Benarkah Kepribadian Kita Harus Mirip dengan Pasangan? Ini Kata Studi
Ada yang senang mengobrol dengan orang baru, sedangkan pasangannya lebih suka duduk tenang di sudut ruangan. Ada pula yang gemar mencoba hal baru, tetapi sang kekasih justru betah menghabiskan akhir pekan di rumah.
Perbedaan seperti ini kerap memunculkan pertanyaan. Apakah pasangan yang cocok harus punya kepribadian serupa, atau justru perbedaan yang membuat hubungan terasa menarik?
Selama bertahun-tahun, perdebatan tentang like attracts like, yakni kecenderungan seseorang tertarik pada orang yang mirip dengan dirinya, berhadapan dengan anggapan opposites attract, yaitu ketertarikan antara dua orang berbeda.
Penelitian dari Michigan State University bersama sejumlah peneliti internasional memberikan perspektif menarik. Temuannya menunjukkan, pasangan suami istri cenderung hanya memiliki sedikit kemiripan dalam sejumlah ciri kepribadian.
Seberapa mirip kepribadian pasangan?
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada September 2026 ini, menggunakan kerangka kepribadian yang dikenal sebagai Big Five.
Model tersebut membagi kepribadian menjadi lima dimensi utama, yaitu keterbukaan terhadap pengalaman baru (openness to experience), kecenderungan bersosialisasi atau ekstraversi, keramahan (agreeableness), kehati-hatian dan kedisiplinan (conscientiousness), serta neurotisisme atau kecenderungan mengalami emosi negatif.
Kelima dimensi ini menggambarkan kecenderungan seseorang dalam berpikir, merasakan sesuatu, dan berperilaku.
Misalnya, orang dengan tingkat ekstraversi tinggi umumnya lebih menikmati interaksi sosial, sedangkan mereka yang terbuka terhadap pengalaman baru cenderung tertarik pada gagasan, aktivitas, atau pengalaman berbeda.
Dalam analisis kemiripan pasangan, peneliti menemukan korelasi antarpasangan berdasarkan ciri kepribadian relatif kecil. Korelasi sekitar 0,04 untuk keterbukaan terhadap pengalaman baru dan 0,03 untuk ekstraversi.
Angka tersebut menunjukkan hubungan statistik sangat lemah. Seseorang yang senang bersosialisasi belum tentu menikah dengan orang yang sama-sama gemar bergaul.
Begitu pula orang yang menyukai petualangan, tidak selalu berpasangan dengan seseorang dengan minat serupa.
Kalau bukan kepribadian, apa yang membuat pasangan cocok?
Menariknya, kemiripan pasangan dalam penelitian tersebut justru lebih kuat pada tingkat pendidikan dibandingkan ciri kepribadian.
Mengutip Psychology Today, pendidikan dapat berkaitan dengan sejumlah aspek kehidupan, mulai dari lingkungan pergaulan hingga minat dan aktivitas sehari-hari.
Orang yang menempuh pendidikan di tempat yang sama, misalnya, memiliki kesempatan lebih besar untuk bertemu, berinteraksi, dan mengenal satu sama lain.
Di sinilah lingkungan dan pengalaman hidup ikut berperan. Dua orang bisa bertemu karena berkuliah di kampus sama, bekerja di bidang serupa, tinggal di lingkungan berdekatan, atau memiliki lingkaran pertemanan yang saling bersinggungan.
Kedekatan semacam ini dikenal sebagai proximity principle, yaitu kecenderungan orang membentuk hubungan karena sering berada di tempat atau lingkungan yang sama.
Bayangkan dua orang yang awalnya bertemu karena menjadi teman kuliah. Mereka mungkin punya selera musik, kebiasaan, atau cara bersosialisasi berbeda.
Namun, pertemuan yang berulang memberi kesempatan bagi keduanya untuk mengenal karakter masing-masing dan membangun kedekatan.
Artinya, hubungan tidak selalu berawal dari kesamaan kepribadian. Kesempatan untuk bertemu dan pengalaman yang dijalani bersama juga dapat membuka jalan menuju hubungan romantis.
Berbeda kepribadian bukan berarti tidak cocok
Lantas, bagaimana jika satu orang senang pergi ke tempat baru, sedangkan pasangannya lebih nyaman berada di rumah? Perbedaan tersebut tidak otomatis membuat hubungan sulit dijalani.
Pasangan bisa mencari jalan tengah, misalnya dengan sesekali mencoba aktivitas baru bersama tanpa mengharuskan keduanya menikmati semua kegiatan sama.
Begitu pula dalam hal bersosialisasi. Seseorang yang mudah akrab dengan orang baru bisa memiliki pasangan lebih pendiam.
Keduanya tetap dapat membangun hubungan selama mampu memahami kebutuhan masing-masing dan berkomunikasi mengenai perbedaan tersebut.
Latar belakang, pendidikan, lingkungan pergaulan, pengalaman, dan perjalanan hidup juga dapat memengaruhi siapa yang ditemui dan dengan siapa seseorang akhirnya menjalin hubungan.
Jadi, pasangan jiwa tidak harus menjadi salinan diri kita. Seseorang bisa memiliki karakter yang mirip, tetapi bisa pula berbeda dalam banyak hal.
Kecocokan tidak selalu berarti menyukai semua hal yang sama, melainkan bagaimana dua orang menjalani perbedaan dan membangun hubungan bersama.
(anm/rti)