Industri Musik

Banjir Rezeki Para 'Disc Jockey' Dunia

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 19/12/2014 16:36 WIB
Tahun ini ndustri Electric Dance Music (EDM) meraup pendapatan $ 6,2 milyar dari seluruh penjuru dunia, ibarat banjir kekayaan bagi para DJ. Ilustrasi DJ (CNN Indonesia/ Internet/ Picjumbo/Viktor Hanacek)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehadiran Electronic Dance Music  (EDM) selama satu dekade terakhir berkembang cukup pesat, dengan pentolan utama seperti Calvin Harris, David Guetta, dan Tiesto. Forbes mencatat artis-artis EDM meraup $ 268 juta selama tahun ini, naik 11 persen dari tahun sebelumnya, dengan posisi puncak ditempati Calvin Harris dengan $ 66 juta.

Bagaimana genre ini terus berkembang? CNN menceritakannya saat berkunjung ke festival electric dance terbesar, TomorrowWorld dan bertemu David Guetta, Tiesto, Steve Aoki, Dimitri Vegas & Like Mike.

Asal-usul EDM


Ini bukanlah genre baru. David Guetta telah menjalaninya sejak tahun 80-an di Paris. Guetta menyebutkan semua ini berawal dari gerakan bernama 'disco sucks'.

"Mirip seperti disco, tapi tidak ada musik yang mengiringnya, jadi beberapa DJ mulai untuk menggunakan rekaman disco tua tapi sisi-B dan akapela, dan kami mulai menghasilkan beat dengan mesin drum.”

Guetta mengakui waktu itu kualitas rekaman dan alat-alat sangat buruk dan menyebutkan bahwa disco adalah nenek moyang EDM. Guetta mengakui, kekaguman ketika melihat seorang DJ beraksi di tahun 88 lah yang menginspirasinya menjadi DJ saat ini.

Di sisi lain, di awal 90-an di Belanda, Tjis Michiel Verwest memulai perjalanannya menjadi Tiestio dan dalam sebuah perjalanan menelusuri pesta demi pesta, ia jatuh cinta pada genre ini.

"Dahulu kami memainkan vinyl records, meski anda tahu lagunya, anda tidak akan mendapatkannya. Semua terasa eksklusif," ujar Tiesto. "Kini semua sangat berbeda, semua sudah ada di mana-mana.”

Sulit mengetahui sumber asli EDM berkembang, beberapa bilang di Eropa, sisanya di Amerika. Namun, bagi Guetta, Amerika selalu menciptakan hal baru dan Inggris-lah yang membuatnya menyebar.

Dari bawah tanah ke massal

Saat ini Guetta bersama dengan DJ terkenal lainnya telah melakukan banyak kolaborasi lintas genre yang kemudian menjadi tren dan menguasai tangga lagu di berbagai belahan dunia.

Steve Aoki, yang pernah berkolaborasi dengan Will.I.Am, mengatakan bahwa saat ia membuat musik, ia selalu berpikir bagaimana menjadikannya unik dan berbeda dari yang lain.

Tak dapat dipungkiri bahwa peran media sosial berdampak nyata pada perkembangan EDM. Jejaring sosial, aplikasi, dan beragram program berbagi musik lainnya telah membawa kesuksesan bagi pada DJ.

"Bagi kami, sosial media sangat memerankan peranan penting," ujar Thivaios, anggota Dimitri Vegas & Like Mike. "Kami dapat membuat lagu baru dengan satu klik, dan tersebarlah ke seluruh dunia,"

Sedangkan kini di Amerika dan Eropa telah terjadi peningkatan jumlah festival musik elektrik, yang dihadiri orang dari seluruh penjuru dunia. Festival TomorrowWorld, diakui penyelenggara telah dihadiri 160 ribu orang dari 75 negara.

Masifnya penggemar EDM diakui tidaklah biasa. Tidak banyak genre musik lain dalam sebuah festival mampu mengajak lebih dari 150 ribu penonton tanpa membutuhkan waktu lama.

Kalaupun ada yang mampu, pastilah terdapat gabungan beberapa genre dalam satu festival. Namun, festival EDM hanyalah untuk EDM.

"Saat saya berada di panggung, terdapat berbagai orang dengan berbagai macam bendera negara berkumpul menjadi satu, ini menyatukan kami semua," ujar Aoki.

Seperti pada umumnya, tidaklah mungkin EDM menjadi setenar ini tanpa adanya peningkatan pendapatan. Laporan terbaru menyatakan EDM meraup pendapatan $ 6,2 milyar dari seluruh penjuru dunia.

Sebagian besar dari uang tersebut datang dari festival serta klub-klub. Kesuksesan ini menarik para pengiklan dan sponsor. Bahkan, beberapa telah menjadikan para DJ ini sebagai bintang iklan.

Bisnisnya bagus, akankah musiknya semakin baik?

Meski mendulang berbagai kesuksesan, EDM juga menuai banyak kritikan pedas. Banyak yang menilainya telah kehilangan identitasnya.

"Ini revolusi. Hanya itu, semua genre musik dimulai dari underground, menjadi tren, kemudian terkenal dan kemudian mati atau dirubah dengan cara yang berbeda," ujar Guetta.

Banyak yang bertanya apakah EDM berada di titik puncaknya ataukah akan segera mati seperti yang terjadi pada Disco?

"Mereka selalu menanyakan saya sejak 1994, akankan EDM berakhir? saya selalu bilang saya tidak tahu. Ini terus berubah, setiap tahunnya ada yang baru, dan saat inilah yang tertinggi yang pernah ada, jadi saat ini saya tidak tahu sebesar atau sebanyak apa lagi yang akan terjadi," ujar Tiesto.

"Ini telah lebih dari 20-25 tahun sejak muncul pertama kali, jadi ini sangat mengagumkan."