Sekalipun temanya dikecam, film yang memperlihatkan wajah Hollywood semasa muda ini tetap dipuji karena memuat teknik revolusioner yang dianggap mengubah seni modern. Kemunculan Birth of a Nation pun segera disusul sekuel Intolerance (1916), masih garapan Griffith.
Laman New York Times menuliskan, film-film karya Griffith memang tidak begitu saja mudah dipahami (mengingat ini film bisu). Namun sang sineas tetap disebut hebat dan berbakat karena berhasil membalut ideologi rasial yang sangat sensitif dengan estetika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lima tahun setelah film Birth of a Nation dirilis, pada 1920-an, pengikut KKK mencapai empat juta orang di seluruh AS. Griffith merekam sepenggal kisah KKK sebagai bagian dari sejarah budaya AS yang kelak berkembang menjadi Negeri Adidaya.
Bagian paling menarik, saat pasukan KKK menembus barikade tentara dan menggempur kota. Adegan kerusuhan, baku tembak, juga pasukan berkuda digarap secara mumpuni oleh Griffith. Secara visual, Birth of a Nation sungguh memikat dan legendaris.
(vga/vga)