Jalan Kaki Bisa Tingkatkan Fungsi Kognitif? Ini Kata Studi

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 05:30 WIB
Menurut studi terbaru, jumlah langkah jalan kaki yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan fungsi kognitif.
Ilustrasi. Menurut studi terbaru, jumlah langkah jalan kaki yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan fungsi kognitif. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak penelitian yang menganjurkan jalan kaki untuk kesehatan tubuh atau menurunkan berat badan. Namun menurut sebuah studi terbaru, jalan kaki ternyata bisa meningkatkan fungsi kognitif, terutama dalam menjaga perhatian dan mengambil keputusan.

Studi yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports pada Oktober 2026 tersebut, melibatkan 3.093 orang dewasa di Amerika Serikat. Temuannya, kelompok yang lebih aktif bergerak cenderung memperoleh hasil lebih baik dalam sejumlah tes fungsi kognitif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para peneliti menganalisis catatan aktivitas, hasil tes kognitif, serta pengukuran tekanan darah untuk memahami hubungan pergerakan sehari-hari dengan kemampuan berpikir.

Adapun data berasal rekam medis peserta di program penelitian All of Us milik National Institutes of Health, Amerika Serikat. Peserta berusia antara 18 hingga 93 tahun, dengan usia rata-rata sekitar 58 tahun.

"Dalam beberapa ranah kognitif, individu dalam kelompok yang lebih aktif cenderung menunjukkan hasil lebih baik pada pengukuran kognitif," kata psikiater Olaoluwa Okusaga dari Baylor College of Medicine yang juga salah satu peneliti di studi ini, dilansir ScienceAlert.

Butuh berapa langkah per hari untuk tingkatkan fungsi kognitif?

Para peneliti menggunakan rekaman perangkat Fitbit untuk mengukur aktivitas peserta secara objektif. Catatan tersebut mencakup rentang 14 tahun, dari 2009 hingga 2023.

Namun, tidak semua peserta memiliki rekaman sepanjang periode itu. Oleh karena itu, peneliti memperkirakan pola aktivitas masing-masing orang berdasarkan data yang tersedia.

Peserta terbagi menjadi tiga kelompok, dengan rata-rata aktivitas sebanyak 5.108, 8.875, dan 14.161 langkah per hari.

Mulai September 2023, peserta menjalani rangkaian pengujian kognitif. Tes tersebut menilai perhatian berkelanjutan, kemampuan mengabaikan informasi yang mendistraksi, pilihan terhadap reward (imbalan) langsung atau tertunda, serta pengenalan emosi wajah.

Dua kelompok yang lebih banyak jumlah langkahnya, mencatat hasil lebih baik ketimbang kelompok paling sedikit langkahnya pada tes perhatian, pengendalian distraksi, dan pemilihan imbalan.

Setelah memperhitungkan usia, pendidikan, pendapatan, status perkawinan, dan tempat lahir, skor perhatian kelompok aktivitas menengah diperkirakan lebih tinggi 1,76 poin dibandingkan kelompok paling tidak aktif.

Adapun dengan kelompok paling aktif, selisihnya mencapai 2,17 poin. Dengan kata lain, kelompok dengan jumlah langkah lebih tinggi, mencapai skor uji kognitif yang lebih baik.

Meski demikian, perbedaan kemampuan kognitif tersebut tergolong kecil. Jumlah langkah dalam penelitian juga tidak dapat dijadikan patokan target harian untuk meningkatkan perhatian.

"Studi kami bersifat observasional dan tidak dirancang untuk menentukan jumlah langkah harian yang optimal bagi kesehatan kognitif," ucap Okusaga.

Kaitan jalan kaki, kemampuan berpikir, dan tekanan darah

Temuan ini memperluas penelitian mengenai hubungan jumlah langkah harian dengan kesehatan. Kemampuan kognitif yang diuji berpotensi berkaitan dengan berbagai aktivitas sehari-hari.

"Contohnya, mungkin mencakup mempertahankan konsentrasi di tempat kerja, menghindari keputusan impulsif, dan berpegang pada tujuan jangka panjang seperti menabung atau mengikuti rencana kesehatan," tutur Okusaga.

Para peneliti juga menemukan hubungan yang lebih terbatas pada tekanan darah. Tekanan sistolik lebih tinggi, yakni angka atas dalam pengukuran, berkaitan dengan hasil yang sedikit lebih buruk pada tes pemilihan imbalan.

Dalam analisis lanjutan, tekanan sistolik lebih rendah secara statistik dapat menjelaskan sekitar 5 persen hubungan antara jumlah langkah dan skor pemilihan imbalan. Namun perlu dicatat, angka ini tidak membuktikan penurunan tekanan darah memperbaiki kemampuan berpikir.

[Gambas:Video CNN]

Karena pengujian kognitif hanya dilakukan sekali, para peneliti tidak bisa memastikan apakah kemampuan berpikir peserta meningkat atau menurun. Kemampuan kognitif yang sudah dimiliki seseorang juga mungkin memengaruhi tingkat aktivitasnya.

"Temuan kami mendukung adanya hubungan antara aktivitas fisik jangka panjang dan performa kognitif di kemudian hari, tetapi tidak membuktikan bahwa aktivitas fisik menyebabkan kemampuan kognitif yang lebih baik," kata Okusaga.

Masih diperlukan studi dan penilaian kognitif lebih lanjut untuk membantu para peneliti menyelidiki keterkaitan antara aktivitas jalan kaki seseorang dan fungsi kognitifnya.

(rti)