Mencegah dan mengatasi stunting bukan persoalan mudah. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) membuktikannya. Saat menjalankan program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), ada sejumlah tantangan yang musti dihadapi di lapangan.
Mendukbangga Wihaji memaparkan bahwa sebanyak 8 juta keluarga di Indonesia teridentifikasi sebagai keluarga risiko stunting (KRS) pada 2025. Status ini menunjukkan keluarga memiliki satu atau lebih faktor risiko stunting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Intervensi pun dilakukan lewat program GENTING. Tanpa gelontoran dana APBN, program berjalan lewat bantuan para orang tua asuh hingga mencapai bantuan dengan nominal sekitar Rp96 miliar.
Dengan capaian ini, rupanya proses di lapangan tidak mudah. Wihaji mengungkap tim kementerian harus menemui berbagai tantangan.
"Tantangannya, satu, kadang malu. Di lapangan itu dikatakan keluarga ada juga yang tidak mu membawa ke Posyandu karena nanti dipersepsikan sebagai keluarga risiko stunting," ujar Wihaji saat ditemui usai gelaran GENTING Collaboration Summit 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (5/11).
Hal ini, lanjutnya, jelas berpotensi bahaya sebab orang tua jadi tidak tahu kondisi kesehatan anak. Anak dianggap sehat tapi tanpa sadar ada masalah kesehatan atau bahkan stunting.
Anak yang stunting masih bisa diperbaiki kondisinya dengan intervensi yang tepat. Intervensi hanya bisa dilakukan saat anak berusia di bawah 2 tahun. Ketahuan stunting di usia di atas 2 tahun tentu sulit untuk ditangani.
Tantangan kedua adalah pemerintah daerah. Pemerintah daerah kadang enggan mengakui bahwa angka KRS atau angka stunting di wilayahnya tinggi.
"Yang terakhir itu pernikahan dini. Tantangannya, [orang tua berpikir] daripada anak zina mending dinikahkan. Para petugas di lapangan harus memberikan penjelasan dan edukasi terus-menerus," imbuh Wihaji.
Sementara itu, dengan nominal bantuan sekitar Rp96 miliar kemudian diarahkan untuk beberapa jenis bantuan antara lain, nutrisi, rumah kayak huni, jamban sehat, air bersih, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi.
Kemudian dari catatan Kemendukbangga, hingga kini ada 182.682 orang tua asuh (OTA) yang berasal dari perorangan, komunitas, swasta, akademisi, juga media.
(els)
