Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dorong strategi pengendalian Begomovirus. Serangan Begomovirus dapat mengancam produktivitas sayuran. Lantas, apa itu Begomovirus?
Dalam sebuah webinar, BRIN angkat bahasan tentang Begomovirus. Ancaman Begomovirus begitu nyata terlebih buat tanaman sayuran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puji Lestari, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, berkata sayuran berperan mendukung ketahanan pangan dan penting untuk memenuhi gizi masyarakat.
Apa itu Begomovirus?
Begomovirus adalah kelompok virus tanaman yang menyerang komoditas sayuran terutama cabai dan tomat. Setidaknya ada 466 spesies dari genus yang merupakan bagian dari famili Geminiviridae ini.
Penyebaran Begomovirus umumnya dibantu kutu kebul (Bemisia tabaci) sebagai serangga vektor. Dikutip dari laman BRIN, infeksi virus dapat menimbulkan gejala seperti, daun menguning, mosaik, dan keriting.
Selain itu, serangan virus dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Menghimpun informasi dari berbagai sumber, Begomovirus menyerang tanaman dikotil. Begomovirus tak bisa dianggap sepele. Infeksinya telah merugikan perekonomian budidaya sayuran di berbagai belahan dunia.
Spesies Begomovirus yang menyerang tomat, Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV) dan Tomato yellow mosaic virus (ToYMV), kali pertama diidentifikasi pada 1980-an. Keduanya dilaporkan telah menimbulkan kerugian secara global.
Begomovirus menyebar di sejumlah negara seperti, sebagian besar Amerika Tengah, Trinidad, Dominika, Meksiko juga seluruh Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Ilustrasi. Apa itu Begomovirus? Kelompok virus ini menyerang komoditas sayuran termasuk tomat dan cabai. (Getty Images/GomezDavid) |
Virus umumnya menyerang tomat, cabai, dan terong. Diperkirakan petani kehilangan hasil panen setidaknya 50-60 persen.
Di negara-negara Asia Tenggara seperti, Thailand, Kamboja, Indonesia, juga Sri Lanka dan India, Begomovirus menyerang cabai, tomat, mentimun, labu, melon, dan terong. Sebanyak 40-70 persen hasil panen hilang.
Menurut Puji, pengendalian Begomovirus perlu pendekatan terpadu mulai dari deteksi dini, pantauan populasi serangga vektor, pemilihan benih, hingga sanitasi lahan tanaman.
(els)

