Bimbim 'Slank' Mengaku Sudah Sowan ke Pihak Haji Lulung

Endro Priherdityo & Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 17/03/2015 17:10 WIB
Bimbim 'Slank' Mengaku Sudah Sowan ke Pihak Haji Lulung Kaka 'Slank' disomasi Lulung karena sindiran pedasnya. (Dok. Detikcom/Agung Pambudhy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Vokalis Slank, Kaka punya waktu dua hari untuk meminta maaf atas komentarnya terhadap Abraham Lunggana alias Haji Lulung. Itu tercantum dalam somasi yang dilayangkan mantan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta itu terhadap Kaka, Senin (16/3).

Ditemui di markas Slank, Gang Potlot, Jakarta, Selasa (17/3) Bimbim, drummer Slank menanggapi kasus itu dengan santai. Ia menyebut sindiran itu masih wajar, dan memang sangat bergaya Kaka. Bimbim mempercayakan pada sahabatnya itu.

Putra Bunda Iffet itu menambahkan, pihaknya tidak ingin ikut campur lebih jauh. Lagipula, kata Bimbim, ia mengaku telah bertemu dengan pengacara Lulung untuk bersilaturahmi dan bertukar pendapat. Namun, ia tak menyebutkan secara detail hasil dan proses pertemuan itu.


"Sudah ketemuan saya lawyer sama pihak pemuda. Silaturahmi saja sama tukar pikiran. Baik-baik saja," ujar Bimbim pada CNN Indonesia.

Namun di sisi lain, pengacara Lulung, Ramdan Alamsyah mengaku belum menjalin komunikasi apa pun dengan Kaka maupun personel lain Slank.

"Belum ada komunikasi apa-apa, belum ketemu," ujarnya menegaskan, saat dihubungi CNN Indonesia melalui telepon, Selasa (17/3). Ramdan menjelaskan bahwa somasi dilayangkan kemarin, dan batas akhirnya adalah esok. Pihaknya menuntut Kaka meminta maaf.

"Kalau tidak, ya besok Rabu kita laporkan," ucap Ramdan melanjutkan. Sejauh ini, belum ada konfirmasi langsung dari Kaka terkait itu.

Diketahui, sebelumnya Kaka bermasalah dengan Lulung karena mengomentari fenomena konfliknya dengan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan pedas. Kaka menyebut Lulung berbahaya, kurang smart, dan emosional.

Ia juga menunjukkan kaus bertuliskan "Lulung, Lulusan Pemulung". Menurut Kaka, sindiran memang dibutuhkan di Indonesia, karena kritik kadang tak mempan. Soal itu, Bimbim sepakat. Di matanya, kritik merupakan bagian dari kebebasan berpendapat dan pembelajaran demokrasi.

(rsa/vga)