Liburan ke Luar Negeri Kala Rakyat Susah, 'Tone Deaf' atau Bukan?

CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 11:15 WIB
Apakah berlibur ke luar negeri saat kondisi di dalam negeri sedang sulit itu tergolong tone deaf?
Ilustrasi. Apakah berlibur ke luar negeri saat kondisi di dalam negeri sedang sulit itu tergolong tone deaf? (iStockphoto/Husam Cakaloglu)

Mengapa sekarang mudah muncul daftar public figure 'tone deaf'?

Fenomena lain yang ikut muncul adalah daftar nama figur publik yang dianggap tone deaf, bahkan disertai ajakan untuk melakukan blacklist atau berhenti mendukung mereka.

Devie menilai, masyarakat memang memiliki hak untuk memberikan kritik dan menentukan siapa yang ingin mereka dukung. Konsumen juga berhak berhenti mengikuti atau menggunakan produk tertentu ketika tidak lagi merasa cocok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Media sosial membuat kita semua sekarang bisa menjadi pengawas. Itu baik, tetapi jangan sampai dari pengawas menjadi pemvonis, dari mengoreksi menjadi menghakimi," ujarnya.

"Manusia adalah perjalanan, bukan satu unggahan. Karakter adalah rangkaian, bukan satu kesalahan," ucap Devie lagi.

Ia membedakan antara akuntabilitas dan penghukuman. Akuntabilitas meminta seseorang bertanggung jawab atas tindakan yang keliru dan memperbaikinya.

Di sisi lain, penghakiman cenderung membuat satu kesalahan menjadi label yang melekat pada seseorang. Meski begitu, Devie menilai blacklist tidak selalu salah.

"Kalau ada tindakan yang jelas merugikan, dilakukan berulang, tidak ada pertanggungjawaban, dan berdampak serius kepada masyarakat, publik mempunyai hak untuk mengambil sikap, tetapi hukumannya harus sepadan dengan kesalahannya," ujarnya.

Devie menyebut kuatnya fenomena pelabelan tone deaf saat ini tak lepas dari karakter media sosial yang membuat respons terhadap suatu peristiwa bergerak sangat cepat.

"Di media sosial, emosi berlari, konteks sering tertinggal," katanya.

Konten yang memancing kemarahan cenderung lebih mudah menarik perhatian. Adapun persoalan yang membutuhkan konteks dan penjelasan, sering kali tidak sesederhana potongan video atau satu unggahan.

Akibatnya, kritik terhadap sebuah tindakan bisa dengan cepat bergeser menjadi penilaian terhadap karakter seseorang.

"Kita tidak lagi berkata, 'Perbuatannya kurang tepat.' Kita melompat menjadi, 'Orangnya jahat,'" Devie memaparkan.

[Gambas:Video CNN]

Ia menyarankan masyarakat melihat setidaknya lima hal sebelum ikut memberikan label atau menghakimi seseorang, yakni konteks, kedudukan, konten, konsekuensi, dan koreksi:

  1. Konteks: Memahami apa yang sebenarnya terjadi.
  2. Kedudukan: Melihat siapa yang berbicara dan dari posisi apa.
  3. Konten: Apa yang benar-benar disampaikan
  4. Konsekuensi: Melihat siapa yang dirugikan.
  5. Koreksi: Mempertimbangkan apakah masih ada ruang bagi orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya.

"Kita boleh mengingatkan orang yang salah, tetapi jangan menikmati ketika orang itu kalah," ucap Devi.

(anm/rti)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2