Padahal menurut pengamat film Adrian Jonathan Pasaribu, menembus pasar Amerika sama sekali tidak mudah. Film yang memiliki konteks budaya, belum tentu disukai saat diputar di daerah dengan budaya yang berbeda. Keuntungan The Raid 2: Berandal, katanya, punya isu yang universal.
"Tidak butuh konteks budaya. Orang berantem ya berantem aja," katanya saat dihubungi CNN Indonesia melalui telepon pada Senin (5/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemenang festival pun susah masuk jaringan bioskop komersial seperti 21 kalau di sini. Postcard from the Zoo, misalnya. Kalau pun diputar, hanya di bioskop kecil. Akhirnya enggak masuk IMDb," kata Adrian berargumen.
Selera Amerika juga tidak selalu berkutat pada film laga. Kisah humanis seperti Cahaya dari Timur: Beta Maluku juga berpotensi punya banyak penggemar. "Pertama, itu soal sepak bola. Kedua, zero to hero. Dari pecundang jadi pemenang. Itu universal sekali," ujar Adrian.
Namun sekali lagi, masalahnya adalah kemungkinan untuk diputar di bioskop asing. Itu tergantung pada distributor atau kemampuan finansial.
Jika Film Terbaik FFI 2014 itu punya sokongan cukup untuk memenangi festival yang menampung banyak produser dan distributor besar, bukan tidak mungkin ia mengekor kesuksesan The Raid, membanggakan Indonesia. (rsa/vga)