Mencoba Mengulang Sukses 'Bulan di Atas Kuburan'

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2015 14:00 WIB
Mencoba Mengulang Sukses 'Bulan di Atas Kuburan' Bulan di Atas Kuburan bercerita tentang tiga perantau Batak di Jakarta. (Dok. MAV Production, Sunshine Pictures dan Firebird Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sapa suru datang Jakarta, sapa suru datang Jakarta

Jangan lagi mengeluhkan Jakarta yang panas, macet, banjir, dan serba mahal. Hidup di kota besar memang penuh dinamika sosial yang kompleks. Jika niat mengadu nasib, berjuanglah dengan segala cara. Sebab seperti kata Melky Goeslaw: siapa suruh datang ke Jakarta?

Terbekap di tengah arus urbanisasi ke Jakarta, adalah tiga sahabat dari Pulau Samosir. Sabar, Sahat, dan Tigor. Sabar lebih dahulu menginjakkan kaki ke Jakarta. Ia lalu menjanjikan kenikmatan hidup dengan rupiah lebih. Tigor yang sehari-harinya menyopiri angkot, tergiur merantau. Ia mengajak Sahat.


Ternyata, Jakarta tidak seindah yang diimpikan. Sahat dan Tigor harus berjuang untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Itu tidak mudah. Tigor terjerumus ke premanisme. Sementara Sahat bergelut dengan nurani dan ambisinya menjadi penulis yang terkenal.

Mereka mencoba mencari bulan masing-masing, dengan jalan yang berbeda-beda.

Sabar, Sahat, dan Tigor adalah secuil cerita perantau di Jakarta. Tahun 1973, sutradara Asrul Sani yang meramunya menjadi sebuah film berjudul Bulan di Atas Kuburan. Persis seperti isi sajak pendek Sitor Situmorang, Malam Lebaran, yang banyak diperdebatkan.

Sama seperti Sabar, Sahat, dan Tigor, Situmorang seorang perantau. Tapi tak ada yang berani menyimpulkan bahwa sajak Malam Lebaran adalah tentang seorang perantau, selain Asrul Sani. Sajak yang hanya berisi sebaris kalimat itu jadi perbincangan karena absurditasnya.

Sebagian menilai pikiran Sitor meracau karena melihat bulan di malam lebaran adalah mustahil. Sebagian lagi menafsirkan sajak itu dengan sudut pandang agama, bahwa kebahagiaan akan menindas penderitaan kala lebaran tiba. Bulan jadi simbol bahagia, sementara kuburan adalah perlambang angkara murka dan petaka.

Namun Asrul Sani mengejewantahkannya secara berbeda. Ada sebuah kisah utuh yang ia tampilkan, lewat fenomena urbanisasi yang pada tahun itu membanjiri ibu kota. Ternyata hingga kini, bertahun-tahun kemudian, fenomena yang sama masih membuat sesak Jakarta. Bulan di Atas Kuburan pun dirasa masih relevan.

Salah satu adegan Bulan di Atas Kuburan. (Dok. MAV Production, Sunshine Pictures dan Firebird Films)
Karena itu sutradara Edo WF Sitanggang menggarap kembali film itu. Situasinya dibuat lebih modern, dengan karakter baru dan penyesuaian kondisi masa kini. Artisnya pun lintas generasi, tidak hanya pemain tua. Rio Dewanto menjadi Sahat, Donny Alamsyah sebagai Tigor, dan Tio Pakusadewo menjadi Sabar.

"Ada juga Adi Kurdi, Ray Sahetapy, Mutiara Sani, Meriam Belina, Andre Hehanusa," ujar Atiqah Hasiholan yang juga salah satu pemain Bulan di Atas Kuburan, saat berkunjung ke kantor CNN Indonesia beberapa waktu lalu.

Tim Produksi juga melibatkan satu pemain lawas yang dekat dengan naskah awal Bulan di Atas Kuburan, Mutiara Sani. Ia yang mengetik skenario Bulan di Atas Kuburan sementara Asrul Sani melampiaskan pikirannya dengan berbicara.

Tim Matindas, produser Bulan di Atas Kuburan menjamin film kali ini tidak sama dengan buatan Asrul Sani terdahulu. Penulisan naskahnya saja tidak berdasarkan pada film yang lama. Dirmawan Hatta, sengaja tidak menonton filmnya terlebih dahulu. Para pemain pun hanya disuguhi sekali sebelum reading.

Meski begitu, mereka mengaku tidak terbebani. "Hanya merasa ada sedikit tanggung jawab. Karena lahir dengan keluarga sastra, besar di lingkungan sastrawan, dan ini diangkat dario karya sastra," Rio Dewanto menuturkan.

Yang membuatnya sedikit "terhibur", film Bulan di Atas Kuburan dibuat bukan untuk menggurui. Film itu tidak ingin menyadarkan para perantau soal fakta urbanisasi, melainkan hanya memberi gambaran soal apa yang sebenarnya ada pada buaian orang tentang kehidupan metropolitan.

"Saya juga lelah kalau harus menonton film yang menggurui. Ini hanya memberikan potret realitas yang terjadi di Indonesia, supaya kita punya lebih banyak pilihan," ujar Rio.

Menyuguhkan tema yang tak lekang masa, menggarap kembali film yang pernah sukses di masanya, dan menggandeng aktor aktris ternama, tentu Bulan di Atas Kuburan menjadi pertaruhan bagi karier Edo, yang baru pertama menggarap film. Namun, semangat muda sutradara 30 tahun itu untuk kembali mendaur-ulang film lawas, patut dinanti. Bulan di Atas Kuburan rencana tayang di bioskop pada 16 April mendatang.

(rsa/utw)