Demensia bisa Ditandai dengan 4 Perubahan Kebiasaan Makan Ini

CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 02:00 WIB
Ilustrasi demensia. (iStock/Sewcream)
Jakarta, CNN Indonesia --

Demensia jadi salah satu masalah kesehatan paling umum di antara kelompok lanjut usia (lansia). Beberapa perubahan dalam kebiasaan makan disebut bisa menjadi tanda awal demensia.

Tanda-tanda tersebut perlu diwaspadai, utamanya bagi Anda yang tinggal dengan orang tua jelang lansia. Tanda-tanda itu meliputi menu makan yang lebih sederhana hingga keinginan untuk mengonsumsi makanan manis.

Demensia sendiri merupakan istilah yang merujuk pada berbagai bentuk gangguan kognitif, yang biasa terjadi pada lansia. Alzheimer jadi salah satu jenis gangguan yang paling umum.

Tak ada obat untuk mengatasi demensia. Pengobatan yang ada berfungsi untuk memperlambat perkembangan penyakit hingga pengidap bisa memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Pikun jadi gejala yang paling umum disadari dari demensia. Namun, ahli neurologi di Mind/Brain Institute John Hopkins University Majid Fotuhi mengatakan, pikun tak jadi satu-satunya tanda awal demensia.

"Sebagai seorang ahli neurologi yang telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari kesehatan otak, salah satu pernyataan paling umum dari keluarga pengidap demensia adalah 'ibu saya mulai makan dengan aneh'," ujar Fotuhi, melansir HuffPost.

Kebiasaan makan yang jadi tanda demensia

Pada fase awal, beberapa pengidap demensia bisa mengalami perubahan kebiasaan makan. Berikut beberapa kebiasaan makan yang perlu diwaspadai.

1. Makanan lebih sederhana

Jika orang tua mulai memasak makanan yang lebih sederhana namun sebelumnya getol meracik sajian yang rumit, maka Anda bisa waspada. Perubahan kebiasaan ini bisa saja jadi salah satu tanda demensia.

Ahli neurologi dari New York University Joel Salinas mengatakan, makanan yang kompleks membutuhkan perencanaan dan pengaturan. Demensia akan memengaruhi kemampuan perencanaan seperti ini.

Orang dengan demensia akan kesulitan dalam merencanakan, berbelanja, dan menyiapkan makanan yang kompleks.

2. Kehilangan minat pada makanan

Kehilangan minat pada makanan juga bisa jadi gejala awal demensia. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di otak.

Perubahan di otak dapat menyebabkan hilangnya indra penciuman, yang mengurangi kenikmatan makanan. Orang dengan demensia bisa menggambarkan makanan sebagai sesuatu yang hambar dan tidak menarik.

3. Lupa waktu makan

Demensia sendiri memengaruhi ingatan. Kondisi ini bisa membuat seseorang lupa waktu makan.

Selain itu, demensia juga memengaruhi sinyal lapar dan kenyang pada tubuh.

"Demensia mempersulit penafsiran sinyal internal tubuh untuk rasa lapar dan kenyang," ujar ahli neurologi lainnya, Adam Mednick.

Kerusakan pada otak yang mengatur nafsu makan dapat mengurangi keinginan untuk makan. Sementara pada saat yang sama, kehilangan ingatan juga dapat membuat seseorang lupa waktu makanan.

"Hasilnya bisa ke mana saja, menyebabkan makan terlalu sedikit atau dalam beberapa kasus, makan berlebihan," ujarnya.

4. Mengidam makanan manis

Mednick mengatakan, kecenderungan mengonsumsi makanan manis adalah salah satu gejala demensia yang paling sering dilaporkan. Perubahan ini diduga berasal dari kerusakan pada sirkuit pengendalian impuls di otak.

Kecenderungan menyukai makanan manis lebih umum terjadi pada penderita demensia frontotemporal (FTD), yang merusak lobus frontal dan temporal pada otak.

"Lobus frontal biasanya membantu kita mengatur impuls dan pilihan makanan. Saat rusak, pengaturan itu melemah, dan sering kali muncul ketertarikan yang kuat terhadap makanan manis," jelasnya.

Meski kebiasaan makan di atas bisa menjadi tanda awal demensia, Fotuhi mengingatkan pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan.

Jika gejala di atas tidak disertai dengan hilangnya kemampuan mengingat dan menilai, maka Anda tak perlu khawatir. Tapi, jika perubahan di atas dibarengi dengan gejala lain seperti penurunan kemampuan untuk berfungsi sehari-hari, maka Anda perlu waspada.

"Inilah mengapa perubahan perilaku makan dan berkelanjutan memerlukan evaluasi medis yang tepat, bukan sekadar tebakan," pungkas Fotuhi.

(asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK