Ilustrasi. Mindfulness mengajak kita untuk sadar terhadap situasi sekitar, bukan mengisolasi diri atau lari dari masalah. (REUTERS/KIM KYUNG-HOON)
Siapa pun bisa mendapat manfaat dari latihan mindfulness. Berdasarkan pengalaman Putra sendiri sebagai praktisi mindfulness, latihan ini bisa memberikan dampak baik bagi orang yang mengalami berbagai kesulitan dalam hidup.
Namun, latihan mindfulness juga bisa dilakukan oleh orang yang merasa mentalnya sedang baik-baik saja. Ibarat olahraga agar tubuh tetap bugar, latihan mindfulness juga penting untuk menjaga kesehatan mental.
"Jauh lebih baik mencegah daripada mengobati. Ketika hidup kita baik-baik saja, ya latihlah mindfulness di kondisi itu," ujar Putra.
Apalagi di tengah kegaduhan yang kini terjadi di mana-mana. Saat terus berada dalam 'keramaian', seseorang cenderung jadi bingung, emosional, hingga impulsif. Adapun bersikap mindful terhadap kabar buruk bisa membantu kita melihat masalah secara utuh dan mengurangi efek negatif berita.
Hal ini didukung oleh sebuah studi dari China oleh Ya Yang et al di jurnal Frontiers in Psychology (2010). Para peneliti membuktikan mindfulness dapat mengurangi efek emosi negatif dari berita.
Studi dilakukan terhadap 64 peserta yang sudah mendapat paparan berita negatif dengan rangsangan emosional negatif. Mereka dibagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok yang mendapatkan pelatihan mindfulness, kelompok plasebo, dan kelompok kontrol.
Hasilnya menunjukkan, skor kelompok mindfulness secara keseluruhan lebih tinggi ketimbang kelompok plasebo dan kontrol. Terutama dalam aspek kesadaran bertindak, tidak menghakimi, dan mengurangi efek negatif dari pemberitaan negatif.
Adapun skor emosi negatif di kelompok mindfulness turun dari 17,88 menjadi 15,06. Sebaliknya, di kelompok plasebo, skor justru naik dari 14,81 menjadi 18,00.
Terlepas dari hasil studi tersebut, Putra berpendapat latihan mindfulness bisa berdampak positif hampir di semua permasalahan kita.
"Hampir semua masalah kita, itu kan kalau dirunut akarnya mirip-mirip. Dan mindfulness bisa membantu kita untuk menyadari akar-akar masalah itu, sehingga kita bisa pelan-pelan keluar dari pola-pola masalah tersebut," tuturnya.
Menurutnya, bersikap mindful terhadap berita buruk bisa membantu kita untuk berbuat baik terhadap orang lain. Berbeda jika hanya mengonsumsi berita negatif tanpa dikelola dengan tepat, akhirnya yang didapat hanya kelelahan emosi.
"Nah, mindfulness ajak kita untuk, 'coba deh, kita lihat masalahnya secara utuh.' Kita marah boleh, ngamuk-ngamuk jangan. Kita gunakan kemarahan kita dengan cara yang bijak, dengan cara yang tepat, agar bisa lebih tepat sasaran," ucapnya.
Yang jelas, Putra menegaskan, mindfulness bukan berarti praktik mengisolasi diri yang membuat seseorang abai dengan dunia. Justru, mindfulness seyogianya bisa membuat kita lebih sadar akan situasi apa yang terjadi di sekitar.
Sebaliknya, semakin kita menjauhkan atau mengisolasi diri dari apa yang terjadi saat ini, justru itu jadi tanda bahwa seseorang tidak berada dalam kondisi mindful.
Akhir-akhir ini, makna mindfulness jadi mengerdil sekadar meditasi dalam rangka menarik diri dan mengambil jarak dari riuhnya dunia.
Tak sedikit yang berpendapat miring bahwa mindfulness jadi gaya hidup buat orang-orang yang punya privilese. Di sisi lain, banyak dari kita yang masih sibuk bekerja dan bertahan hidup. Boro-boro bersikap mindful, mencari sesuap nasi saja sulit.
Namun sebenarnya apa itu mindfulness? Apakah benar mempraktikkan latihan mindfulness membuat kita malah jadi mengabaikan dunia dan tak peka akan keadaan sekitar?
Konsep mindfulness yang sebenarnya
Praktisi mindfulness Putra Wiramuda mengungkap apa yang jadi konsep dasar mindfulness, yang pada dasarnya mengajarkan soal kesadaran.
"Sebenarnya tujuan kita berlatih mindfulness itu supaya kita sadar, kan. Sadar apa yang terjadi di diri kita, sadar apa yang terjadi di emosi kita, sadar apa yang sedang kita lakukan saat itu. Termasuk kita juga menyadari dampak dari perilaku yang kita lakukan," tutur Putra saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (6/10).
Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada ini melanjutkan, dengan kesadaran itu kita bisa melihat masalah lebih jernih dan mengambil sikap lebih tepat, bahkan bisa membantu meringankan dan penderitaan orang lain.
Merunut jauh ke belakang, mindfulness sebenarnya berakar dari ajaran Buddha yang mengacu pada kesadaran berkelanjutan terhadap sensasi tubuh, emosi, dan kondisi mental. Konsep ini erat kaitannya dengan meditasi.
Kini, mindfulness sudah jadi sesuatu yang umum diketahui. Sayang, informasiyang tak disampaikan dengan tepat bisa menimbulkan stigma negatif yang berujung pada anggapan bahwa mindfulness adalah sarana untuk mengisolasi diri.
"Nah kenyataannya, justru malah kalau kita makin mengisolasi diri, kita justru makin tidak mindful. Mindfulness mengajak kita untuk sadar dengan berbagai hal yang ada di diri kita dan sekitar kita," ujar Putra.
Mindfulness itu untuk semua orang
Mindfulness sempat 'dituduh' elitis. Anggapan ini muncul setelah perkara unggahan seorang artis yang beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan di media sosial.
Dalam konteks gonjang-ganjing dunia yang terjadi belakangan, mindfulness dianggap sebagai cara seseorang kabur dari realita. Padahal, mindful sebenarnya bisa membantu kita untuk menyadari dan memahami apa yang terjadi di sekitar, sekalipun itu situasi yang buruk.
Artinya, mindfulness sebenarnya bukan ditujukan untuk kelompok orang tertentu, melainkan semua orang dalam menghadapi dunia yang kian bising. Putra mengatakan, teknik ini mampu membuat kita mengambil jarak sejenak untuk melihat permasalahan secara utuh lalu mengambil keputusan atau tindakan secara sadar.
"Sebenarnya mindfulness itu bisa saya katakan dibutuhkan oleh semua orang. Analogi mudahnya gini, kira-kira di dunia ini, siapa sih yang nggak butuh untuk sadar dengan kondisi diri, emosi, dan lingkungannya?" tutur Putra.
Baca halaman selanjutnya tentang mindfulness itu untuk semua orang atau tidak...
Mindfulness itu untuk semua orang
Ilustrasi. Mindfulness mengajak kita untuk sadar terhadap situasi sekitar, bukan mengisolasi diri atau lari dari masalah. (istockphoto/Jasmina007)
Siapa pun bisa mendapat manfaat dari latihan mindfulness. Berdasarkan pengalaman Putra sendiri sebagai praktisi mindfulness, latihan ini bisa memberikan dampak baik bagi orang yang mengalami berbagai kesulitan dalam hidup.
Namun, latihan mindfulness juga bisa dilakukan oleh orang yang merasa mentalnya sedang baik-baik saja. Ibarat olahraga agar tubuh tetap bugar, latihan mindfulness juga penting untuk menjaga kesehatan mental.
"Jauh lebih baik mencegah daripada mengobati. Ketika hidup kita baik-baik saja, ya latihlah mindfulness di kondisi itu," ujar Putra.
Apalagi di tengah kegaduhan yang kini terjadi di mana-mana. Saat terus berada dalam 'keramaian', seseorang cenderung jadi bingung, emosional, hingga impulsif. Adapun bersikap mindful terhadap kabar buruk bisa membantu kita melihat masalah secara utuh dan mengurangi efek negatif berita.
Hal ini didukung oleh sebuah studi dari China oleh Ya Yang et al di jurnal Frontiers in Psychology (2010). Para peneliti membuktikan mindfulness dapat mengurangi efek emosi negatif dari berita.
Studi dilakukan terhadap 64 peserta yang sudah mendapat paparan berita negatif dengan rangsangan emosional negatif. Mereka dibagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok yang mendapatkan pelatihan mindfulness, kelompok plasebo, dan kelompok kontrol.
Hasilnya menunjukkan, skor kelompok mindfulness secara keseluruhan lebih tinggi ketimbang kelompok plasebo dan kontrol. Terutama dalam aspek kesadaran bertindak, tidak menghakimi, dan mengurangi efek negatif dari pemberitaan negatif.
Adapun skor emosi negatif di kelompok mindfulness turun dari 17,88 menjadi 15,06. Sebaliknya, di kelompok plasebo, skor justru naik dari 14,81 menjadi 18,00.
Terlepas dari hasil studi tersebut, Putra berpendapat latihan mindfulness bisa berdampak positif hampir di semua permasalahan kita.
"Hampir semua masalah kita, itu kan kalau dirunut akarnya mirip-mirip. Dan mindfulness bisa membantu kita untuk menyadari akar-akar masalah itu, sehingga kita bisa pelan-pelan keluar dari pola-pola masalah tersebut," tuturnya.
Menurutnya, bersikap mindful terhadap berita buruk bisa membantu kita untuk berbuat baik terhadap orang lain. Berbeda jika hanya mengonsumsi berita negatif tanpa dikelola dengan tepat, akhirnya yang didapat hanya kelelahan emosi.
"Nah, mindfulness ajak kita untuk, 'coba deh, kita lihat masalahnya secara utuh.' Kita marah boleh, ngamuk-ngamuk jangan. Kita gunakan kemarahan kita dengan cara yang bijak, dengan cara yang tepat, agar bisa lebih tepat sasaran," ucapnya.
Yang jelas, Putra menegaskan, mindfulness bukan berarti praktik mengisolasi diri yang membuat seseorang abai dengan dunia. Justru, mindfulness seyogianya bisa membuat kita lebih sadar akan situasi apa yang terjadi di sekitar.
Sebaliknya, semakin kita menjauhkan atau mengisolasi diri dari apa yang terjadi saat ini, justru itu jadi tanda bahwa seseorang tidak berada dalam kondisi mindful.