Jakarta, CNN Indonesia -- Satu ponsel dalam genggaman bisa membuka jendela ke berbagai penjuru dunia. Dari kabar politik, bencana, konflik di negara lain, sampai persoalan yang terjadi di sekitar kita, semuanya bisa muncul hanya dengan membuka media sosial.
Belum selesai memahami satu kabar, muncul kabar lain. Bagi sebagian orang, derasnya informasi yang datang serentak justru membuat kepala terasa penuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alda (29) salah satunya. Ia membagikan pengalamannya lewat Threads setelah merasa kewalahan mengikuti arus informasi di media sosial.
"Pemicu saya mengalami overwhelmed adalah banyak fakta-fakta yang mulai campur aduk kebenarannya atau campur aduk dengan opini dan ditambah gempuran AI yang dengan mudah edit video atau foto," kata Alda kepada CNNIndonesia.com, Rabu (7/10).
Situasi kian berat ketika berita berkaitan dengan persoalan yang menyentuh kehidupan sehari-harinya. Alda sendiri merupakan salah satu warga Kalimantan Timur yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Mudah sekali merasa overwhelmed dan ke-trigger untuk 'marah'," ujarnya.
Karena itu, Alda mulai menyaring informasi yang masuk ke linimasanya. Ia membatasi hal-hal apa saja yang bisa masuk ke timeline-nya.
"Biasanya yang saya lakukan adalah saya akan klik not interested/mute beberapa kata kuncinya agak tidak lewat ke timeline saya," jelasnya.
Keputusan untuk membatasi informasi dari arus berita ternyata masih terus menyisakan keraguan. Ketika banyak orang terus mengikuti perkembangan suatu isu, apakah kita yang memilih mengambil jarak justru sedang menutup mata?
Psikolog Veronica Adesla menilai membatasi informasi justru bisa menjadi bagian dari cara seseorang mengatur dan mengelola diri.
"Membatasi itu adalah bagian dari mengatur dan mengelola. Bukan apatis. Apatis itu tidak peduli," kata Veronica saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/10).
Namun, membatasi bukan berarti menghilangkan semua informasi. Toh, informasi dibutuhkan untuk membantu seseorang memahami situasi dan mengambil keputusan. Hanya saja, konsumsi informasi bisa dilakukan dengan lebih bijak, tanpa harus tenggelam di dalamnya.
"Kita tetap harus terkoneksi dengan apa yang terjadi di masyarakat, negara kita, maupun global. Tetapi kita perlu punya batas supaya kita tetap terkoneksi, tapi tidak tenggelam di dalamnya," lanjutnya.
Pasalnya, terlalu tenggelam ke dalam informasi yang berseliweran di media sosial juga bisa berdampak negatif terhadap kesejahteraan. Overwhelmed, orang-orang menyebutnya.
Dalam hal ini, overwhelmed didefinisikan sebagai kondisi kewalahan, yang kadang disertai kecemasan, akibat paparan informasi yang menerus. Utamanya, informasi negatif.
Ketika diam ikut dipertanyakan
Masalahnya, memilih untuk tidak terus mengikuti berita belum tentu membuat seseorang lepas dari tekanan. Di media sosial, kepedulian kerap diukur dari unggahan, komentar, atau penggunaan tagar tertentu. Ketika seseorang tidak melakukan hal-hal tersebut, diamnya bisa ditafsirkan sebagai ketidakpedulian.
Pengamat sosial budaya, Devie Rahmawati melihat pergeseran cara masyarakat menilai kepedulian. Jika dulu kepedulian lebih banyak dilihat dari tindakan, kini apa yang ditampilkan di ruang digital juga menjadi tolak ukur.
"Kita sedang hidup di zaman ketika diam harus dijelaskan, padahal tidak semua kepedulian harus dipamerkan," kata Devie, Selasa (6/10).
Tekanan untuk menunjukkan kepedulian itu juga berkelindan dengan derasnya informasi yang diterima setiap hari. Devie melihat, media sosial membuat tuntutan untuk mengikuti berbagai persoalan semakin kuat.
"Batas antara jurnalis, aktivis, selebritas, teman, dan komentator pun semakin kabur. Semua bisa menyampaikan informasi sekaligus memberikan penilaian terhadap suatu peristiwa," paparnya.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Di Tengah Riuh Dunia, Memilih Diam Bukan Berarti Apatis
Ilustrasi. Di tengah derasnya arus informasi, memilih diam atau mengambil jarak bukan berarti apatis, melainkan kunci mempertahankan 'kewarasan' untuk tetap peduli. (iStock/SeventyFour)
Dalam situasi ini, muncul apa yang disebut Devie sebagai 'kewajiban opini', perasaan bahwa seseorang yang baik harus mengetahui setiap isu, memahami setiap konflik, menentukan posisi, lalu mengumumkan sikapnya. Padahal, kemampuan manusia untuk menerima informasi tidak sama dengan kapasitasnya untuk memproses semua persoalan secara mendalam.
"Kita mempunyai akses informasi yang hampir tak terbatas, tetapi kapasitas emosi yang tetap terbatas," kata Devie.
Lagi pula, menurut Devie, menjadi kepedulian bukan berarti membuat seseorang harus menjadi komentator untuk seluruh isu. Tidak ikut bersuara dalam setiap isu yang muncul di linimasa, bukan otomatis berarti seseorang tidak peduli.
Yang perlu dilihat adalah bagaimana seseorang memahami isu tersebut dan menentukan bentuk kepedulian yang bisa ia lakukan. Devie mengajak masyarakat menggeser cara memandang kepedulian, dari sekadar menunjukkan perhatian di ruang publik menjadi kontribusi yang benar-benar bermakna.
"Kita perlu mengubah definisi kepedulian dari performative concern menjadi meaningful contribution," katanya.
Tidak semua persoalan harus menjadi tanggung jawab pribadi. Seseorang bisa memilih isu yang paling dekat dengan pengetahuan, pengalaman, sumber daya, atau kemampuan yang dimilikinya. Dari sana, kontribusi bisa mengambil bentuk yang berbeda-beda.
Guru bisa memperbaiki satu kelas. Dokter bisa menjaga pasien. Pengusaha bisa menciptakan pekerjaan. Orang tua bisa membesarkan anak dengan baik. Warga bisa membantu tetangganya.
"Karena kepedulian yang kecil, tetapi konsisten sering kali lebih bernilai daripada kemarahan besar yang berumur 24 jam di Instagram Story," ujar Devie.
Kewarasan diri tak harus dikorbankan untuk membuktikan kepedulian pada dunia. Kepedulian yang berkelanjutan membutuhkan ruang untuk bernapas, kemampuan memilah apa yang perlu diperhatikan, dan kesadaran mengenai apa yang bisa dilakukan.
Toh, jika kewarasan itu berkurang akibat paparan informasi yang berlebihan, bagaimana kita bisa 'menyelamatkan dunia'?