Turis Ungkap Pengalaman Tidur di Lantai Bandara Demi Hemat Sewa Hotel

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 04:30 WIB
Turis Ungkap Pengalaman Tidur di Lantai Bandara Demi Hemat Sewa Hotel
Bandara Internasional San Francisco di Amerika Serikat. (iStockphoto/JHVEPhoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aksi seorang turis perempuan berusia 29 tahun asal Amerika Serikat (AS) memicu perdebatan sengit di media sosial setelah membagikan pengalamannya memilih tidur di lantai Bandara Internasional San Francisco ketimbang membayar sewa kamar hotel.

Santeon Brown, warga asal Los Angeles, memutuskan melakukan perjalanan spontan ke San Francisco usai menemukan tiket pesawat sekali jalan seharga US$20 atau sekitar Rp361 ribu.

Melansir laporan New York Post, setibanya di lokasi pada malam hari, ia memilih menetap di dalam bandara untuk menghemat pengeluaran akomodasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui unggahan video di TikTok pada 15 Oktober lalu, Brown mengklaim keputusannya tersebut sebagai "pilihan yang tepat" dan mengaku menikmati pengalaman menginap yang tak biasa tersebut.

Brown mengungkapkan tidak ada alasan mendesak untuk menghamburkan uang menyewa kamar hotel hanya demi tidur selama beberapa jam. Ia juga merasa lebih aman menginap di dalam area bandara ketimbang menjelajahi kota yang belum dikenalnya pada larut malam, mengutip surat kabar People.

Menurutnya, area steril di luar pos pemeriksaan keamanan memberikan rasa aman lebih karena seluruh penumpang telah melewati pemindaian ketat.

Unggahan video Brown mendulang beragam reaksi dari warganet. Sebagian pengguna media sosial mempertanyakan apakah tidur di lantai bandara yang keras sepadan dengan uang yang dihemat, mengingat risiko sakit punggung, ketidaknyamanan, hingga masalah kebersihan.

Namun, tidak sedikit warganet yang membela aksinya. Mereka menganggap langkah Brown sebagai pilihan praktis bagi para pelancong berkantong tipis sembari membagikan pengalaman serupa.

Brown yang mengaku terbiasa berkemah di alam terbuka menganggap tidur di area publik bukan masalah besar. Walau tak bisa mandi, ia tetap menjaga kebersihan diri dengan menggosok gigi, mencuci muka, serta memanfaatkan tisu basah di toilet umum bandara setiap pagi.

Ia mengimbau para pelancong yang ingin meniru caranya agar membawa barang bawaan seringkas mungkin serta menyiapkan sejumlah barang esensial demi kenyamanan istirahat.

Fenomena menginap di bandara demi menekan anggaran liburan bukan pertama kali memicu kontroversi. Tahun lalu, pasangan turis juga menuai kritik pedas usai memilih nekat tidur di Bandara Changi Singapura ketimbang membayar kamar hotel seharga US$400 atau sekitar Rp7,2 juta per malam.

(wiw)
placeholder