Endro Priherdityo
Jurnalis CNN Indonesia kelahiran Jakarta, menyelesaikan studi di Institut Pertanian Bogor dan hobi mengomentari segala yang terjadi di sekitarnya.

Teruslah Bernyanyi dengan Kualitas, Mariah!

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 27/03/2015 16:15 WIB
Setelah era Marieh Carey, sepertinya kini menjadi seorang penyanyi wanita lebih instan. Tragis. Ia pun seakan tak punya pilihan lain. Endro Priherdityo (CNNIndonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Endro Priherdityo adalah wartawan di CNN Indonesia. Tulisan opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Saya teringat ketika pemutar musik Walkman masih menjadi tren kala dua dekade lampau.

Dengan yakin, saya memasukkan kaset penyanyi idola saya, Mariah Carey, memencet tombol play, kemudian terdengarlah suara merdu khasnya.


Bersuara indah, berwajah cantik, bersikap anggun, dan berpenampilan lugu, Mariah menjadi standar saya dalam memandang penyanyi wanita pada saat itu.

Mimi, panggilan singkat Mariah, pada Jumat (27/3) genap berusia 45 tahun.

Ia adalah penyanyi yang dianggap salah satu diva dunia paling sukses dalam dua dekade terakhir, dengan raihan dan rekor yang belum pernah dicapai oleh penyanyi wanita mana pun di era modern.

Tercatat, lebih dari 200 juta keping rekamannya terjual di seluruh dunia, sejak ia berkarier sejak tahun 1988 hingga hari ini.

Namanya berada di bawah sang Ratu Pop Dunia, Madonna, dan sejajar dengan seniornya, seperti Celine Dion, Whitney Houston, bahkan band legendaris Queen, dalam jajaran musisi terlaris sepanjang masa.

Mimi juga berada di bawah The Beatles dengan modal 18 lagu yang menempati puncak tangga lagu Billboard Hot 100, selisih dua lagu dari band legendaris itu.

Lima penghargaan Grammy, 19 penghargaan World Music Awards, 11 penghargaan American Music Awards, dan 31 penghargaan Billboard Music Awards telah Mimi koleksi hanya dalam dua dekade.

Juga tidak terlupakan dari Mimi adalah kemampuan vokal lima oktafnya yang langka serta suara lengkingan nada tingginya, yang disebut "songbird supreme" atau "whistle voice’" yang akhirnya tercatat di buku rekor Guinness World Records.

Mimi memang bukan penyanyi sembarangan.

Dulu ia bukan musisi wanita yang terkenal hanya mengandalkan dada atau bokong yang besar. Mimi memang seksi, tapi kemampuan vokalnya juga tidak kalah seksi sehingga membuat orang secara sadar memberikan standing ovation.

Album debutnya, Mariah Carey (1990) menjadikan Mimi menjadi salah satu penyanyi ikonik pada awal '90-an dengan lagu balada berjudul Vision of Love yang dramatis.

Dalam lagu ini Mimi mengenalkan lengkingan peluit yang memukau dan sempat diragukan keasliannya.

Ia pun membuktikan keaslian nada tinggi tersebut melalui acara MTV Unplugged pada 1992.

(Diolah dari Getty Images)
Kemunculan Carey yang bak komet Halley berhasil menjadikannya standar baru seorang penyanyi wanita, menggeser Whitney Houston dan Celine Dion.

Meskipun kedua penyanyi wanita itu telah eksis lebih dulu, namun tidak banyak yang menjadikan keduanya standar seorang diva.

Houston baru terkenal ke seluruh dunia setelah menyanyikan kembali lagu I Will Always Love You milik Dolly Parton yang menjadi soundtrack film Bodyguard (1992).

Sedangkan Celine berkat lagu My Heart Will Go On yang menjadi soundtrack film Titanic (1997).

Tapi Mimi? Ia dianggap diva bukan hanya dari kariernya sebagai penyanyi soundtrack.

Mimi resmi dianggap diva setelah dirinya pun ternyata sanggup menulis lagu All I Want for Christmas Is You, yang akhirnya menjadi "soundtrack" Natal di seluruh penjuru dunia dan tercatat sebagai salah satu lagu terlaris sepanjang masa.

Begitu pun dengan lagu One Sweet Day yang ia tulis dan nyanyikan bersama Boyz II Men, menjadi lagu terlama di dalam sejarah Billboard Hot 100.

Namun Mimi tetaplah seorang wanita.

Bak kutukan, pada era 2000-an keberhasilan wanita yang masih berdarah Venezuela ini dibayangi oleh berbagai permasalahan, mulai dari konflik dengan label rekaman hingga dua kali kegagalan rumah tangga.

Dikabarkan, akibat masalah yang tak kunjung usai dan datang silih berganti itu membuatnya mengalami depresi hebat dan harus menjalani terapi kejiwaan sehingga ia harus vakum berkarier.

Sosok lugunya pada awal 90-an pun seakan sirna. Penampilannya menjadi sedikit murahan.

Namun, seperti lagunya yang berjudul Through the Rain, Mimi tetap percaya akan ada pelangi setelah hujan datang.

Ia terus berusaha menunjukkan eksistensinya sebagai diva yang ia perjuangkan sebagai cita-cita awalnya, walau di tengah jalan beberapa ada yang gagal.

Mulai dari mengeluarkan album baru berjudul Emancipation of Mimi yang lebih R&B agar terdengar lebih "muda" hingga mengeluarkan merk parfum yang gagal laris.

Mimi sadar pasar telah berubah. Banyak penyanyi baru bermunculan, terutama yang lebih erotis dari dirinya.

Setelah era Mimi, sepertinya kini menjadi seorang penyanyi wanita lebih instan. Tragis.

Mimi pun seakan tak punya pilihan lain untuk tetap bertahan, selain mengikuti hukum ekonomi kapitalis alias keinginan pasar.

Sudah mengorbankan idealisme, tapi tetap saja dalam sepuluh tahun terakhir Mimi tidak sejaya sebelum milenium berganti.

Ia kini tak lebih dari seorang tante genit yang terseok-seok mencoba untuk tetap menarik kaum muda dengan mengandalkan tubuhnya yang sintal.

Vokalnya juga tidak lagi seprima dahulu.

Sifat "diva"-nya pun sering menjadi pergunjingan, seperti sering telat dan terlalu banyak permintaan.

Mungkin Mimi tidak lagi mempunyai Walkman karena ia seolah lupa pernah menyanyikan lagu berjudul Hero, lagu yang bertema agar tidak pernah takut menjadi diri sendiri.

... Lord knows, dreams are hard to follow, but don't let anyone tear them away.
Hold on, there will be tomorrow, in time you'll find the way...
(Hero, 1993)


TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK