Kapal pesiar Villa Vie Odyssey akhirnya meninggalkan Kamboja pada Rabu (4/11) pagi waktu setempat. Kapal tersebut berlayar keluar dari Pelabuhan Sihanoukville tanpa membawa penumpang, setelah lebih dari 200 orang yang sebelumnya tinggal di kapal itu dipaksa turun akibat penghentian operasional.
Seperti dilansir The Independent, Kepala Departemen Pariwisata Sihanoukville, Taing Sochitkrishna, mengatakan kapal tersebut berangkat dengan sekitar 50 awak.
Sementara itu, sekitar 100 penumpang masih berada di Kamboja dan sebagian besar lainnya telah terbang ke berbagai negara di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum kapal berangkat, para penumpang menghabiskan waktu pada Selasa (3/11) untuk mengambil barang-barang terakhir mereka. Banyak di antara mereka mengaku tidak yakin dapat kembali ke kapal tersebut.
"Saya masih memiliki banyak barang di kapal yang sebenarnya ingin saya bawa," kata Shirine Thomas, penumpang asal Wilmington, Carolina Utara, Amerika Serikat, setelah mengambil sejumlah barang terakhirnya.
Nasib penumpang lainnya juga belum bisa dipastikan. Mary Ann Demsar, pensiunan guru berusia 67 tahun asal Ontario, Kanada, mengatakan pihak pemilik kapal pesiar belum memberikan informasi mengenai kelanjutan perjalanan mereka.
"Kami tidak mendapatkan petunjuk yang jelas dari pemilik Villa Vie mengenai apa yang sedang terjadi. Mereka sangat tertutup, satu-satunya informasi yang kami dapatkan berasal dari pemerintah dan perwakilan di Kamboja yang sangat membantu," ujarnya.
Lanette Canen dan Johan Bodin termasuk di antara ratusan penumpang yang menantikan kehidupan baru di laut ketika mereka menaiki kapal pesiar hunian Villa Vie Odyssey pada Oktober 2024.
Pasangan berusia 56 tahun itu menjual sebuah bisnis untuk membiayai pembelian kabin seharga 100.000 dolar AS atau sekitar Rp1,8 miliar. Selain itu, mereka juga harus membayar biaya pemeliharaan bulanan sebesar 3.500 dolar AS atau sekitar Rp63,5 juta.
Sementara itu, tujuan akhir Villa Vie Odyssey setelah meninggalkan Kamboja belum diketahui. Sejumlah penumpang dan situs pelacak pergerakan kapal mengindikasikan bahwa kapal tersebut kemungkinan menuju Singapura.
Sebelumnya, Villa Vie Odyssey terpaksa menghentikan pelayaran saat bersandar di Pelabuhan Sihanoukville pada 23 Oktober 2026. Awalnya, kapal yang dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Vietnam itu mengangkut 203 penumpang dan 156 awak.
Pemilik kapal, Villa Vie Residences yang berbasis di Florida, Amerika Serikat, mengumumkan penghentian operasional pada 27 Oktober. Keputusan tersebut diambil setelah biaya bahan bakar melonjak akibat perang Iran.
Perusahaan menyebut biaya bahan bakar yang sebelumnya rata-rata sekitar 1.800 dolar AS per kabin per bulan meningkat menjadi 6.000 hingga 8.000 dolar AS di sejumlah wilayah Asia. Kondisi tersebut membuat biaya operasional tidak lagi dapat ditanggung perusahaan.
Villa Vie Odyssey sendiri telah berlayar mengelilingi dunia selama setidaknya 755 hari. Kapal tersebut menawarkan konsep hunian di laut, dengan penumpang dapat menyewa atau membeli kabin untuk tinggal dalam jangka panjang, bahkan secara permanen.
(dsd/wiw)