HARI KESEHATAN MENTAL SEDUNIA

Di Tengah Riuh Dunia, Memilih Diam Bukan Berarti Apatis

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 10:00 WIB
Di tengah derasnya arus informasi, memilih diam atau mengambil jarak bukan berarti apatis, melainkan kunci mempertahankan 'kewarasan' untuk tetap peduli.
Ilustrasi. Di tengah derasnya arus informasi, memilih diam atau mengambil jarak bukan berarti apatis, melainkan kunci mempertahankan 'kewarasan' untuk tetap peduli. (iStock/tadamichi)

Dalam situasi ini, muncul apa yang disebut Devie sebagai 'kewajiban opini', perasaan bahwa seseorang yang baik harus mengetahui setiap isu, memahami setiap konflik, menentukan posisi, lalu mengumumkan sikapnya. Padahal, kemampuan manusia untuk menerima informasi tidak sama dengan kapasitasnya untuk memproses semua persoalan secara mendalam.

"Kita mempunyai akses informasi yang hampir tak terbatas, tetapi kapasitas emosi yang tetap terbatas," kata Devie.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lagi pula, menurut Devie, menjadi kepedulian bukan berarti membuat seseorang harus menjadi komentator untuk seluruh isu. Tidak ikut bersuara dalam setiap isu yang muncul di linimasa, bukan otomatis berarti seseorang tidak peduli.

Yang perlu dilihat adalah bagaimana seseorang memahami isu tersebut dan menentukan bentuk kepedulian yang bisa ia lakukan. Devie mengajak masyarakat menggeser cara memandang kepedulian, dari sekadar menunjukkan perhatian di ruang publik menjadi kontribusi yang benar-benar bermakna.

"Kita perlu mengubah definisi kepedulian dari performative concern menjadi meaningful contribution," katanya.

Tidak semua persoalan harus menjadi tanggung jawab pribadi. Seseorang bisa memilih isu yang paling dekat dengan pengetahuan, pengalaman, sumber daya, atau kemampuan yang dimilikinya. Dari sana, kontribusi bisa mengambil bentuk yang berbeda-beda.

Guru bisa memperbaiki satu kelas. Dokter bisa menjaga pasien. Pengusaha bisa menciptakan pekerjaan. Orang tua bisa membesarkan anak dengan baik. Warga bisa membantu tetangganya.

"Karena kepedulian yang kecil, tetapi konsisten sering kali lebih bernilai daripada kemarahan besar yang berumur 24 jam di Instagram Story," ujar Devie.

Kewarasan diri tak harus dikorbankan untuk membuktikan kepedulian pada dunia. Kepedulian yang berkelanjutan membutuhkan ruang untuk bernapas, kemampuan memilah apa yang perlu diperhatikan, dan kesadaran mengenai apa yang bisa dilakukan.

Toh, jika kewarasan itu berkurang akibat paparan informasi yang berlebihan, bagaimana kita bisa 'menyelamatkan dunia'?

(asr)

HALAMAN:
1 2