Angka Kelahiran Turun, Singapura Bikin Aplikasi Kencan Khusus ASN
Mencari pasangan lewat aplikasi kencan bisa menjadi pengalaman yang melelahkan, mulai dari memilih profil hingga menjalani kencan pertama yang berujung tanpa kejelasan. Pemerintah Singapura pun coba menawarkan alternatif aplikasi kencan khusus aparatur sipil negara (ASN).
Aplikasi bernama FirstDate itu dikembangkan oleh Government Technology Agency of Singapore (GovTech) dan mulai diuji coba pada September 2026. Penggunanya dibatasi untuk pegawai pemerintah berusia 21-35 tahun.
Lihat Juga : |
FirstDate hadir ketika Singapura menghadapi angka kelahiran yang terus menurun. Tingkat kesuburan total atau total fertility rate (TFR) negara tersebut mencapai rekor terendah, yakni 0,87 pada 2025.
Melalui aplikasi ini, Pemerintah Singapura mencoba membantu para lajang menemukan pasangan yang dinilai cocok berdasarkan minat, nilai hidup, dan preferensi masing-masing.
Cara kerja aplikasi FirstDate
Mengutip South China Morning Post, pengguna FirstDate diminta mengisi survei mengenai minat dan nilai-nilai yang mereka anggap penting dalam hubungan.
Informasi tersebut kemudian diolah menggunakan algoritma untuk merekomendasikan pasangan yang dinilai sesuai.
Algoritma yang digunakan dikembangkan berdasarkan pendekatan ekonomi yang turut mengantarkan salah satu penciptanya meraih Nobel Memorial Prize in Economic Sciences pada 2012.
Berbeda dari aplikasi kencan yang memungkinkan pengguna terus menggeser profil untuk mencari pasangan, FirstDate mempertemukan peserta dengan satu calon pasangan dalam setiap siklus pencocokan.
Satu siklus pencocokan berlangsung sekitar satu bulan. Pendaftaran gelombang pertama ditutup pada 5 Oktober 2026, setelah undangan melalui surel dikirimkan kepada pegawai pemerintah sepekan sebelumnya.
Meski begitu, GovTech belum memutuskan apakah aplikasi tersebut akan diperluas untuk masyarakat umum. Jumlah pegawai pemerintah yang memenuhi kriteria pengguna aplikasi ini juga belum diumumkan.
Berdasarkan data portal pekerjaan pemerintah Singapura, jumlah pegawai sektor pelayanan publik di negara tersebut mencapai sekitar 158 ribu orang per Maret 2026.
Ini bukan kali pertama Pemerintah Singapura menjodohkan warganya. Jadi, upaya Pemerintah Singapura membantu warganya menemukan pasangan bukanlah hal baru.
Pada 1984, pemerintah membentuk Social Development Unit (SDU) untuk mempertemukan lulusan universitas melalui berbagai kegiatan. Setahun kemudian, Social Development Section dibentuk bagi warga dengan kualifikasi pendidikan menengah.
Kedua lembaga tersebut kemudian digabungkan pada 2009 menjadi Social Development Network. Tujuannya memperluas kesempatan warga lajang untuk bertemu dan menjalin hubungan.
Jepang dan Korea Selatan juga punya program serupa
Singapura bukan satu-satunya negara Asia yang mencoba membantu warganya menemukan pasangan di tengah penurunan angka kelahiran.
Pada 2024, Jepang meluncurkan aplikasi kencan yang didukung pemerintah. Pengguna diwajibkan membuktikan keseriusan untuk menikah, memverifikasi pendapatan, dan menjalani wawancara dengan pengelola aplikasi.
Berdasarkan data Pemerintah Jepang, hingga Juni 2026, aplikasi tersebut telah mencatat 16 ribu pendaftar. Sebanyak 760 pasangan dilaporkan berada dalam hubungan serius, sedangkan 265 pasangan telah menikah.
Korea Selatan juga mencoba pendekatan berbeda. Pada 2024, Pemerintah Kota Seoul menggelar program pertemuan bagi para lajang melalui kegiatan yang dikurasi, termasuk makan bersama di luar ruangan di tepi Sungai Han.
Program tersebut mempertemukan 126 pasangan. Edisi berikutnya yang digelar pada 2026 bahkan menarik lebih dari 2.300 pendaftar berusia 25-45 tahun untuk memperebutkan 100 tempat.
(rti)