Budaya Populer

Jelang Ulang Tahun Hello Kitty ke-40

Windratie, CNN Indonesia | Selasa, 19/08/2014 11:14 WIB
Jelang Ulang Tahun Hello Kitty ke-40
Jakarta, CNN Indonesia -- Di usianya yang menginjak 40 tahun, Hello Kitty karakter fiksi kucing tanpa mulut ini kian berjaya. Diberitakan penjualan berbagai barang bermerek Hello Kitty kini sudah mencapai US$ 7 miliar atau sekitar Rp 81 triliun dari seluruh dunia.

Setelah Jepang, Singapura adalah negara pertama yang terkena wabah Hello Kitty mania. Mainan keluaran Sanrio ini sempat menimbulkan kekacauan pada April 2014 di Singapura akibat salah satu restoran McDonald  tak cukup menyediakan cinderamata Hello Kitty.

Karakter kucing ini lahir di London, Inggris pada 1 November 1974. Penciptanya desainer Yuko Shimizu  yang  tak pernah menyangka kreasinya menyebabkan dominasi global budaya lucu Jepang.


Awalnya Yuko membuat Hello Kitty untuk menarik anak-anak usia sekolah Taman Kanak-kanak. Hebatnya dominasi dunia tersebut dicapai lewat sedikit iklan, mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.

Sekarang Hello Kitty muncul di lebih dari 50 ribu produk yang dijual di lebih dari 70 negara. Sanrio perusahaan yang memegang hak cipta Hello Kitty menerima pendapatan tahunan sekitar US $ 759 juta atau sekitar Rp 8 triliun hanya dari kucing itu saja.

"Daya tarik Kitty adalah karena dia memiliki emosional kosong, seperti dijelaskan oleh perancangnya. Dia merasa seperti yang Anda rasakan," jelas Roland Nozomu Kelts, penulis Japanamerica: How Japanese Pop Culture Has Invaded the US kepada BBC.

Pencipta karakter memproyeksikan kesan itu pada mulut yang tidak ada, anak kucing yang tanpa ekspresi, membuatnya sempurna sebagai mainan atau boneka interaktif di usia dimana interaktivitas tidak hanya diinginkan, tetapi diharapkan.  

Begitu suksesnya Kitty sampai ia dipilih menjadi utusan diplomatik Jepang, duta resmi pariwisata ke Cina dan Hong Kong pada 2008. Semua upaya Jepang untuk meningkatkan soft power secara global melalui kampanye dukungan negara ini dijuluki Cool Japan.

Mereka melakukannya melalui manga, kartun anime, dan aspek budaya pop Jepang lain adalah inisiatif yang muncul ketika para birokat memiliki visi bahwa ekspor budaya dapat membantu menutup lubang ekonomi akibat runtuhnya Japan Inc pada 1990-an.