, Canggu hingga Seminyak.

Tak sedikit yang mempertanyakan apakah maraknya hotel dan vila di Bali yang dijual disebabkan kondisi pariwisata Pulau Dewata, yang kemudian mengaitkannya dengan kemungkinan kunjungan wisatawan menurun hingga menekan industri bisnis perhotelan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemenpar sendiri mengatakan penjualan hotel tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda pariwisata Bali sedang menurun.

Melalui siniar Wonderful Indonesia Podcast yang tayang di YouTube, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Strategi Komunikasi dan Media sekaligus Juru Bicara Kemenpar, Apni Jaya Putra, menyebut kondisi ini perlu dilihat secara lebih utuh, termasuk dari pertumbuhan wisatawan dan perkembangan jumlah akomodasi di Bali.

Dalam pemaparan yang disampaikan Apni, kunjungan wisatawan ke Bali masih tergolong tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Jumlah kunjungan tercatat sekitar 15,15 juta pada 2023, kemudian meningkat menjadi 16,45 juta pada 2024 dan 16,56 juta pada 2025. Pada 2025, angka tersebut terdiri dari sekitar 6,95 juta wisatawan mancanegara dan 9,61 juta wisatawan nusantara.

Menurut Apni, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata karena wisatawan berhenti datang ke Bali. Di sisi lain, pilihan tempat menginap yang tersedia bagi wisatawan kini semakin beragam.

"Dulu kita kalau ke Bali mungkin tinggalnya di hotel atau kita pergi ke guesthouse, homestay dan seterusnya, sekarang akomodasi alternatif itu banyak sekali dan kemudahan-kemudahan. Ada online travel agent," ujar Apni dalam siniar tersebut, Kamis (24/9).

Banyaknya pilihan akomodasi membuat hotel tidak hanya bersaing dengan hotel lainnya. Persaingan juga terjadi dengan berbagai bentuk akomodasi alternatif yang dapat dipilih sesuai keinginan wisatawan. Di sisi lain, Kemenpar mencatat adanya pertumbuhan pasokan akomodasi yang perlu diperhatikan.

Jumlah kamar di Bali meningkat sekitar 45,9 persen pada 2024-2025, sementara total kunjungan wisatawan hanya bertambah sekitar 0,65 persen. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya risiko ketidakseimbangan antara pertumbuhan pasokan dan permintaan.

Meski demikian, Kemenpar belum menyimpulkan bahwa Bali secara keseluruhan mengalami kelebihan pasokan atau oversupply.

Apni mengatakan kondisi pasar perlu dilihat secara lebih rinci berdasarkan lokasi, jenis akomodasi, tingkat hunian dan pertumbuhan permintaan.

Data 2025 menunjukkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang berada di sekitar 60,8 persen, sedangkan akomodasi nonbintang sekitar 42,8 persen. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan wisatawan tidak selalu dirasakan secara sama oleh setiap segmen akomodasi.

"Hotel yang dijual tidak otomatis berarti mengalami kebangkrutan. Keputusan menjual properti dapat berkaitan dengan berbagai pertimbangan bisnis, seperti perubahan kepemilikan, keputusan investasi maupun penyesuaian usaha," terangnya.

(dsd/wiw)
placeholder