Biopsi Penting untuk Menentukan Terapi Pasien Kanker Payudara

CNN Indonesia
Rabu, 28 Okt 2026 18:30 WIB
Ilustrasi. Biopsi penting dilakukan untuk terapi pasien kanker payudara. (iStockphoto/Vasyl Dolmatov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit ini berdasarkan data GLOBOCAN 2024. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia.

Tingginya angka kasus tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penanganan sesuai karakteristik penyakit. Salah satu pemeriksaan yang berperan penting dalam menentukan pengobatan adalah biopsi.

Biopsi tidak hanya membantu memastikan diagnosis kanker payudara, tetapi juga mengidentifikasi jenis dan subtipe kanker yang menjadi dasar bagi dokter untuk menentukan terapi sesuai kondisi pasien.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Jeffry Beta Tenggara mengatakan penanganan kanker payudara tidak dapat disamaratakan karena setiap pasien memiliki karakteristik penyakit yang berbeda.

"Sekarang memang kita tidak menyamaratakan semua pasien. Treatment itu individual, berdasarkan kasus masing-masing pasien," kata Jeffry dalam talkshow Bulan Kesadaran Kanker Payudara MRCCC Siloam Semanggi di Jakarta, Rabu (28/10).

Ia menjelaskan, biopsi diperlukan untuk memastikan apakah benjolan yang ditemukan merupakan kanker. Pemeriksaan ini juga membantu dokter mengenali karakteristik penyakit, termasuk subtipe kanker yang dapat memengaruhi pilihan pengobatan.

Hasil biopsi menjadi salah satu dasar dalam menyusun rencana terapi. Dengan mengetahui karakteristik kanker, dokter dapat mempertimbangkan pendekatan pengobatan yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien.

Penentuan terapi juga membutuhkan koordinasi lintas disiplin, termasuk antara dokter onkologi medik dan dokter bedah onkologi. Tim medis akan mendiskusikan urutan penanganan berdasarkan kondisi klinis pasien, termasuk apakah terapi obat perlu diberikan sebelum operasi atau pasien dapat menjalani pembedahan terlebih dahulu.

Deteksi dini kanker payudara masih menjadi tantangan

Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan, Uswatun Hasanah menekankan bahwa keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan kanker payudara di Indonesia.

"Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut, sehingga angka keberhasilan pengobatan pun menurun," ujarnya.

Menurut Uswatun, keterbatasan fasilitas layanan kesehatan dan masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini menjadi sejumlah kendala yang menyebabkan pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut.

"Masalah klasik penanganan kanker payudara di Indonesia antara lain fasilitas layanan terbatas, dan masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya deteksi dini," ucapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes telah menuangkan kebijakan deteksi dini kanker payudara dalam rencana aksi nasional. Salah satu targetnya adalah meningkatkan proporsi kasus yang ditemukan pada stadium awal hingga 60 persen.

"Target Kemenkes adalah 60 persen kasus kanker payudara bisa ditemukan di stadium awal. Dengan penemuan kasus yang lebih awal maka kesintasannya lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan di stadium lanjut," terang Uswatun.

Namun, capaian deteksi dini masih jauh dari target tersebut. Pada 2025, proporsi kasus kanker payudara yang ditemukan pada stadium awal baru mencapai 10 persen secara nasional. Sementara itu, hingga 30 September 2026, angkanya tercatat sekitar 16,19 persen.

Uswatun mengajak berbagai pihak berkolaborasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan sejak dini. Menurut dia, perempuan dapat memanfaatkan layanan deteksi kanker payudara melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas.

Melalui program tersebut, perempuan berusia 30-69 tahun dapat memperoleh skrining atau deteksi kanker payudara. Apabila ditemukan hasil pemeriksaan yang abnormal, pasien akan dirujuk ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjut (FKPTL) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Kemenkes juga telah menerbitkan pedoman tata laksana kanker payudara sebagai panduan bagi tenaga medis dalam menangani pasien.

Dukungan mental bagi pasien kanker payudara

Selain penanganan medis, dukungan emosional juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pengobatan kanker payudara. Jeffry mengingatkan keluarga dan orang-orang terdekat agar memberikan ruang bagi pasien untuk menerima diagnosis dan memahami kondisi yang dihadapinya.

Menurut dia, pasien tidak harus selalu terlihat kuat setelah mengetahui dirinya mengidap kanker. Dukungan yang diberikan secara terburu-buru, termasuk tuntutan agar pasien segera bangkit, justru berpotensi menambah tekanan psikologis.

"Kasih waktu dulu," ujarnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi Denni Joko Purwanto mengingatkan perempuan untuk mengenali perubahan pada payudara melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

Apabila menemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan, perempuan disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab perubahan tersebut sekaligus menentukan langkah penanganan yang sesuai.

"Jangan takut dan jangan terlambat," kata Denni.

(tis/tis)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK