Waspadai Heart Rate Tinggi saat Olahraga Jika Disertai Gejala

CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 14:00 WIB
ilustrasi heart rate
Ilustrasi. Ternyata ada ukuran heart rate yang harus diwaspadai. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Heart rate atau denyut jantung biasanya meningkat saat seseorang berolahraga. Namun, denyut jantung yang terlalu cepat, tidak teratur, atau tetap tinggi setelah olahraga perlu mendapat perhatian, terutama jika disertai gejala tertentu.

Dokter spesialis jantung di Siloam Hospital, Vito Damay, mengatakan tidak ada satu angka heart rate yang otomatis dianggap berbahaya bagi semua orang.

Menurut dia, batas denyut jantung saat olahraga perlu dilihat berdasarkan sejumlah faktor, mulai dari usia, intensitas latihan, kondisi kesehatan hingga obat yang dikonsumsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak ada satu angka yang otomatis berbahaya bagi semua orang. Kita perlu melihat usia, intensitas latihan, kondisi kesehatan, obat yang digunakan, dan gejala yang menyertai," kata Vito saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (6/10).

Ia menjelaskan, salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah ketika denyut jantung tiba-tiba jauh lebih cepat dari biasanya meski seseorang melakukan aktivitas dengan intensitas yang sama.

Denyut jantung yang terasa tidak teratur atau tetap sangat cepat meski seseorang sudah berhenti berolahraga dan beristirahat juga perlu menjadi perhatian.

Gejala yang perlu diwaspadai

Menurut Vito, heart rate yang meningkat saat olahraga tidak selalu berarti jantung sedang dalam kondisi berbahaya. Namun, situasinya berbeda jika peningkatan denyut disertai gejala tertentu.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai saat berolahraga antara lain:

• Dada terasa nyeri atau tertekan.

• Sesak napas yang tidak sebanding dengan aktivitas.

• Pusing, merasa hampir pingsan, atau benar-benar pingsan.

• Jantung berdebar disertai rasa lemas yang tidak biasa.

• Keringat dingin yang muncul sepanjang aktivitas.

Jika gejala tersebut muncul, olahraga sebaiknya segera dihentikan. Seseorang juga tidak dianjurkan memaksakan diri hanya karena angka heart rate yang terlihat pada smartwatch masih berada dalam batas tertentu.

"Nyeri dada, sesak berat, apalagi dengan keringat dingin atau pingsan memerlukan pertolongan medis segera. Jangan menunggu angka smartwatch," ujar Vito.

Jangan terpaku pada angka heart rate

Saat ini, banyak orang menggunakan smartwatch atau perangkat pemantau kebugaran untuk melihat heart rate ketika berolahraga. Angka tersebut dapat membantu memantau respons tubuh terhadap aktivitas fisik, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya patokan untuk menentukan apakah olahraga aman.

Angka heart rate maksimal juga kerap dihitung menggunakan rumus berdasarkan usia. Namun, hasil rumus tersebut hanya menjadi perkiraan dan tidak otomatis menunjukkan batas aman atau berbahaya bagi setiap orang.

"Melewati angka hasil rumus tidak otomatis berarti jantung langsung sedang dalam bahaya. Sebaliknya, berada di bawah angka itu juga tidak menjamin aman apabila ada riwayat gejala atau penyakit jantung," kata Vito.

Karena itu, seseorang sebaiknya tidak hanya memperhatikan angka heart rate saat olahraga, tetapi juga mengenali respons tubuh. Bila denyut jantung terasa berbeda dari biasanya atau muncul keluhan seperti nyeri dada, sesak berat, pusing, hingga pingsan, aktivitas perlu dihentikan dan segera mendapat pertolongan medis bila gejalanya berat.

(tis/tis)
placeholder