Deteksi Dini, 5 Cara Membedakan Benjolan Kanker Payudara atau Bukan

CNN Indonesia
Rabu, 28 Okt 2026 12:00 WIB
Ilustrasi. Ketahui cara membedakan benjolan kanker payudara atau bukan agar Anda bisa mendeteksinya secara dini. (iStockphoto/catinsyrup)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menemukan benjolan di payudara bisa membuat seseorang merasa khawatir. Namun, tidak semua benjolan merupakan tanda kanker.

Ada sejumlah kondisi jinak yang juga dapat menyebabkan munculnya benjolan, seperti kista, fibroadenoma, dan perubahan jaringan payudara akibat hormon.

Meski begitu, benjolan baru tetap perlu diperiksa oleh dokter. Soalnya, kanker payudara tidak selalu menimbulkan gejala yang khas dan tidak bisa dipastikan hanya dengan meraba benjolan.

Jika kamu bingung bagaimana mendeteksinya, berikut cara membedakan benjolan kanker payudara atau bukan yang bisa kamu ketahui, dirangkum dari berbagai sumber.

1. Perhatikan tekstur dan bentuk benjolan

Cara membedakan benjolan kanker payudara atau bukan menurut laman Breast Cancer Organization adalah dengan mengecek tekstur dan bentuknya.

Benjolan kanker payudara sering kali terasa keras, memiliki bentuk tidak beraturan, dan sulit digerakkan ketika disentuh. Sebaliknya, benjolan jinak seperti fibroadenoma umumnya terasa kenyal, berbentuk bulat, dan dapat bergerak di bawah kulit.

Namun, ciri tersebut bukan patokan pasti. Benjolan kanker juga bisa berbentuk bulat, terasa lunak, atau menimbulkan rasa sakit. Jadi, jangan langsung menganggap benjolan aman hanya karena terasa halus atau mudah digerakkan.

2. Perhatikan apakah benjolan terasa sakit

Sebagian besar benjolan payudara tidak menimbulkan rasa sakit. Kanker payudara juga sering kali tidak terasa nyeri, terutama pada tahap awal. Meski demikian, beberapa benjolan jinak dapat menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman.

Contohnya, kista payudara yang berisi cairan dapat terasa nyeri, terutama menjelang menstruasi. Infeksi payudara atau mastitis juga dapat menimbulkan benjolan yang disertai kemerahan, rasa panas, dan nyeri.

Jika rasa sakit berlangsung lama, makin parah, atau muncul bersama perubahan lain, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

3. Kenali jenis benjolan yang umumnya jinak

Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan benjolan nonkanker, antara lain:

Walaupun banyak kondisi tersebut bersifat jinak, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

4. Waspadai perubahan pada kulit dan puting

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai, meliputi kulit mengerut atau berlekuk seperti kulit jeruk, perubahan bentuk atau ukuran payudara, puting yang baru tertarik ke dalam, serta keluarnya cairan dari puting tanpa sebab yang jelas.

Kemerahan, kulit bersisik, atau perubahan pada salah satu payudara yang tidak kunjung membaik juga perlu diperiksa. Gejala-gejala ini tidak selalu berarti kanker, tetapi tidak boleh diabaikan.

5. Lakukan pemeriksaan medis

Membedakan benjolan jinak dan ganas tidak cukup hanya berdasarkan bentuk, tekstur, atau rasa sakit. Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan menyarankan pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan, seperti USG payudara, mamografi, atau biopsi.

USG membantu melihat apakah benjolan berisi cairan atau berupa jaringan padat. Mamografi menggunakan sinar-X untuk memeriksa perubahan pada jaringan payudara.

Adapun biopsi mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium dan dapat memastikan apakah terdapat sel kanker.

Jika menemukan benjolan baru, segera jadwalkan pemeriksaan tanpa menunggu benjolan membesar atau terasa sakit. Deteksi dini membantu kanker payudara ditemukan lebih cepat dan meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

Itu dia beragam cara membedakan benjolan kanker payudara atau bukan. Sebaiknya lebih jeli melihat perubahan pada tubuh dan kunjungi tenaga medis bila diperlukan.

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK