Ketika Batik dan Tenun Curi Perhatian di Premiere Classe Paris

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 21:30 WIB
Ajang Premiere Classe di Paris, Prancis jadi wadah kalangan pelaku industri kreatif untuk membangun koneksi bisnis. Desainer Indonesia turut berpartisipasi dalam gelaran ini di bawah bendera Pintu Incubator. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bicara Paris tak hanya soal Paris Fashion Week tapi juga Premiere Classe. Dalam ajang yang menghubungkan profesional dunia mode ini, dua desainer Indonesia, Gabriel Marcella dan Beatrice Angelica, unjuk hasil kolaborasi mereka dengan dua desainer Prancis, Lisa Rayar dan Mickael Nana.

Tak bisa dimungkiri ajang bergengsi Paris Fashion Week jadi magnet 'Kota Mode' Paris. Namun buat kalangan profesional dunia mode seperti, desainer, stylist, department store, concept store, perajin, Premiere Classe jadi gelaran yang dinanti.

Bertempat di Jardin des Tuileries, Premiere Classe bisa dibilang wadah pertemuan antara mode dan bisnis. Karya yang semula hanya diketahui dan dinikmati kalangan terbatas berpeluang dikenal bahkan diperjualbelikan lebih luas. Busana, misal, yang awalnya dijual di toko sendiri, dapat dilirik pengelola butik atau department store besar sehingga mendapat atensi lebih.

Menampung pelaku industri mode dari berbagai belahan dunia, Indonesia rupanya ikut ambil bagian dalam gelaran ini. Pintu Incubator, program inkubasi dan akselerasi bisnis sektor mode yang digagas Indonesia-Prancis, mengusung dua koleksi yakni 'Garuda' karya Beatrice Angelica dan Mickael Nana dan 'Au Large' karya Gabriel Marcella dan Lisa Rayar.

Keempat desainer merupakan peserta program Pintu Residency yang mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis untuk berkolaborasi.

Giliran tenun untuk bersinar

'Garuda' dan 'Au Large' sudah sempat dipamerkan di ajang JF3 Fashion Festival 2026 pada Juli lalu. 'Garuda' mempertemukan wastra Nusantara khususnya tenun Lombok dan siluet-siluet bernuansa Eropa. Sementara 'Au Large' menggunakan batik Mojokerto guna menggambarkan dialog dunia maritim Prancis dan komunitas di pesisir utara Jawa.

Masyarakat internasional sudah mengenal batik apalagi batik telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.

Meski demikian, Gabriel mengaku pengunjung tetap menunjukkan ketertarikan terhadap batik yang digunakan untuk koleksi 'Au Large'.

"Mereka memperhatikan kalau batik yang kami bawa ini kontemporer, bukan batik yang tradisional. Jadi untuk yang sudah paham dunia fashion, biasanya pada lebih tertarik. Oh ini ternyata motifnya unik. Saya juga jelaskan prosesnya sehingga mereka lebih paham," ujar Gabriel saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Berbincang dengan Lisa Rayar, para pengunjung tak hanya tertarik pada batik tapi juga siluet-siluet koleksinya bersama Gabriel. Banyak dari pengunjung yang mengomentari tas besar yang melengkapi tampilan busana.

Koleksi bertajuk 'Au Large' rancangan Gabriel Marcella dan Lisa Rayar di Premiere Classe, Paris, Prancis. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari) 

Sementara itu, Premiere Classe juga jadi kesempatan untuk memperkenalkan tenun yang bisa dibilang belum sepopuler batik.

Beatrice bercerita pengunjung umumnya mengira tenun Lombok layaknya embroidery atau bordir di atas kain.

"Saat dijelaskan, mereka terkejut, ternyata saat dilihat semuanya ditenun tangan (hand woven). Mereka jadi mengerti kalau butuh waktu lama hanya untuk membuat satu busana," katanya.

Ajang promosi

Premiere Classe jadi ajang promosi dan membangun koneksi antarpelaku industri kreatif. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari) 


Barangkali Premiere Classe masih asing di telinga terutama di kalangan konsumen. Wajar saja sebab ajang ini memang tidak diperuntukkan bagi konsumen. PremiereClasse memiliki arti penting bagi pelaku mode terutama mereka yang ingin memperluas bisnis.

Menurut Thresia Mareta, Co-initiator Pintu Incubator, masuk Premiere Classe seperti masuk ke multi brand store atau department store yang terkurasi. Ajang ini pun memastikan pengunjung pun bukan pengunjung biasa. Mereka adalah buyer yang terdiri dari toko, department store, concept store, stylist, dan para pelaku mode yang berkaitan dengan bisnis.

"Gelaran ini sudah jelas ada traffic-nya. Kalau tidak ada ajang ini, pilihannya masuk ke showroom. Kalau seperti itu, harus usaha banget apalagi kalau tidak punya base di sini," katanya saat diwawancara secara terpisah.

Dia menambahkan selain jaminan pengunjung yang sudah terkurasi, gelaran juga membantu mempromosikan jenama. Para buyer sudah mendapatkan informasi seputar jenama dan produknya sebelum mereka berkunjung.

Gelaran serupa, lanjut Thresia, belum ia temukan di Indonesia. Di Indonesia umumnya pameran mempertemukan antara produk dan pembeli (konsumen).

Sementara itu, Sylvie Pourrat, Director Premiere Classe, mengungkap Premiere Classe yang lahir pada 1989 mulanya wadah untuk para desainer aksesori. Kemudian ajang ini berkembang dan menjadi wadah bagi para pelaku industri kreatif sehingga pesertanya meluas tak hanya desainer aksesori.

"Pasar perlu pergerakan karena pasar tak hanya untuk aksesori. Saat buyer, seseorang yang menyukai mode pergi ke Premiere Classe, dia akan menemukan banyak sekali yang bakal cocok, bakal disukai. 37 tahun lalu memang isinya aksesori, kini lebih ke industri kreatif," katanya.

Suasana Premiere Classe pada Senin (5/10). Berbagai macam produk kreatif dipamerkan tak hanya produk fashion. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari) 

Diselenggarakan bersamaan dengan pekan mode, gelaran ini memberikan kesempatan bagi para penikmat mode untuk melihat apa yang sedang terjadi di pasar saat ini. Menurut Pourrat, mereka jelas bakal menemukan inspirasi dan inilah yang jadi misi Premiere Classe.

Buat Mickael Nana, pada dasarnya ajang ini momen inti bagi industri mode karena di sini para pelaku industri mode bisa berbagi informasi sekaligus memamerkan estetikanya.

"Seperti berbagi tentang pesan yang ingin disampaikan, membagikan koleksi kapsul. Di sini tidak hanya ada buyer tapi juga peluang untuk terhubung dengan banyak pihak jadi sangat menarik," ujar Nana.

Sementara itu, buat Gabriel dan Beatrice, berproses bersama Pintu Incubator hingga bisa bertandang ke Premiere Classe memberikan pelajaran berharga bahwa perlu kedewasaan dan kesiapan secara matang dalam membangun karya.

Premiere Classe turut mempromosikan produk dengan sentuhan personal seperti jenama Queen Kong Gang besutan Manon Bara dan Kamal Regbi. Jenama ini diusung oleh Jill, sebuah ruang pameran yang jadi bagian dari Premiere Classe. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)

"Ternyata pasar ready to wear (pakaian siap pakai) itu harus kita siapkan secara matang. Untuk ready to wear itu kayak simpel ya tapi ternyata persiapannya, mematangkan desain, mematangkan semua yang kita pilih sampai dibawa ke pasar internasional itu harus diperhatikan banget," kata Gabriel.

"Apalagi setelah mengunjungi museum dan workshop-workshop desainer besar jadi melihat mereka sejarahnya sudah panjang dan mengakar," imbuh Beatrice.

Dia menambahkan selama proses ini pun ia semakin mengapresiasi wastra Nusantara. Beatrice bersama jenamanya, Noen, pernah menggunakan wastra. Namun bersama Pintu Residency, ia mengerjakan wastra dari benang sampai jadi busana sekaligus bekerja bersama para perajin.

"Itu membuat saya sadar bahwa ini seni, seni yang indah dan bagaimana cara mereka membuatnya mulai dari memintal benang, menenun, memilih motif, mereka menggunakan pewarna alam. Sungguh menakjubkan untuk disaksikan," ucapnya.

(els)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK