Bertambahnya usia membuat tubuh mengalami berbagai perubahan. Kekuatan otot berkurang, sendi semakin kaku, sementara kemampuan menjaga keseimbangan juga terus menurun. Kondisi ini berisiko membatasi mobilitas hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Karena itu, menjaga kesehatan otot dan sendi menjadi salah satu hal penting untuk mempertahankan kualitas hidup, terutama ketika memasuki usia lanjut.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, proporsi penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia mencapai 11,97 persen. Angka tersebut menunjukkan Indonesia telah memasuki fase penuaan penduduk, sehingga perhatian terhadap kesehatan dan kemandirian lansia semakin dibutuhkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah keluhan yang kerap dialami seiring bertambahnya usia antara lain nyeri dan kekakuan lutut, keterbatasan gerak bahu, hingga langkah yang semakin melambat. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan melakukan kegiatan sederhana, seperti berjalan, berdiri dari kursi, atau menaiki tangga.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat penyakit sendi yang didiagnosis dokter dialami oleh 18,6 persen penduduk berusia 65-74 tahun. Angka tersebut meningkat menjadi 18,9 persen pada kelompok usia 75 tahun ke atas.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kemampuan gerak adalah melalui fisioterapi. Pendekatan ini tidak hanya membantu mengurangi nyeri, tetapi juga bertujuan mempertahankan kekuatan otot, meningkatkan keseimbangan, serta mengoptimalkan fungsi gerak tubuh.
Fisioterapi dapat membantu penanganan berbagai kondisi, mulai dari osteoarthritis atau pengapuran sendi, frozen shoulder, hingga pemulihan setelah stroke. Terapi ini juga dapat menjadi bagian dari proses rehabilitasi setelah operasi, termasuk penggantian sendi lutut dan pinggul.
Founder and Chief Physiotherapist Physiorehab Simon Tri Prasetyo mengatakan setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan gerak yang berbeda. Karena itu, program fisioterapi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
"Setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan gerak yang berbeda. Karena itu, fisioterapi dimulai dari memahami kondisi pasien, dilanjutkan dengan latihan yang sesuai dan pemantauan perkembangan secara berkala," kata Simon dalam keterangannya.
Menurut dia, latihan kekuatan dan keseimbangan yang dilakukan secara rutin dapat membantu lansia mempertahankan kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Latihan tersebut juga menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi tubuh seiring bertambahnya usia. Dengan kemampuan otot dan keseimbangan yang terjaga, lansia diharapkan tetap dapat bergerak aktif dan mengurangi keterbatasan dalam beraktivitas.
Selain lansia, fisioterapi juga dibutuhkan kelompok usia produktif, termasuk pekerja yang mengalami keluhan muskuloskeletal maupun individu yang mengalami cedera saat berolahraga.
Pendekatan rehabilitasi umumnya menggabungkan terapi manual, latihan terapeutik, serta penggunaan teknologi pendukung sesuai kebutuhan pasien. Prosesnya dilakukan secara bertahap dengan memantau perkembangan kemampuan gerak.
Kebutuhan terhadap layanan tersebut turut mendorong Physiorehab membuka cabang ke-14 di Muara Karang, Jakarta Utara. Fasilitas ini menyediakan layanan fisioterapi untuk lansia, pemulihan pascaoperasi, rehabilitasi cedera olahraga, hingga fisioterapi umum.
Menjaga kesehatan di usia lanjut tidak hanya berkaitan dengan mencegah penyakit, tetapi juga mempertahankan kemampuan tubuh untuk bergerak dan menjalani aktivitas secara mandiri.
Kebiasaan aktif, latihan kekuatan, serta pemeriksaan dan penanganan yang sesuai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas hidup seiring bertambahnya usia.
(tis/tis)
