Kim Jong-un Dilaporkan Alami Obesitas Ekstrem 140 Kg, Ini Bahayanya
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dilaporkan mengalami obesitas parah. Hal ini muncul dalam laporan teranyar Badan Intelijen Seoul.
Sebagai perokok berat yang telah lama menderita obesitas, kesehatan Kim Jong-un dipantau ketat secara internasional. Pasalnya, kematian Kim Jong-un dianggap bisa menentukan stabilitas di negara bersenjata nuklir tersebut.
"Kondisi kesehatan Kim [Jong-un] diklasifikasikan sebagai obesitas ekstrem, dengan berat lebih dari 140 kilogram," ujar anggota parlemen Youn Kun-young, mengutip Badan Intelijen Seoul, menukil AFP.
Obesitas sendiri dianggap sangat berkaitan erat dengan risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi. Namun, Kim Jong-un dilaporkan tidak memperlihatkan kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik, seperti menaiki tangga.
"Diperkirakan tidak ada tanda-tanda masalah kesehatan, mengingat pemantauan ketat oleh tim medisnya yang berdedikasi," tambah Kun-young.
Kim Jong-un sendiri memang dikenal dengan kesukaannya terhadap daging dan makanan mewah. Berdasarkan koki pribadinya pada 2019 lalu, Kim Jong-un memiliki preferensi kuliner yang mewah.
"Dia suka kaviar, lobster, produk yang benar-benar mewah. Dia sangat suka memanjakan diri dalam hal kuliner," ujar sang koki pribadi.
Bahaya obesitas
Obesitas sendiri merupakan penyakit kronis yang kompleks. Obesitas menandakan kelebihan lemak yang menumpuk di dalam tubuh.
Berdasarkan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2022, 1 dari 8 orang di seluruh dunia menderita obesitas. Obesitas pada orang dewasa di seluruh dunia meningkat lebih dari dua kali lipa sejak tahun 1990 silam.
WHO sendiri telah mengklasifikasikan obesitas sebagai penyakit kronis yang muncul akibat interaksi kompleks antara genetika, neurobiologi, perilaku makan, akses terhadap pola makan sehat, dan masih banyak lagi.
Dalam beberapa dekade terakhir, masalah obesitas terus meluas secara global seiring dengan perubahan pola makan dan perilaku individu.
Pada orang dewasa, obesitas didefinisikan sebagai indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi dari angka 30.
Menukil laman Center for Disease and Prevention Control (CDC), penumpukan lemak dapat menyebabkan peradangan dan perubahan lainnya pada tubuh. Obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan serius, tanpa mengenal gender dan usia.
Penelitian menunjukkan bahwa obesitas pada usia dewasa meningkatkan risiko terhadap beberapa kondisi, seperti berikut:
- tekanan darah tinggi,
- kolesterol tinggi,
- diabetes tipe 2,
- penyakit jantung,
- stroke,
- penyakit ginjal kronis,
- berbagai jenis kanker,
- penyakit hati,
- masalah kesehatan mental seperti depresi,
- masalah persendian seperti osteoartritis,
- masalah pernapasan seperti asma dan sleep apnea,
- hingga meningkatkan risiko kematian dini.