Dokter Ingatkan Bahaya HPV, Picu Kutil Kelamin hingga Kanker Serviks
Infeksi human papillomavirus (HPV) tidak hanya menyebabkan kutil kelamin, tetapi juga dapat memicu kanker yang mengancam jiwa.
Di Indonesia, kanker serviks yang berkaitan dengan infeksi HPV menyebabkan sekitar 21 ribu kematian setiap tahun.
Ketua Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas PP KIPI), dokter Hindra Irawan Satari menjelaskan HPV memiliki banyak tipe dengan tingkat risiko yang berbeda.
Sebagian tipe menyebabkan penyakit jinak, sedangkan tipe lainnya dapat memicu perubahan sel yang berkembang menjadi kanker.
"Jadi virus-virus ini kan banyak tipenya. Nah, tipe 16 dan 18 berbeda dengan tipe yang tadi, yang risiko rendah. Ini menyebabkan perubahan sel, yang ujung-ujungnya kanker," kata Hindra dalam webinar Kementerian Kesehatan bersama Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE), Kamis (29/10).
21 ribu kematian akibat kanker serviks per tahun
Salah satu kanker yang berkaitan dengan infeksi HPV risiko tinggi adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Hindra menyoroti besarnya beban penyakit ini di Indonesia, mulai dari jumlah kasus baru hingga angka kematian setiap tahunnya.
"Jadi kalau dihitung-hitung, ada 89 kasus baru yang terdiagnosis setiap harinya. Jadi ada empat wanita terdiagnosis kanker serviks setiap jam," ujar Hindra.
Ia juga menyoroti angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia yang mencapai sekitar 21 ribu per tahun.
"Kemudian angka kematiannya, 21 ribu kematian per tahun, artinya 57 wanita meninggal setiap hari, atau dua sampai tiga wanita setiap jam," ungkapnya.
Hindra menyebut kanker serviks menempati peringkat kedua setelah kanker payudara pada perempuan di Indonesia.
Meski tidak semua tipe HPV menyebabkan kanker, beberapa tipe berisiko tinggi dapat memicu perubahan sel yang berkembang menjadi kanker setelah bertahun-tahun. Sementara itu, tipe HPV lainnya dapat menyebabkan penyakit lainnya, seperti kutil di sejumlah bagian tubuh.
HPV bisa menyebabkan kutil
Hindra menjelaskan, infeksi HPV tidak selalu berujung pada kanker. Sejumlah tipe virus dapat menyebabkan kutil di berbagai bagian tubuh, termasuk tangan, telapak kaki, dan area genital.
"Jadi, kalau ada yang menyatakan low risk, penyakit akibat HPV risiko rendah, yaitu kutil-kutil di tangan atau telapak kaki oleh HPV, tentu saja penyebabnya," kata Hindra.
Kutil kelamin dikenal dengan istilah kondiloma akuminata. Pertumbuhannya dapat menyerupai kembang kol atau buah anggur dan muncul di area genital, anus, maupun mulut.
Kutil kelamin tersebut dapat disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11. Kedua tipe ini termasuk kelompok HPV risiko rendah yang umumnya berkaitan dengan penyakit jinak, bukan kanker.
HPV juga dapat menyebabkan pertumbuhan jaringan berulang di saluran pernapasan, termasuk di sekitar pita suara. Kondisi tersebut dapat mengganggu aliran udara apabila pertumbuhan terjadi di saluran pernapasan.
Hindra menjelaskan, pertumbuhan jaringan yang berulang ini juga dapat mengganggu fungsi saluran pernapasan.
"Juga ada yang di saluran pernapasan, dan berulang, jadi mengganggu pita suara, mengganggu aliran udara. Itu jinak," ujarnya.
Imunisasi HPV untuk mencegah kanker
Hindra mengingatkan bahwa HPV dapat menginfeksi laki-laki maupun perempuan. Karena itu, anggapan bahwa virus ini hanya berbahaya bagi perempuan perlu diluruskan.
"Jadi selama ini ternyata cukup banyak yang salah paham tentang bahwa virus HPV ini hanya menyerang perempuan," kata Hindra.
Ia juga menyoroti besarnya kelompok usia yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan kanker serviks di Indonesia. "Anak-anak usia 15 tahun ke atas berisiko terkena kanker serviks, karena itu jumlahnya sekitar 102 juta," ujarnya.
Angka tersebut merujuk pada kelompok usia yang berisiko, bukan jumlah orang yang sudah terkena kanker. Pencegahan melalui imunisasi HPV menjadi salah satu upaya untuk menekan risiko penyakit akibat tipe HPV tertentu, termasuk kanker serviks.
Imunisasi diberikan sebelum seseorang terpapar virus agar perlindungannya dapat diperoleh lebih awal. Upaya ini perlu didukung dengan edukasi mengenai HPV, akses terhadap imunisasi, serta pemahaman bahwa infeksi HPV dapat berdampak pada kesehatan laki-laki dan perempuan.
Dengan mengenali risiko HPV dan melakukan pencegahan sejak dini, kemungkinan terjadinya penyakit akibat infeksi virus ini di kemudian hari diharapkan dapat ditekan.
(fef/anm/fef)