HARI KESEHATAN MENTAL SEDUNIA

Otak Punya Batas Mencerna Berita Buruk, Bagaimana Mengelolanya?

rti | CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 20:45 WIB
Kebanjiran berita buruk bisa membuat kita alami kelelahan mental. Namun berita buruk tak bisa dihindari. Ini cara mengelolanya dengan tepat.
Ilustrasi. Kebanjiran berita buruk bisa membuat kita alami kelelahan mental. Namun berita buruk tak bisa dihindari. Ini cara mengelolanya dengan tepat. (iStockphoto)

3. Sulit berhenti dan memengaruhi kesehatan fisik

Tanda ketiga, seseorang jadi sulit berhenti untuk doom scrolling. Di satu sisi merasa tak nyaman dengan kabar buruk, tetapi takut pula ketinggalan informasi terkini.

"Kalau terus-menerus terjadi, akhirnya tubuh kita juga jadi ikut terkena dampak. Stres yang berkelanjutan tentu akan bikin asam lambung naik, kita jadi sensitif, lebih mudah terkena GERD gitu, ya," tutur Putra.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain gangguan fisik, produktivitas juga bisa menurun dan merusak relasi dengan orang terdekat karena pengaruh emosi negatif akibat paparan berita buruk.

Terkait efek paparan berita buruk terhadap kesehatan fisik, sudah terbukti pula dalam sejumlah penelitian. Salah satunya, studi Bryan McLaughlin et al. di jurnal Health Communication (2024).

Para peneliti membuktikan ada respons fisiologis dari orang yang mengonsumsi berita buruk atau (problematic news consumption/PNC). Tubuh bereaksi sebelum pikiran memutuskan apakah ancaman tersebut relevan.

Hasil studi menunjukkan, 17 persen partisipan memiliki tingkat PNC yang parah. Dari jumlah tersebut, 61 persen di antaranya melaporkan merasa tidak sehat yang cukup parah. Hanya 6 persen yang menyatakan baik-baik saja.

Bukan menghindari berita buruk, ini yang perlu dilakukan

Bias negativitas menunjukkan, manusia cenderung fokus ke berita buruk, terus mencari sesuatu yang mengancam. Akibatnya, emosi jadi tidak stabil, stres, kecewa, hingga lelah mental dan fisik. Upaya untuk mencari terus inilah yang membuat seseorang terjebak doom scrolling.

"Yang pada akhirnya, jangan-jangan bisa membuat secondary traumatic stress," tutur Putra.

Berita buruk tak perlu langsung dihindari. Alih-alih langsung menghindari, Putra mengajak kita untuk terlebih dahulu mengenal batasan diri. 

[Gambas:Video CNN]

Ketika tahu seberapa besar kapasitas kita dalam menerima kabar buruk, kita tahu kapan harus berhenti mengumpulkan informasi. Kemudian, lihat permasalahan secara utuh dari informasi yang terkumpul.

"Di satu sisi, memang kita butuh sadar, tahu apa sih, isu-isu sosial. Tapi di sisi lain, 'oke, informasinya begini cukup.' Pertanyaan selanjutnya, 'apa yang bisa saya lakukan untuk membantu meringankan mereka?'," tutur penulis buku Di Sini dan Saat Ini.

(rti/asr)

HALAMAN:
1 2